Awal baru dari Setetes Kenangan Terindah
Salama. Ya Salama. Itulah namaku
yang kian disebut-sebut sebagai siswa teladan SMA Negeri 2 Watampone Tahun
2010. Ini merupakan hal yang sangat luar biasa karena orang sepertiku tak
jarang mendapat cemoohan orang banyak tapi kini tengah menginjakkan tahta
sebagai Siswa teladan.
Selama dua bulan lamanya aku
digenjot untuk mengikuti kontes akbar seleksi Siswa Teladan Se- Kab. Bone.
Diriku yang hanya berlatarbelakang sebagai salah seorang penghuni Panti Sosial
Anak Asuhan Seroja tak pasrah dengan keadaan. Melainkan berjuang terus meski
air mata selalu menemani disetiap derap langkah ini. Kesempatan ini aku jadikan
batu loncatan untuk terus menjejaki langkah suksesku.
Selaku Ketua I PMR Unit SMA
Negeri 2 Watampone, Ketua Koperasi Siswa, dan Wakil Ketua Osis, akupun tak lupa
akan tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan tugas sebagaimana mestinya.
Wajah hitam, dekil, fostur pas-pasan tak menjadi penghalang bagiku untuk terus
berkreasi. Meski ejekan si KUTILANG DARAT alias Kurus Tinggi Langsing Dada
Rata kini melekat padaku, ya nikmati
ajalah. Dalam hatiku berdoa, semoga itu merupakan sebuah motivasi terindah
dalam lika-liku kehidupanku.
Hari ini, April 2010 tepatnya di
SMA Negeri 4 Watampone. Saat dan tempat dimana aku harus bertemu dengan teman-teman
Siswa Teladan dari seluruh pelosok Kab. Bone. Resah dan gelisah terus
menghantui, ya wajarlah aku selalu minder bertemu dengan orang baru. Apalagi
dengan wanita, aku selalu tertunduk malu dengan mata terpejam bukti kerendahan
diriku. Itulah segelintir kekuranganku menghadapi orang banyak.
Jantung mulai berdebar kencang.
Kami ditempatkan di ruangan kelas bersama para siswi. Dalam hatiku pun mulai
putus asa akan tak mampunya diriku berdiri dengan percaya diri ketika
berhadapan dengan wanita.
Kring kring kring kring…
Bunyi bel sekolah, menunjukkan
waktu pelaksanaan seleksi akan segera dimulai.
“Anak–anakku, kalian akan dibagi
menjadi dua tempat karena waktu yang cukup singkat, sehingga para siswa akan
berpidato dan para siswi akan tes komputer terlebih dahulu” Ucap salah seorang
panitia pelaksana.
Dengan hembusan napas pendek
akupun mulai lega. Hanya hitungan jari, terdengarlah suaraku disebutkan
diurutan pertama untuk berpidato Bahasa Inggris membuatku kaget setengah hidup.
Dengan penuh percaya diri dan dorongan semangat dari ibu/bapak guru
pendampingku kulangkahkan kaki dengan pelan tapi pasti seraya tak ada keraguan
dihatiku. Yakinku dalam hati, aku pasti bisa.
Akhirnya semua berjalan lancar,
dan saat itu juga aku memberanikan diri untuk berkenalan dengan salah seorang
teman yang kayaknya cukup ramah.
“Hai, namaku Salama dari SMA
Negeri 2 Watampone. Dari SMA Negeri 1 Lamuru ya..?” Ujarku dengan nada rendah.
“Oh iya. Kenapa..? Namaku Sulham”
balasnya dengan senyuman di ujung bibirnya.
“Aku duduk terpaku merenungi nama
itu, tertunduk dan teringat akan kenangan nama itu. Sebuah nama yang
mengingatkanku terhadap kenangan masa lalu yang amat memilukan dan kini kian
jauh dariku dan tahu entah dimana. Seraya sosok nama itu kini hadir membawa
awal yang baru untukku.”
Aku memulai perkenalanku dengan
menanyakan beberapa teman yang dari Lamuru yang beberapa saat lalu pernah
bertemu dalam perkemahan Palang Merah di Lanca dan Jumbara PMR. Dengan mulai
mengakrabkan diri, kumulai bertanya tentang rekannya yang menjadi Siswi Teladan
dari sekolahnya.
“Rara. Dia adik kelasku.” Katanya
dengan Singkat.
“RARA..??!!!?!#%$^*)*&(^@”
Kataku heran dengan penuh ekspresi.
Sulham yang kelasnya setingkat
denganku pun heran dengan ekpresiku yang agak aneh dengan tersebutnya nama itu.
Namun, kumulai diam dan tersenyum untuk mengakhiri perbincanganku terhadapnya.
Seketika aku duduk terpaku
merenungi nama itu, tertunduk dan teringat akan kenangan nama itu. Sebuah nama
yang mengingatkanku terhadap kenangan masa lalu yang amat memilukan dan kini
kian jauh dariku dan tahu entah dimana. Seraya sosok nama itu kini hadir
membawa awal yang baru untukku. Diriku larut dalam lamunan dan tak menyadari
air mataku menetes membasahi tangan ini. Sungguh cengeng seorang Salama ucapku
dalam hati namun apa daya aku juga manusia yang punya perasaan dan masa lalu.
Namun dengan cekatan aku langsung berlari menuju toilet untuk mencuci muka yang
agak kusut. Dengan salah satu tangan menutup muka, kuberlari menuju toilet yang
berada tak jauh dari ruang kelas. Dengan sejuta rasa kaget aku bertemu dengan
teman Sulham yang kelihatannya pemalu dan pendiam. Aku hampir menabraknya yang
mengenakan seragam sama persis dengan Sulham. Aku mulai melambatkan lariku dan
sejenak memperhatikan wajah Indah dan mungil itu. Dia mengangkat lengan
kanannya menyapu debu diwajahnya membuatku membelalakkan mata. Subhanallah Ya
Allah sungguh anggun ciptaan – Mu.
Namun semua berlangsung sekejap
karena waktu pelaksanaan seleksi akan berlanjut. Setelah bersih–bersih aku pun
mulai berfikir akan kelanjutan seleksi itu. Konsentrasi pun mulai terbuyarkan
setelah bertemu dengan seorang gadis dari SMA Negeri 1 Lamuru yang bernama
Rara. Ya seorang wanita yang namanya nggak jauh beda cantiknya dengan orangnya.
Beberapa jam berlalu hingga usai
waktu seleksi pun selesai. Alhamdulillah hasilnya pun langsung diumumkan.
Meskipun tak sesuai dengan yang aku harapkan tapi telah sesuai dengan hasil
jeri payahku ketika berada diurutan ketiga.
Namun, yang paling kusesali
adalah belum sempat berkenalan dengan sosok misterius, Rara yang nama aslinya
pun nggak sempat kuketahui. Yang begitu anggun dan penuh wibawa. Dan tentunya
yang selalu terbayang dipikiranku tentangnya hanyalah secercah senyuman menawan
dari wajah cantik itu. Dan juga lengan kokoh wanita tangguh yang terlingkarkan
oleh gelang karet kecil berwarna hitam yang menyingkap debu usil diwajahnya.
Sejak hari itu, aku mulai
menyadari bahwa Tuhan memang Maha Segala – Nya. Memberikan apa yang kita
butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Setiap hari kujalani dengan penuh
penasaran akan gadis yang bernama Rara itu. Aku terus mencari tahu tentangnya,
namun nihil hasilnya karena domisiliku hanya di daerah Bone Kota sedangkan
tempat tinggalnya di Bone Barat sana. Hanya seorang teman yang kebetulan
mengajar di sekolahnya sesekali aku tanyai. Mungkin dengan angin rindulah aku
hendak sampaikan kepadanya tentang isi hatiku ini. Bahwa aku kagum kepadanya.
Kini… Keseharian aku lalui dengan
penuh kesendirian ketika memutuskan tinggal di Sekolah untuk menghemat waktu.
Aku dipercayakan tinggal sebagai penjaga sekolah karena tak mampu pulang balik
jalan kaki dari panti asuhan setiap hari yang penuh dengan jadwal bimbingan
belajar. Dan tidak kusangka terasa bayangan gadis itu mulai sedikit demi
sedikit hadir menemaniku. Berbagi suka duka dan menjadi motivasi akan bertemu
dengannya suatu saat nanti dengan jubah kesuksesan.
Kurang lebih 1 tahun lamanya menghabiskan
waktu sebagai penjaga sekolah, bergulat dengan kejamnya dunia. Akhirnya tiba
diujung tombak masa pendidikan 12 tahunku yaitu aku dinyatakan lulus. Bukan
hanya itu, bahwa peringkat 1 umum putra dan urutan 5 dari umum putri telah
terpancang gagah diprasasti prestasiku yang terukir sejak awalku mengecam dunia
pendidikan. Dan ini kupersembahkan untuk semua orang yang aku sayangi dan
tentunya terhadap sosok misterius itu. Yang tanpa terasa sekian lama terus
membuatku penasaran dan membuatku termotivasi kelak akan bertemu dengannya.
Malam itu, malam pembagian jubah
kebesaran akan peringkat dan prestasi terbaik. Merupakan momen luar biasa dalam
perjumpaan terakhir bersama para guru dan teman sebelum berangkat menuju jalan
kehidupan masing - masing. Namun, sungguh amat besar kesedihanku ketika tidak
bisa hadir karena nggak mampu bayar uang kegiatan itu sebesar Rp. 50.000,00.
Jauh – jauh hari aku sudah memutuskan kembali ke kampung untuk meminta uang
dari orang tua. Namun apalah daya semua tidak bisa dipaksakan, aku mulai
menabung tapi tak kunjung cukup. Sehingga aku pun memutuskan untuk tidak hadir.
Pagi yang cerah itu,
kumerenungkan betapa kecewanya orang – orang yang kusayangi dan Rara karena
nggak bisa mengumandangkan ukiran prestasi itu diatas singgasana podium
kebanggaan. Terhentak dan tersadar getar Handphoneku membuyarkan renungan itu,
ternyata teman dari palang merah mengajak untuk melaksanakan perkemahan di Bone
Selatan.
Dengan bermodalkan motor pinjaman
serta peralatan kemah seadanya, aku berangkat menuju kegiatan tersebut di
MA/MTs Nusa Kahu. Akupun melewatkan malam itu di lokasi perkemahan Bone
Selatan. Beberapa hari dalam kegiatan itu Alhamdulillah dipenghujung
kegiatan mendapatkan uang jalan. Dan
memutuskan melanjutkan perjalananku menuju Lamuru, untuk sejenak tahu letak SMA
Negeri 1 Lamuru dan ingin mengobati kerinduan itu walau hanya lewat angin rindu
di Lamuru.
Rekan pun tidak banyak tahu
tentang keberangkatanku kesana karena aku beralasan mau tahu jalan ke Bone Kota
lewat Lapri. Jadi kamipun berpisah dengan harapan aku bisa mengetahui jalan.
Dua jam terasa singkat ketika
melewati perjalanan yang cukup menantang. Dan akhirnya sampai juga aku injakkan
kaki ini ke SMA Negeri 1 Lamuru yang Nampak sepi. Hanya depan gerbang kududuk
di atas motor belalang tempur ini dengan perasaan menggebu-gebu. Kucoba membuka
kontak handphoneku berharap masih ada tersimpan nomor teman-teman jumbara.
Sialnya nomor itu ada sama handphone adikku. Setelah aku hubungi ternyata tidak
aktif ya jadi hanya sekedar hadir melihat situasi sekolah yang membentuk
karakter para siswa (i) menjadi generasi bangsa yang berkompeten.
Meskipun tidak ada yang bisa aku
hubungi untuk tahu tentang Rara. Tapi aku cukup bahagia karena telah ada di
tempat orang yang bisa dikatakan kagum padanya disaat pandangan pertama.
Senyuman itu, wibawa itu, dan tentunya kecerdasan yang beliau miliki.
Aku pun menengok ke segala arah
memastikan tak ada orang sedang mengawasiku. Kemudian kumulai memejamkan mata
ini, dalam hati aku memohon semoga kedatanganku kesini bukanlah yang pertama
dan terakhir melainkan yang pertama dan seterusnya sampai kutahu sosok
inspirasi itu. Ya kira-kira sampai kutemukan kunci pintu hatinya yang mungkin
terbilang mustahil terbuka untuk orang sepertiku, amin.
Aku pun tersenyum dengan semua
ini, nggak nyangka bisa sampai juga di tempat seseorang yang sedikitpun aku
nggak kenali namun terus membuatku penasaran. Tapi kelak aku pasti akan tahu
kalau kemauan ini terus bertahan dan tumbuh.
Beberapa bulan berlalu..
Sampai pada akhirnya kegiatan
Invitasi PMR di Taretta. Saat itu karena sibuk mengurusi adik-adik SMADA
sehingga tidak menyadari bahwa kontingen SMA Negeri 1 Lamuru sudah datang
mendahului kami. Hari demi hari berlalu di lokasi perkemahan aku hanya aktif
mendampingi adik-adik yang Pembina lagi kuliah di Makassar. Malam terakhir barulah
aku menyadari dari kejauhan kumelihat sosok yang tak asing dipelupuk mata ini.
“Sambutan ramah dari semua teman
SMA Negeri 1 Lamuru menghangatkan suasana apalagi dari keremang-remangan malam
itu menambah keromantisan suasana. Aku hanya bisa menatap wajah cantik itu
dengan sinaran redup lampu pijar di belakang area perkemahan. Kini dia berdiri
tepat di hadapanku dengan bedak tipis dipipi merona itu.”
Rara. Ya Rara. Tidak salah lagi.
Yang selama ini aku cari-cari ternyata telah ada bersamaku disini di bumi
perkemahan Taretta. Aku pun nggak tahu cara menjumpainya. Malu, takut, rindu,
penasaran, pokoknya ambur adul deh perasaanku malam ini. Wah kayak gado-gado
aja nih jadinya, ambur adul tapi enak banget
loh.
Nah akhirnya aku punya ide untuk
bersilaturahmi kesemua kontingen yang ikut dalam perkemahan ini. Mulai dari
tingkat madya terus ke tingkat wira. Setelah berkeliling memimpin adik-adik PMR
SMADA akhirnya sampailah kepada tempat yang sudah kunanti-nanti dan tentunya
bertemu dengan orang yang selama ini terus hadir dalam mimpi-mimpi indahku.
Sambutan ramah dari semua teman
SMA Negeri 1 Lamuru menghangatkan suasana apalagi dari keremang-remangan malam
itu menambah keromantisan suasana. Aku hanya bisa menatap wajah cantik itu
dengan sinaran redup lampu pijar dari belakang area perkemahan. Kini dia
berdiri tepat dihadapanku dengan bedak tipis dipipi merona itu.
Dengan lancarnya aku membuka
perbincangan kunjungan malam ini dan tak
sedikitpun melepas pandangan itu seraya meraba inchi demi inchi keindahan ciptaan
Tuhan ini.
Waktu bersamanya terasa selalu
begitu singkat, akhirnya tiba waktu untuk ramah-tamah. Teman-teman mulai
menyeruduk dari belakang hendak ramah tamah terus bergegas kembali ke tenda
mengingat waktu sudah larut malam. Aku pun tak menyadari apakah tangan indah
seorang Rara sempat aku sentuh atau tidak karena tiba-tiba salah seorang adik
sedang kesurupan di tenda. Akupun segera meninggalkan kontingen mereka menuju
tenda kami.
Keesokan harinya. Semua kegiatan selesai
dan satu persatu tenda mulai terbaring hendak kembali keperaduannya. Kami belum
bergerak melakukan pembongkaran karena mobil akan datang terlambat. Aku yang
duduk terdiam memandangi semua personil SMA Negeri 1 Lamuru tengah sibuk
mempersiapkan kepulangannya. Akhirnya mereka menghampiri kami untuk ramah-tamah
kembali. Hah..???? sungguh kaget setengah hidup seorang Rara menghampiri dan
bersalaman denganku. Sungguh tangan yang sangat eksotis, membuat perasaan ini
terasa melayang ke angkasa luas, seketika kumerasa angin rindu telah menyaksikanku
dibalik awan dengan kedipan matanya dan membisikkan “Jagalah hatimu untuknya”.
“Inilah dia orang yang selalu
kunanti-nanti” Ucapku sebelum menggapai tangan itu.
“Iya dong. Rara emang selalu
dinanti-nanti” jawabnya dengan penuh candaan dan senyuman hangat yang
menggetarkan hati setiap orang yang memandangnya.
Aku mulai memperjelaskan wajah
cantik itu, dengan aksesoris yang sungguh menawan. Mata, hidung, senyuman,
pokoknya aku kagum dengan semua apa yang ada padanya. Ra, tahukah engkau Rasa
kagum itu kini berubah menjadi cinta. Ya aku jatuh cinta sama kamu Rara. Ucapku
dalam hati kecil ini. Karena cinta diperuntukkan bagi siapa pun yang patut
menerimanya. Sebab cintai mulai bersemi didalam kalbu yang paling dalam yang
tidak pernah dialami sebelumnya, laksana benang baja yang diikat dua pasak.
Lambai melambai tangan dari atas
truk yang mengangkut kontingen SMA Negeri 1 Lamuru mulai meredupkan suasana
hatiku yang lagi dilanda kasmaran sungguh bahagia teramat sangat. Oh Tuhan,
terima kasih atas rasa yang telah engkau berikan. Perasaan sedih pun melanda
dan kumulai membalas lambaian itu, ungkapan senyuman dari semua teman-teman
diujung keberangkatan truk megah itu memberi secercah harapan bahwa ini
bukanlah akhir dari segalanya.
Semenjak saat itu kutelah
mendapatkan nomor handphonenya. Perasaan menggebu-gebu itu selalu hadir dan
mendamaikanku ketika ingatan selalu mengintip dibalik angin rindu kepada sang
idola hati, Rara. Kumulai menaruh perasaan istimewa itu kedalam brangkas hati
kecilku yang tak seorang pun tahu. Kubingkai dengan ketulusan hati, penuh
dengan pengharapan, terkunci dan tercover dengan seksama berharap akan tetap
awet dan tidak ada orang lain yang mengisinya.
“Cinta diperuntukkan bagi siapa
pun yang patut menerimanya. Sebab cintai mulai bersemi didalam kalbu yang
paling dalam yang tidak pernah dialami sebelumnya, laksana benang baja yang
diikat dua pasak.”
Sungguh perasaan yang sulit untuk
dibendung. Sosok yang cerdas, organisator, stylish, pokoknya pas kena dihati
ini. Setiap saat hanya kutitip kerinduan ini lewat angin rindu. Terkadang
diwaktu senggang kuberangkat dengan penuh kesendirian ke puncak gunung untuk bertatapan
langsung dengan sang angin rindu, mencurahkan seluruh isi hatiku. Berteriak
sekencang-kencangnya hingga larut malam sampai air mata kerinduan ini menetes
dipipi akan segala keterbatasanku yang tak mampu menggapai seorang Rara untuk
ada disampingku. Ataupun ke pelabuhan Bajoe bertemu dengan goresan aksesoris
Tuhan, dan turut bersamaku angin rindu bertiup membelai tubuh yang rapuh ini.
Semua waktu senggang aku habiskan untuk blak-blakan dengan angin rindu tentang
keanggunan sosok Rara. Dan meratapi kenangan terindah bersama Rara (Rahma) yang
kini telah menjadi kekasih halal orang lain.
Kini pengumuman jalur undangan
telah dibentangkan di dunia maya. Aku yang mendaftarkan profilku di UNHAS pada
Fakultas Kesehatan Masyarakat dan Tehnik Arsitektur, sedangkan di UNM pada
Fakultas Matematika dan PGSD Bone. Ya alhamdulillah dengan bermodalkan nilai
rapor, aku lulus di PGSD Bone dengan beasiswa Bidik Misi sampai selesai kuliah.
Meskipun tak sesuai keinginanku aku tetap tabah dengan semuanya dan harapan
besarku melanjutkan pendidikan dikutub pendidikan Sulsel yaitu di Makassar usai
sudah karena tidak lulus dan untuk mengikuti tes SNMPTN aku pun tak sanggup
karena tidak adanya dukungan orang tua. Kedua orang tua yang hanya lulusan SD
pun hanya menuntutku bekerja, namun aku terus meyakinkan mereka tentang arti
sebuah pendidikan dan aku menginginkan itu untuk masa depanku.
Tuhan pasti sudah mempunyai
rencana yang terbaik untukku. Mungkin karena aku anak pertama dari 3
bersaudara, keluarga di kampung masih menginginkanku hadir setelah 6 tahun
tidak bersamanya. Ibu yang tengah menitipkanku ke panti asuhan karena
ketidakmampuan keluarga membiayai sekolahku kini mulai mengharapkanku hadir
menjaga mereka ditengah kerentanan ayah yang menginjak usia 82 tahun.
Aku pun mulai sadar, inilah
rencana sang Khaliq. Aku yang masih punya kehidupan di Palang Merah, Pramuka,
Pencinta Alam, Seni dan budaya di Bone membuatku termotivasi untuk bertahan
dengan keputusan yang menghampiriku. Apalagi PMI masih bisa berangkat
melaksanakan perkemahan ke sekolah-sekolah, dan satu sekolah yang paling
kuinginkan untuk kukunjungi adalah SMA Negeri 1 Lamuru. Ya maklumlah ada
seseorang sangat ingin aku temuin. Rara, dialah orangnya.
Kalau boleh jujur aku hobby
dikesehatan jadi sangat menginginkan kuliah dikesehatan pula namun apa daya
ekonomi tak memungkinkan dan tak terduga pada saat itu juga aku mendapatkan
tawaran dari rekan yang bekerja di Dinas Kesehatan Kab. Bone untuk mengemban
kampus di Bone jurusan FKM, Farmasi, Kebidanan dan keperawatan. Ya dengan
beberapa hari memikirkan hal tersebut aku memutuskan untuk memilih jalanku
sendiri dan membangun dari awal karirku di Fakultas Kesehatan Masyarakat dan
membatalkan beasiswa dari UNM-PGSD. Satu catatan yang terpenting dalam hidupku
saat itu bahwa hidup merupakan pilihan dan jangan pernah menyesal dengan
pilihan tersebut serta seperti apapun suatu pekerjaan harus dilandasi dengan
ketenangan, kesenangan dan kedamaian dalam melaksanakannya. Karena percuma aku
di PGSD kalau hanya untuk mencari nama dan tidak menimbulkan kesenangan dalam
hidupku dan tentunya akan membawaku dalam penyesalan dimasa depan.
Saat menjelang pendaftaran ulang
di PGSD ada panggilan pertemuan Saka Bakti Husada di Dinas Kesehatan Provinsi
dan mendapatkan rekomendasi untukku dapat menjadi Tenaga Penyuluh kesehatan di
Puskesmas tempat tinggalku di Palakka. Sehingga, aku memutuskan untuk
melanjutkan kuliahku di FKM yang bermitra dengan Universitas Patria Artha
Makassar. Sehingga dengan seketika pula berjamuran semua teman-teman, guru-guru
mencemooh pilihanku yang katanya sangat bodoh. Saat itu aku dicap sebagai orang
terbodoh di dunia karena telah menyia-nyiakan kesempatan beasiswa dan bebas tes
di PGSD.
Dengan senyuman kecut dibibirku,
kumulai berbalik membelakangi semua orang yang terus merendahkanku. Aku memang
orang rendah sejak TK sampai saat ini namun semua adalah pilihanku yang
membuatku senang dan bahagia. Inilah aku, aku akan jadi diriku sendiri. Kan
kujadikan semua cemoohan itu sebagai cover awal karirku sebagai motivasi
hidupku. Memang sejak masuk di MTsN Watampone orang tua memang sudah lepas
tangan terhadapku. Sehingga tidak tahu sekolahku dimana, tempat keseharianku,
pokoknya banyak namun satu hal terpenting bahwa kalau pulang kampung baru aku
bercerita semua tentangku.
Kini aku sudah menjalankan
kuliahku dalam suka duka berharap aku yang sebagai angkatan pertama sekaligus
anggota pengelola sedikit demi sedikit akan merintis dan membuktikan bahwa
mereka salah telah melontarkan cemoohan kepadaku. Dan kini telah berdiri
sendiri menjadi STIKES Mahakarya Watampone yang masih punya Mitra dengan
Universitas Kadiri Jawa Timur dan alhamdulillah aku pun terpilih menjadi ketua
MPM di kampus dan merilis terbentuknya Korps Sukarelawan.
Satu hal terpenting tak
henti-hentinya Rara dan Rara yang selalu kian kujadikan khayalan yang selalu
mendukungku dengan ingatan senyuman hangatnya itu. Yang telah ada dalam
brangkas hatiku. Yang senantiasa selalu aku rawat dan jaga karena wujud asli
itu belum saatnya aku miliki. Ya mungkin saja sekarang sosok itu dan hati itu
masih ada yang miliki.
Oh iya, satu hal yang menonjol
dari seorang Rara yaitu dia demam Korea. Mulai dari lagu, artis, sampai dengan
bahasanya. Ini aku dapat info dari teman yang kebetulan juga terbilang pandai
berbahasa korea. Aku sih ngebayangin pasti Rara orangnya cute banget dengan
hobbynya itu. Siapa sih gadis yang nggak geregetan ketika melihat para
artis-artis Korea itu. Ya mungkin seperti itulah aku kepadanya meskipun aku
hanya terdiam karena kalau terlalu diungkit-ungkit entar cepat juga bosannya.
Nomor handphone udah ditangan tapi tetap aja takut ngehubungin ntar dia bilang
“siapa lo”..? tapi ya beranikan diri aja deh.
Ternyata aku salah, dia begitu
ramah dan bersahabat. Aku tak salah pilih meskipun agak sedikit cuek tapi
inilah tantangannya. Aku meminjam buku belajar bahasa korea secara autodidak
milik teman dan mengkopi semua rekaman-rekaman koreanya berharap bisa sedikit
menarik perhatiannya kepadaku. Seminggu telah kuusahakan sedikit tahu tentang
bahasa korea. Namun, hasilnya nihil karena semakin aku membaca dan mendengarkan
bahasa itu semakin membuatku pusing 7 keliling. Pikirku tak menyerah untuk
hanya sedikit menarik perhatian itu. Karena aku yakin aku juga punya kesempatan
dihatinya.
Tiba suatu hari dia mengirimkan
sms yang berbahasa korea namun sumpah aku tidak mengerti. Jadi aku memutuskan
menghubungi teman yang juga hobby berbahasa korea dan akhirnya aku bisa jawab.
Sebulan aku meminjam buku itu tapi tidak bisa juga. Ya aku memutuskan untuk
sejenak berhenti dan fokus dengan apa yang sedang aku jalani. Karena terbersit
dibenakku bahwa mungkin masih ada cara lain untuk bisa menarik perhatiannya
padaku. Aku jalani hari-hari penuh penantian akan harapan sedikit dia
menorehkan wajah cantik itu kepadaku. Berbagi senyuman, canda tawa, suka duka,
tapi untuk saat ini masih sebuah khayalan belaka. Angin rindu kian selalu bertopang
dagu menemani dan terus menemani kala kesendirianku, terus menjagaku dari
banyaknya cinta yang dangkal adanya.
Aku teringat suatu ketika aku
bersama kak Mardi dari melatih PMR di Bone Selatan. Kebetulan dia mengajakku
untuk singgah di Pantai Tete Tonra katanya siswanya dari SMA Lamuru lagi
mengadakan penelitian disana. Tanpa pikir panjang pun aku tak menolak ajakan
itu dengan harapan Rara yang selalu ada dikhayalanku kian ada disana dalam
wujud yang nyata. Sesampainya disana disambut hangat oleh Pak Nur Ilahi yang
merupakan Pembina PMR. Dan untungnya ada Cindra temanku dalam Jumbara PMR
tingkat Prov. Sulsel di Islamic Center Bone jadi nggak garing deh suasananya.
Dari kejauhan kupandangi seorang gadis yang menurut kata hatiku itu adalah
Rara.
Kacamata lebar berlensa bening
menambah keindahan mata itu. Tak sedikitpun mataku berkedip memandanginya. Tapi
sebaliknya dia tak sedikitpun memandangiku dan menolehku namun aku sadar
mungkin diriku tidaklah pantas dipandang olehnya.
Aku dan dengannya memang jauh
berbeda. Tapi aku bersyukur masih bisa menyaksikan sosok yang selama ini
kuimpi-impikan. Lagi-lagi pertemuan singkat yang sangat luar biasa membahagiakanku.
Sungguh indah rupawan sosok gadis yang bernama Rara. Bagiku keindahan bukanlah
bayangan yang diimpikan dan nyanyian yang selalu dirindukan melainkan keindahan
adalah bayangan yang terlihat di kala mata tertutup, dan nyanyian yang
terdengar dikala telinga tersumbat.
Aku tersadar dari lamunan indah
bersamanya yang selalu terasa sangat singkat. Saat ini silih berganti cinta
yang datang untuk membongkar brangkas hati itu. Namun, aku tidak pernah peduli karena banyak hal yang masih ingin
kucapai untuk semua orang yang aku sayangi utamanya keluargaku. Aku tidak mau cinta
yang datang itu membutakanku dan larut didalamnya dan membuat masa depanku
buram. Ya, apalagi Ibuku tuh paling tidak mau aku terlalu dekat sama seorang
gadis karena takut prestasiku rusak dengan pengaruh-pengaruh luar. Katanya aku
yang akan menjadi tiang dan ujung tombak keluarga kelak jadi harus berhati-hati
dalam melangkah dan memilih. Itu nasihat yang selalu melekat dihati dan pikiran
ini, oleh karena itu aku selalunya tertunduk dan terdiam ketika ada cinta
mengintai dari setiap celah-celah kehidupan.
“Keindahan bukanlah bayangan yang
di impikan dan nyanyian yang selalu dirindukan melainkan keindahan adalah
bayangan yang terlihat di kala mata tertutup, dan nyanyian yang terdengar di
kala telinga tersumbat.”
Satu hal yang membuatku risih
ketika teman-teman menganggapku Gay, utamanya teman-teman Pencinta Alam selalu
aja bawa gadis untuk dikenalkan kepadaku tapi tetap saja aku tidak mau. Apalagi
memang kalau di kampus, di La Tenritappu Institute, Palang Merah, Pramuka, aku
lebih banyak menghabiskan waktu bersama seorang laki-laki dalam berkegiatan
tapi aku pertegas dan meyakinkan kepada dunia bahwa aku masih normal dan aku
masih punya cinta yang tidak mau terkontaminasi dengan pergaulan bebas. Ya
jangan salah memang aku ini orang pendiam dan pemalu tapi masalah pergaulan dan
teman aku tidak mau ketinggalan mulai dari pemulung, tukang becak, preman,
pejabat, polisi, pokoknya banyak yang diajak akrab dan tengah belajar dari
semua kehidupan yang mereka jalani. Paling sering nih aku diajak merokok, minum
miras, sama teman-teman preman, apa aja sesuai dengan teman yang aku jejaki
namun bagi hal yang negatif tak jarang aku hanya tersenyum dan menolak dengan
penuh keramahan karena aku orang punya pendidikan dan tidak mau masa depanku
hancur hanya karena pergaulan yang nikmatnya sementara. Aku memang miskin, aku
memang menderita, tapi aku tidak mau mengakhiri hidup ini karena rokok, miras,
dan punya banyak musuh serta berbagai masalah dunia fana ini. Sehingga sejak
saat itu juga aku mulai menjauh dari mereka yang malah terus memojokkanku
dengan jalan hidup yang menjadi pilihanku.
Dalam anggapanku satu-satunya
orang tidak pernah bersalah adalah orang tidak pernah melakukan sesuatu. Maka
jangan pernah takut untuk bertindak dan salah, karena yang salah itu ketika
terus terjatuh dikesalahan yang sama, bukan soal jatuhmu yang penting tapi
bangkitmu. Sedikit kutipan singkat setiap hendak melakukan sebuah perubahan
dalam diri ini. Karena itu aku selalu mencoba dan terus mencoba hal baru
sehingga nantinya bisa tahu potensi diriku sebenarnya.
Awal bulan oktober sudah menjadi
awal pelatihan PMR di seluruh sekolah-sekolah yang punya PMR Unit. Mulai
berdatangan surat permintaan bantuan pelatih ke PMI Kab. Bone untuk meminta
fasilitator. Akupun yang terbilang masih baru menjadi fasilitator turut ikut
membantu ya sekalian mencari pengalaman dan mengisi waktu daripada hanya di
rumah terus menulis dalam ruang 4x4 meter bergelut dengan layar maya dengan
gerakan lentik tangan diatas tombol laptop titipan anak ayahku dari istri yang
lain.
“Satu-satunya orang tidak pernah bersalah
adalah orang tidak pernah melakukan sesuatu. Maka jangan pernah takut untuk
bertindak dan salah, karena yang salah itu ketika terus terjatuh dikesalahan
yang sama. Bukan soal jatuhmu yang penting, tapi bangkitmu.”
Diantara semua pelaksanaan kegiatan
perkemahan yang menjadi tujuanku hanya satu yang paling kunanti-nanti ya sudah
pasti di SMA Negeri 1 Lamuru. Tempat yang pernah kujejakkan kakiku dalam
pencarian jadi diri seorang idola yang asal usul sampai hari ini aku tidak
tahu. Akhirnya bukan sebagai pengisi waktu luang melainkan udah sebagai
rutinitas seorang relawan untuk terus turun menjadi fasilitator. Setiap hari
kamis sd. ahad harus menyiapkan waktu. Aku yang baru kali ini cukup penuh
dengan jadwal pelatihan kena batunya juga badan jadi tidak fit jadinya. Saat
itu rencananya malam tahun baru aku menginginkan ikut bersama kak Mardi untuk
ke acara tahun baru 2012 SMA Negeri 1 Lamuru dipuncak. Namun, apalah daya aku
juga terpilih menjadi pembawa acara malam tahun baru di baruga maccoppo tellu'E
Ponceng alias Kajao La Tenritappu. Jadi harus mengorbankan semua acara dulu di
malam tahun baru. Sungguh Kasihan nasib ini, cintaku penuh dengan lika-liku
yang mudah-mudahan dia tahu arti semua yang aku jalani.
Beberapa bulan berlalu tiba
dimana pendiklatan SMA Negeri 1 Lamuru akan dimulai. Hari itu kami baru saja
tiba dari kegiatan kemah di tellusiattinge dan langsung berangkat dalam acara
pembukaan meskipun tanpa mandi dulu. Kata kak Anong entar disekolah aja
bersih-bersihnya karena mobil pak sekretaris Markas sudah menunggu dan siap
berangkat. Ya akupun nggak menolak karena aku betul-betul sudah kangen berat
sama Rara. Namun nahasnya tak sesuai dengan apa yang kuharapkan ternyata dia
tidak ada saat itu, mataku tertuju meraba semua wajah yang ada dihadapanku tapi
tetap saja sinyal itu nggak ada. Ya mungkin inilah kisah cintaku yang susahnya
minta ampun, namun saat ini tak membuatku larut didalamnya karena aku tengah
berhadapan dengan adik-adik PMR dan akupun sedikit memberikan nyanyian berjudul
Pisang-Donat kepada para peserta.
“Ampar-ampar pisang, pisangku
pisang raja, walau berbiji tapi enak rasanya. Walau berbiji tapi enak
rasanya..” awal aku menyanyi dihadapan adik-adik seraya melupakan kegundahan
hatiku saat ini.
“Saya punya kue, kue Donat
namanya. Walau berlubang tapi enak rasanya, walau berlubang tapi enak rasanya.”
Sambungku mengingat hidangan kami tadinya adalah Donat Plus teh kotak.
Hari itu aku pulang dengan
sedikit senyum hangat dari adik-adik menggantikan senyum seseorang yang amat
istimewa dihatiku yang hingga kini enggan terbersit untukku.
Akupun kembali ke Markas PMI dan
karena sangat kelelahan sampai ketiduran di mobil dan tidak sadar sudah sampai.
Aku pun kembali ke rumah dengan semangat karena perasaan lelah itu terbalaskan
setelah dari berkunjung ke SMA Negeri 1 Lamuru dan sedikit istirahat.
Hari H pelaksanaan pendiklatan
PMR Unit SMA Negeri 1 Lamuru telah tiba. Sialnya bertepatan dengan Finalku di
kampus mana lagi aku sedang dilanda demam. Hari itu kak Mardi dan kak Anong
telah berangkat terlebih dahulu karena aku lagi dalam proses final Test
Biologi. Konsentrasi memudar saat kegundahan dalam hati melanda entah kira-kira
apa yang harus aku katakan ketika tiba-tiba bertemu dengannya. Ya dengan
bergandengan angin rindu aku meluncur menuju SMA Negeri 1 Lamuru bersama
headset ditelinga berirama lagu merdu nan penuh kisah kasih cinta menambah semangat perjalananku.
Demam itu terasa hilang seketika
mengingat ingin bertemu dengan seseorang yang selama ini aku kagumi, aku
sayangi. Aku selalu terpikirkan kapan ya Rara bisa menafsirkan maksud hati ini.
Kapan juga dia akan merindukan belahan jiwa ini dan berbisik kepadaku.
“Tuhanku yang Maha cinta,
mudah-mudahan dari semua jiwa baik yang kau anggunkan kehidupannya, ADA SATU
JIWA yang sangat mencintaiku, yang
memuliakanku, yang hidup untuk memelihara kedamaian hatiku, yang
memperhatikanku sebagai harta yang paling berharga baginya, yang berbahagia
mensetiakan hidupnya kepadaku, dan yang aku cintai dan muliakan sepanjang
hidupku, Amin.” Bisikan yang sangat aku inginkan darinya.
Tanpa aku sadari perjalananku
kayaknya sudah terlampau jauh karena aku sudah memasuki kawasan yang
bertuliskan Kab. Soppeng di tugu dekat jembatan tepatnya daerah Muttiara.
Untung kak Anong nelpon dan memanggilku kembali. Aku tertawa kecil dalam hati,
inikah rasanya lagi dilanda kasmaran dan ingin ketemu dengannya sampai nggak
sadar sudah kelewatan sampai sejauh ini.
“Tuhanku yang Maha cinta,
mudah-mudahan dari semua jiwa baik yang kau anggunkan kehidupannya, ADA SATU
JIWA yang sangat mencintaiku, yang
memuliakanku, yang hidup untuk memelihara kedamaian hatiku, yang
memperhatikanku sebagai harta yang paling berharga baginya, yang berbahagia
mensetiakan hidupnya kepadaku, dan yang aku cintai dan muliakan sepanjang
hidupku.”
Tak pernah kuukur kerinduanku
dengan pengukur berjubah bebintangan. Aku pun tidak pernah menghitung
kedalamannya. Sebab kutahu cintai akan mengantarai perhitungan ruang dan waktu
justru dikala cinta itu sendiri tengah dibaluri oleh madu-madu kerinduan.
Seuntai bisikan angin rindu dalam perjalanan ini. Tak kusangka akhirnya sampai
juga dan letaknya ternyata di belakang makam raja-raja lamuru. Ya sejenak
kuhembuskan napas lega dan mulai kulangkahkan kaki menuju lokasi perkemahan
penuh percaya diri dan tak lupa menitipkan motor di rumah salah seorang warga.
Suara riuh-riuhan dari kejauhan
terdengar layaknya pusat keramaian dan menandakan bahwa lokasi perkemahan tengah
ramai dengan adik-adik peserta. Wah, sialnya setelah sampai ke tenda yang telah
disiapkan tiba-tiba kepala ini terasa mau pecah. Sakitku kambuh ditambah lagi
maagku menjadi-jadi. Akupun berekspresi kecut dihadapan teman-teman. Kak Anong yang
antusias terhadapku langsung memberitahu kepada Pembina untuk membuatkan susu.
Ya susu. Kak Anong tahu aja hobbyku minum susu sekaligus obat juga buatku. Hem,
untungnya direspon baik jadi aku tertidur sebentar lalu sakitku sudah reda.
“Tak pernah kuukur kerinduanku
dengan pengukur berjubah bebintangan. Aku pun tidak pernah menghitung
kedalamannya. Sebab kutahu cintai akan mengantarai perhitungan ruang dan waktu
justru dikala cinta itu sendiri tengah dibaluri oleh madu-madu kerinduan.”
Malampun tiba aku sempat
berbincang-bincang dengan seorang siswa yang katanya letting dari Rara. Aku
menyempatkan diri bertanya sedikit banyak tentang Rara. Ditengah keseriusan
perbincangan tentang gadis idamanku itu, handphone berdering dan mendapat
panggilan bahwa hari sabtu akan ada final karena lagi-lagi dosen ada kegiatan
hari senin jadi final dimajukan lagi. Ya mau nggak mau aku harus pulang lebih
awal agar nilai-nilai tidak mampet.
Keeseokan harinya barulah Rara datang bersama temannya
Nisra dan Cindra. Terasa seperti mimpi, wanita yang terus hadir dalam mimpi
indahku kini ada dihadapanku dan bersamaku. Inilah kali kedua aku menyentuh
tangan itu. Aku merasa tidak mau melepaskan tangan ini karena aku sungguh jatuh
cinta padanya. Sekali lagi terucap dari
bibirku “inilah orang yang selalu dinanti-nanti”. Baginya mungkin hanyalah
candaan belaka namun tidak masalah yang penting dia masih bisa membelai lembut
hati ini dengan senyum manis dari wajah cantik menawan itu. Inilah cinta dengan
jubah kelembutannya, bertengger dihadapan kita, tapi terkadang banyak orang
malah melarikan diri darinya dalam ketakutan dan bersembunyi dalam kegelapan,
padahal yang lain mengejarnya demi memenuhi nafsu kejahatannya dengan
mengatasnamakan cinta. Ra, tidak adakah responmu untukku..?? Sekali lagi
perjumpaan singkat dan selalunya waktu bersamanya terasa begitu singkat.
Akupun kembali ke Bone untuk
mengikuti final test walaupun mata masih memerah akibat begadang semalaman
suntuk. Aku terus mengemban karirku dalam dunia kesehatan demi pemberdayaan
masyarakat yang mandiri dan berkeadilan. Melalui dari semua ini aku mulai
sedikit demi sedikit tahu dan mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari betapa
pentingnya sehat dikandung badan.
Akhir-akhir ini aku mulai aktif
di dunia maya untuk mencari akun miliknya, setiap aku berhadapan dengan dunia
maya hanya akun Rara, Rara dan Rara yang menjadi sumber pencarian. Memang atas
nama itu banyak tapi tidak ada yang pernah menyamai Rara yang tengah mengisi
relung jiwa ini. Setelah berusaha sekian lama akhirnya ketemu juga akun
facebook itu, hamparan wajah indah seorang Rara di dunia maya yang sungguh
anggun menawan namun tak lebih dari wajah cantik wujud aslinya. Bersama dengan
angin rindu kumulai tersenyum lega, sedikitnya telah tergambar jelas akan
keindahan sosok wanita ini. Ada apa denganku, aku sungguh terkesima dengan
dirinya tapi bagaimana dengannya ?
Tak terasa waktu berlalu begitu
cepat sampai tiba saatnya pengumuman ujian nasional diumumkan. Alhamdulillah
Rara lulus dengan peringkat juara umum di sekolahnya, sungguh kebanggaan yang
tiada tara darinya dan dari semua orang yang menyayanginya. Dan dengan prestasi
dia hendak melanjutkan ketingkatan yang lebih luas lagi antara ATKP (Akademik
Teknik dan Keselamatan Perkapalan) dan UNHAS.
“Cinta dengan jubah
kelembutannya, bertengger dihadapan kita, tapi kita malah melarikan diri
darinya dalam ketakutan dan bersembunyi dalam kegelapan, padahal yang lain
mengejarnya demi memenuhi nafsu kejahatannya dengan mengatasnamakan cinta.”
Perasaan bangga bercampur was was
karena dia akan semakin jauh dariku. Kini dia akan mengarungi samudera
kehidupan yang lebih luas lagi dan tentunya semakin banyak ombak yang akan
menerpa dan menghadang dalam perjalanannya. Aku terus berusaha menghubunginya
untuk meyakinkan bahwa aku sungguh mencintainya dan tidak mau kalau seandainya
aku akan kehilangan Rara untuk kedua kalinya. Siang kunanti malam jadi impian,
terlalu berlebihan tapi itulah kenyataannya. Sungguh indah sosok wanita itu
membuatku larut dalam lamunan cinta sehingga kutuangkan dalam sebuah tulisan
sederhana pengukir segelintir perjalanan hidup fana ini. Kini pun dengan
seketika kulayangkan pesan singkat untuk meminta izin mendownload potret
dirinya yang begitu anggun menawan. Rasanya aku tak pernah mendapatkan diriku
sebegitu bahagia, seperti saat jiwaku mengingat Rara terlebih memandangi potret
wajahnya.
Siang malam kukirim pesan singkat
dan telepon tapi toh tidak ada respon. Mungkin baginya aku hanyalah angin lalu
yang hanya sesekali bertiup membelai lembut diwajahnya. Dia tak pernah tahu aku
bukan sekedar angin tapi puting beliung yang sesekali datang dan kedatangan itu
punya kekuatan yang luar biasa untuk mendapatkan apa yang menjadi tekadku.
Aku mengerti akulah yang salah
aku terlalu cemas akan jauhnya dirimu dariku. Aku akui memang terlalu lebay, ya
aku akui karena aku cinta sama kamu. Aku hanya sekedar ingin tahu kamu lagi apa
?, sudah shalat belum ?, baik-baik aja nggak ?. Saat pertama aku menelpon
sungguh indah berbinar-binar suara gadis idamanku itu. Aku hanya terdiam dan
terus memasang telinga untuk mendengar jelas suara itu, karena aku sangat rindu
akan dirimu. Sungguh bahagia aku saat ini tengah diberikan kesempatan untuk
mendengarkan suara indah dan tertawamu itu. Namun yang aku dapat diujung
pembicaraan itu, “tidak apa-apajeki mengganggu asalkan bukanji pulsaku yang
habis”. Seketika aku berpikir itulah tanda ketidakpantasanku dimatanya. Terima
kasih aja atas semuanya,dan aku senang
kok dengan semua itu. Aku mulai sedikit tersadar dari tidurku dalam belaian
angin rindu.
Segelintir yang kudapatkan
darinya,
Maaf sblmx tp klo bisa tdk usahmi
mnelpon, klo ada yg mau d.smpaikan sms saja krna agak risihka' sy klo trima
telpon. N jgnmi sms klo pagi krna kadang badmoodka' klo bangunka saat blm
waktux. !! (Kutipan pesan singkat darinya).
Seketika terhempas dan termenung
akan semua itu. Aku memang lancang telah mengenalmu, aku memang bukanlah
siapa-siapa dimatamu. Semua pesanku dihandphonemu layaknya virus yang tak
pantas direspon olehmu karena pastinya akan menjadi-jadi, benarkah ? Kalau
tidak, lalu kenapa ucapanku, sapaku, pesanku tak pernah ada umpan baliknya
sedikitpun. Sakit pun mulai mengintip dibalik brangkas hati ini untuk mendobrak
cinta yang tengah bercengkerama dihati ini.
Awal yang baru memang tak seindah
yang semua orang bayangkan.
Malam ini, kubisikkan dalam
doaku.
Tuhanku yang maha pengasih,
Tabahkanlah hatiku yang sedang
rapuh ini, untuk tetap meyakini yang kutahu sebagai yang benar, untuk ikhlas
melakukan yang kutahu harus kulakukan, untuk sabar menghadapi orang – orang
yang sulit, dan untuk tegar melampaui masalah, agar aku sampai di padang
pembahagiaanku.
Tuhanku,
Hatiku yang letih ini rindu
istirahat dalam kedamaian.
Rara Sayangilah aku.
Aku takkan menyerah memberikan
keyakinan dihatimu tentang betapa inginnya diriku akan dirimu. Hingga pada
suatu hari aku hendak menjumpainya karena wujud kerinduanku yang bertepatan
dengan jadwal tes Akademiknya di makassar. Sedikit mengorbankan waktu Final
Testku tidak jadi masalah. Berharap dengan kehadiranku bisa meyakinkan bahwa
aku sangat mencintainya. Meski aku tahu bahwa diriku belum ada dalam daftar
hatinya dan akupun tidak berharap lebih selain ucap Cinta dari bibirmu karena
untuk saat ini akupun belum menginginkan jalinan hubungan dangkal dalam ikatan
fana yang hanya akan memudarkan semua hasrat kehidupan cinta ini. Yang aku
inginkan kelak cinta yang aku punya terjaga dalam ikatan halal nan sakral.
Namun apa daya semua tak sesuai
dengan harapanku, pengorbanan ini hanya berbalas kerlingan mata sinis darimu
yang beranggapan aku lelaki kurang kerjaan. Tidak bisa dibilangin sampai-sampai
harus datang tanpa diundang seperti ini. Dalam hatiku terujar terima kasih atas
kesakitan yang engkau gambarkan dipelangi cinta ini. Namun harus kamu tahu aku
kan terus mengirimkan perasaan ini yang terbelenggu dalam kerinduan bersama
angin rindu yang masih setia menemani kini dan nanti.
Tahukah engkau ??
Lelaki itu praktis. Ingin hidup
bahagia bersama wanita yang mendamaikannya.
Mungkin karena keinginan, atau
karena cinta, seseorang menjadikan pujaannya seperti malaikat yang menjelma
dalam dirinya. Pandangan mata ini tidak pernah berhenti melihat kebaikan yang
mengelilingi aura tubuhmu tanpa harus melihat keburukan yang dilakukan.
Pancaran seorang pengagum sejati itu ibarat seekor burung yang terbang tinggi
ke angkasa yang tidak pernah berpikir apakah nantinya akan tetap terbang tinggi
bersama endapan angin rindu atau jatuh tersungkur merasakan sakit di sekujur
tubuh akibat hasrat terkekang dan kerinduan yang terbelenggu.
Rindu yang begitu hebat kini
mendekam dibalik brangkas hatiku. Perasaan itu, membuatku seakan melupakan
dunia beserta isinya dan berkeinginan selalu hadir dalam mimpi indah gadis
pujaanku, Rara. Dan pada suatu hari, dengan segala kedalaman hati, aku membuat
sebuah buku berisi ungkapanku terhadapmu, laksana goresan emas yang
kupersembahkan untukmu dihari ulang tahun ke-18. Sebagai pemberian terbaik
hasil buah tangan rapuh ini yang akan kupersembahkan kepadamu jika pertemuan
disuatu acara atau berpapasan di persimpangan jalan. Hari ini aku menantimu
tapi yang kudapatkan hanyalah sepi yang mencekam.
Angan ingin selalu bertemu telah
membuat api cinta menyala-nyala dikegelapan hatiku. Kata cinta untukmu adalah
sebenar-benarnya perkataan yang terucap dari lubuk hatiku, walaupun cinta itu
nantinya harus bertepuk sebelah tangan. Kerinduan yang menyengat perasaanku
telah membuat tubuh ini lelah terpaku menatap langit dan hanya angin rindu
terus membelai dalam kesendirianku. Sebab, tidak ada balasan pesan singkat atau
bentuk perhatian darimu.
Berulang kali aku mengirim pesan
singkat kepadamu dan mengharap balasan, tapi balasan itu tak kunjung tiba. Yang
ada hanyalah goresan pedang memahat sembilu luka dalam hatiku.






2 komentar:
Ceritanya dilanjut terus yah kang ! :)
sua atu neng. Kumaha damang ?.
Maturnuhun ya, tenang ajalah sia bakalan d.tambahin carita kasadihannya wae
Posting Komentar