Sample Text

Popular Posts

Blogger Tricks

Blogger Themes

RSS

CINTA


Berilah Aku Pulang
Setelah pertama kupandang,
telah ku simpan satu keindahan yang tak dapat kuungkapkan..
indahnya hidup bila kutahu kau suka padaku
harapkan ia kan berterusan hendaknya
harapkan ia bukanlah lagi sebuah mimpi yang menyakitkan
harap ia bukanlah lagi sebuah dugaan
tapi sebuah intan yang telah ditakdirkan…
namun tidak dapat kuungkap dengan kata luahan..
bukan kutakut dengan takdir tuhan,
tapi kerana kutakut…
Saat aku melihatmu .. Aku takut untuk mengenalimu..
Saat aku mengenalmu.. Aku takut untuk mendekatimu..
Saat aku mendekatimu.. Aku takut untuk mencintaimu..
Saat aku mencintaimu.. Aku sangat takut kehilanganmu..
andainya kasih yang ingin kau berikan itu satu takdir ilahi…
tidak mungkin aku akan biarkan ia kesepian..
andai ada ruang untuk aku isi,
bukakanlah ia untukku mengisi,
tak sanggup lagi kunafikan segala yang ada dalam hati…
setiap detik berlalu kunafikan walau ia adalah kamu,
setiap kali termenung kuukir nama mu,
setiap kali kuterkenang gurau sendamu,
ketawaku walau keseorangan…
kini aku menyimpan rasa rindu yang tak dapat kuluahkan..
ingin aku coba untuk selami sesuatu yang mungkin tak akan dapat aku karungi,
kini karena egoku, kau terus berdiam diri..
maafkanlah diri ini wahai gadis pujaanku..
kan aku buktikan keikhlasan untukmu seorang yang aku cintai…


Aku seperti ini
Jika mau ambillah
Jika tidak…
Terserah
Asal Tuhan tidak murka
Akupun bahagia

Aku ini seperti ini
Perubahan dalamku
Akan menghilangkanku
Terserah…
Aku telah mengerti diriku
Aku mengerti Tuhanku 
Pembaca…
Kalau boleh bertanya…
Kenapa bidadariku selalu saja adalah bidadari orang lain?
Kenapa perempuan tepilihku selalu saja perempuan terpilih orang lain?

Begitu sedikitkah perempuan cantik di dunia ini sehingga selalu saja tak tersisa untukku?
Begitu sedikitkah perempuan yang cinta padaku hingga aku harus terpuruk sepi
Coba bacalah dan jawab aku…

Tapi jika kamu sepertiku, yang menangis di belantara pencarian
Marilah kemari….
Menangislah disini
Menjeritlah disini…
Bersamaku agar ramai…
Agar menggema agar Tuhan mendengarnya…
Hingga aku, kamu, dan mereka tahu seperti apa perempuan itu.
Para pencinta adalah orang-orang gila
Atau para pemabuk
Yang tak pernah ingat realitas
Dalam dirinya hanya ada satu harapan
Berkhalwat dengan kekasih
Lisannya takkan pernah lepas dari ingat
Namun…
Kecemburuannya selalu menjajah
Menghancurkan semua yang ada
Entah…
Layak seekor merpati terbang bebas diangkasa
Wujun cinta kepada sang angin
Tak pernah berpikir
Apakah akan terus terbang atau jatuh tersungkur…


Ingat satu hal “AKU MENCINTAIMU”
Aku selalu bertanya: “Mungkinkah mewujudkan cinta ini?”
Karena seperti yang kau tahu aku harus berlomba dengan waktu…….
Oh andai aku kaya, mungkin semuanya takkan begini
Karena kita tetap bisa merajut cinta sambil mengantarmu meraih gelar, cita-cita, kerja dan semua inginmu…..

Mungkin kau anggap semua ini gombal…….
Tapi sungguh….. Aku ingin segera kaya dan menjadi kaya saat ini juga
Agar umurku tak mengubur semua mimpi-mimpiku…..
Amin

Apa aku masih harus bersabar dan terus bersabar…?????
Oh Tuhan….. Belum cukupkah semua bahagia hilang sepanjang usiaku?
Atau… kau sama seperti yang lain…?
Datang berikan harapan, tinggalkan cinta Terus campakkan daku dalam perih, pedih, miskin dan sendirian dan kesepian sepiii????
Biarlah….. aku sudah cukup senang kenal bidadari sepertimu
Pernah tertawa bersamamu
Pernah memandang tanpa celah wajah cantikmu
Walau semuanya adalah benih luka yang tertunda dan terus tumbuh menyembilu

Aku tetap tak mengerti siapa aku bagimu…….
Jika kau bersedih dab menangis membaca ini , aku seribu kali lebih sedih dan perih

Malam…….
Kaulah saksi bisu merdu suaranya
Yang terus merasuk bangun berjuta khayal

Malam…….
Kaulah saksi bisu jika berjuta syair terangkai atas namanya

Malam…….
Kaulah saksi bisu itu saat kuterus menagis
Karena sangat mencintainya
Saat kuterus memanggil
Karena mencintainya
Perasaan apakah ini
Tak mendekat tetapi tak berani mendekat
Ada ketakutan memenuhi dada
Perasaan apakah ini

Ingin memandang tapi tak berani memandang
Ada tirai halangi pandangan
Perasaan apakah ini
Selalu tak menentu saat berjumpa dengannya

Ada berjuta entah mengharu biru
Menyambar bagai petir
Menyayat bagai sembilu
Menyentak bagai listrik

Perasaan apakah ini
Amarah
Cinta
Atau apa ?
Mengintip cinta di relung hatinya ternyata berjuta walau terselimuti kabut hitam kebencian
Mengintip kerinduan di bilik jiwanya ternyata berlaksa walau tertimbun kesombongan
Mengintip sayang di balik matanya ternyata bersamudra walau

Keruh hitam nira
Wahai angin pengembara singkapkanlah tirai penghalang dihatinya
Biarkan cintaku menyatu dengannya
Teruslah tertawa
Buatlah aku bahagia
Hanya kaulah bahagiaku

Tanpa tawamu
Hilanglah mentariku
Aku mau…
Aku mau….
Aku mau…..
Mau apa…
Mau apa….
Mau apa…..
Perempuan terpilihku
Tak pernah betah di hatiku
Kenapa…?

Mungkin terlalu banyak pilihan
Atau aku tak boleh memilih
Agar aku dapatkan perempuan
Terpilih…….
Desir angin membawa ingatan padanya
Seakan tak pernah kutemukan
Wanita lain di hatiku

Engkaukah itu
Bidadari untukku
Engkaukah itu
Rusukku yang patah
Engkaukah itu
Cintaku
Seangkuh itukah aku hingga tak dengarkan bisikanmu
Sepengecut itukah aku hingga terus sembunyi darimu
Sepengecut itukah?

Tidaaaaakkk…….
Cinta maafkan aku yang sedang gundah
Tapi,tahukah kau cinta,hatiku begitu luluh mendengar panggilanmu di HPku

“Halloohh…..!”
Lembut,mesra,seraak,meluruhkan jiwa,mengunci semua kata
Dan melambungkan semua indah lebur dalam pesonamu
Walau hati menjerit “hallooooo cintaaaaa….!!!”

Tapi tak sepatahpun kata terungkap karena ku larut dalam pesonamu
“Ih kok gituh…serius dooong”
“Hallooohh….!”
“Ngomong aja ga` apa-apa kok!”

Tetap saja tak sepatahpun kata meluncur karena tertahan isak yang makin keras
Bersama air mata yang mengalir sungai
Seangkuh itukah aku yang membiarkan jiwa merana karena mencintaimu
Sepengecut itukah aku yang membiarkan tubuh terbaring karena sembunyi darimu

Tapi tetap tak bisaa…katakan aku siapa
Cinta katakan aku siapa
Atau aku akan hilang bersama kesadaran yang makin menghilang
Membawa cinta yang tak pernah terungkap

Atau aku akan hancur bersama tubuh yang kian lemah
Membawa cinta yang tak pernah terucapkan
Tanpa bergerak ternyata kita bisa berpindah
Karena ternyata bukanlah kita yang menggerakkan
Tanpa merubah ternyata kita berubah
Karena ternyata bukanlah kita yang merubah
Biarkan daku mengenalmu
Seperti dalam khayalku
Biarkan daku mencumbumu
Seperti dalam inginku
Oh sakitnya saat nyata menjelma
Mencabik semua mimpi dan ingin
Muak yaah huuh…
Biarkan daku mengenalmu
Seperti dalam tidurku
Oh janganlah berubah
Oh janganlah berubah
Ra…….
Ngantor bersama cinta
Ya dengan kekasih
Ngantor di jalanan
Ya bareng para pejalan

Ngantor di lautan
Ya bersama para pelaut
Ngantor di bumi Tuhan
Ya bareng para hamba Tuhan

Kalau begitu aku orang kantoran dong
Ya kantor cintaaa…he..he..
Apakah selamanya aku takkan pernah dapat tuliskan kata indah
Karena keindahan itu selalu menjauh
Haruskah setiap kata yang meluncur adalah kepedihan
Haruskah setiap kata adalah air mata yang mengering

Atau perih yang terus bercucuran bersama gelap dan sepi
Apakah selamanya aku takkan dapat ucapkan kata indah
Karena itu cinta yang aku jalani
Aku akan menjauh dari orang yang mulai ada rasa padaku
Kenapa..?
Ada dech…
Aku tetap ingin bebas

Bertualang…
Aku ingin tetap ceria
Tertawa dengan siapa saja
Nikmati apa saja

Selagi muda
Kenapa..?
Mungkin karena cinta mahluk yang menakutkan bagiku.
Inginku kelak sebuah cinta dalam ikatan halal nan sacral.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

ANGIN RINDU II

MENANTI WALAU TAK PASTI

Selalu aku berpikir tentang segala apa yang aku miliki. Apakah yang salah dari diriku ? 1 hal yang paling aku sadari bahwa wajahku memang pas-pasan. Dirimu yang begitu anggun menawan memang tak jarang orang yang tak mengagumi.
Betapa tidak senyum itu, kerlingan mata itu, membuat setiap lelaki yang memandang bakalan kelepek-kelepek jadinya. Tahu nggak sih aku sayang sama kamu. Kenapa sampai detik respon itu belum juga menjalar dan mengalir dari relung hatimu.
Pagi yang cerah gemerincing embun menetes dibahuku saat aku mulai melangkah kaki menuju lapang padang savana indah. Kicau burung merpati terdengar bah lagu merdu nan syahdu dalam pagiku diawal bulan Juli. Seraya sejenak melepas penat dalam pikiran dan hati kecil ini yang terus teringat akan keindahan sosok wanita cantik itu. Terus menggali dan bersembunyi di dalam relung hatiku menguak tabir brangkas hati ini dalam keindahan dan kedamaian. Layaknya racun yang terus merangkak kecelah-celah otakku membuat dirinya terus terbayang meski kesakitan terkadang bergejolak dalam batin akan semua perlakuannya terhadapku. Memang benar kata orang bugis dalam deretan lagunya kebanyakan mengungkapkan “peddi nalawa pappoji”, seberkas gambaran kisah cinta titisan nenek moyang dari tana ugi to Bone.
Hari ini, aku akan mulai menyegarkan kembali pikiran yang terbilang penuh akan aktivitas. Selain itu, seraya menenangkan hati dan pikiran menanti bulan suci Ramadhan yang sudah terbilang beberapa hari lagi. Tak jarang aku merenung dengan semua sinyal yang engkau telah berikan. Perjumpaan pertama aku memang masih begitu asing dimatamu, kerlingan mata indah itu seraya memberi sinyal tentang diriku yang begitu hitam pekat dan dekil maka dengan perjumpaan saat itu aku memulai merawat dan menjaga tubuh ini sehingga volume paparan sinar matahari mulai dikurangi dan jadwal kesibukan mulai dipress. Semua itu aku lakukan sekedar ingin sedikit mendapat perhatianmu ketika berjumpa lagi entah kapan dan dimana.
Ketika perjumpaan kedua di Tonra masih ingat nggak ?? Tak sedikitpun kau menoreh kepadaku mungkin karena diriku yang masih kurang indah dimatamu. Ya aku masih begitu kurus kerempeng, OK akupun berpikir ini tantangan untukku kelak aku akan berjumpa denganmu saat dimana aku tidak seperti ini lagi.
Akupun berpulang dengan tekad keras bukti kesungguhanku kepadamu. Keseharian yang terus kujalani membuatku sedikit jenuh karena tidak adanya kabar tentangmu. Terlarut dalam kesibukan seraya sosokmu sejenak beristirahat dalam pikiran ini. Hidupku begitu indah karena pelangi kehidupan masih berpihak kepadaku mewarnai lika-liku keseharianku diatas permadani kerinduan.
Kali ketiga kujumpa dalam sebuah bumi perkemahan, awalnya kusudah merenggangkan pikiran ini tentangmu karena kecil harapan untuk memilikimu. Namun, ketegangan kembali muncul seketika disaat sinyal tentangmu hadir dihamparan tanah lapang menggetarkan seluruh relung jiwaku. Pancaran wajah itu, menyilaukan pandangan angin rindu yang kian menemaniku dan membisikku tentang keberadaanmu dari kejauhan sana. Sungguh berat langkah kaki ini ketika menuju kearahmu. Sambutan senyum hangat dari bibirmu serasa memelukku dalam kehangatannya. Saat itu juga kumulai kembali merapatkan brangkas hati ini yang kian longgar, kerut dahi terbersit diujung pandanganmu itu terlihat masih tersimpan kejanggalan terhadapku. Ya, mungkin tentang penampilanku yang begitu standar, katro, ndesoo. Akupun tersenyum kecut seraya berusaha introspeksi diri tentang sebersit keminusanku.
Lega rasanya selepas penat teringat akan dia yang menjadi sumber cinta yang terselubung dalam kerinduan tertanam dalam hati. Yang sedikitpun aku tak pernah tahu entah kapan akan terkucurkan kemuka bumi. Dirimu yang begitu stylish menjadikanku bertolak ukur untuk minimal menginginkan setara denganmu ketika bertemu dipersimpangan jalan atau entah dimana saja. Teramat lucu ya, hanya berawal dari sebuah nama kini tumbuh menjadi rasa yang luar biasa. Kian mengembara tak kenal lelah untuk tahu semua tentangmu hingga tak menyadari bahwa dirimu membawa perubahan yang begitu berharga dalam langkahku. Aku mulai lebih tampil agak beda yang lebih mendewasakanku, semua ini aku lakukan bukan semata karenamu karena aku tahu dirimu belum meresponku. Aku takut kelak akan jatuh terhempas kekecewaan yang mendalam membuat kesesalan akan perubahanku. Aku seperti ini karena dunia, mungkin sudah saatnya aku belajar tentang kejamnya dunia diluar sana yang akan mengeleminasi mereka yang bermasa bodoh akan hidup.
Tiada tara rintikan kebahagiaan membasahi tubuh ini kelak perjumpaan keempat tiba. Masih ingatkah dirimu ? saat aku mulai sombong akan diriku sekarang ini. Mulai mampu membusungkan dada rata ini. Angin rindu lebih cekatan menjemputmu diujung permadani kerinduanku, getaran bumi begitu jelas terasa seketika kau langkahkan kaki itu. Oh Tuhan, aku orang yang tak mudah jatuh cinta tapi kenapa engkau menganugerahkan sebuah cinta yang begitu berat untukku mencapainya. Namun, aku tidak ingin larut dengan semua keluh kesahku karena akan semakin membuatku lemah tak berdaya. Kuhampiri dengan penuh percaya diri, keraguan dihati yang semula memanjakanku kini kian hilang seketika tanpa menyisahkan jejak tatkala kerinduan merongrong tubuh ini menuju ke hadapan Rara. Terjadi untuk kesekian kalinya Rara hanya sekejap menoreh kepadaku sekedar melempar senyuman dan sibuk dengan para sahabatnya.
Ingin kuberteriak,
“Raraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...........!!!!!!!”
“I’m coming for you, but you never translate my heart. Why..?”
Akhirnya hanya berimbas pada tangisan angin rindu memelukku atas beban kesakitan yang kian tertumpuk dipundakku. Kini salama sudah bukanlah yang dulu, air mata itu sudah kering dan nggak ada yang bisa ditumpahkan lagi, jiwa yang lemah itu kini tengah menjelma menjadi kekuatan bagiku.
Salahkah aku ??
Kini aku sudah tidak terlalu hitam pekat dan dekil lagi.
Kini tubuh yang hina ini tidak lagi kerempeng seperti katamu.
Pandanglah aku ini penampilanku yang baru untuk sekedar terlihat setara denganmu. Apa yang salah ?
Mungkinkah karena diriku yang terlalu ketuaan dimatamu dengan fashionku dan posturku yang sekarang agak tembem. Ok ok ok ok kalau itu salah dimatamu, aku akan berusaha untuk menurun berat badanku hingga kau puas akan diriku. Aku tidak pernah mengeluh kok cuman jelasin letak salahku dimana ? Tapi toh sampai detik ini hanya diam tanpa kata yang kau kirimkan dalam surat kalengmu itu.
Berulangkali kuyakinkan cinta ini kepadamu Ra. Namun entah mengapa kau terus mengacuhkan dan menghancurkan sebongkah harapanku kepadamu. Dan andai kau tahu cara yang telah kutempuh demi mendapatkan utuhnya hatimu, hingga kupertaruhkan sang waktu yang melayaniku siang dan malam tak kenal lelah untuk bercerita tentang keindahanmu.
Semenjak saat itu, dirimu layaknya debu yang diterbangkan angin. Hilang dan tak sedikitpun menengokku yang tersungkur dan terjatuh dibelakangmu. Terseduh-seduh dalam pelukan angin rindu, mendekam di balik jeruji kegalauan terus mengurung kebebasan hati ini. Rara, aku tahu kamu orang yang super sibuk dengan semua kegiatanmu itu. Tolong berbaliklah kepadaku yang kian membayangimu dibawah paparan sinar matadunia yang menyilaukan setiap makhluk bernyawa. Tapi aku yakinkan dirimu Rara, aku kan melindungi keindahanmu itu darinya karena aku tidak inginkan dirimu luntur dari semua jiwa yang aku impikan untuk aku miliki.
Untaian maaf sebesar gunung kuhaturkan kepadamu, aku yang menyanyangimu tak mampu menjabat tangan itu saat hari bahagiamu diusia 18 tahun, tepatnya 23 Juni 2012. Betapa tidak sabtu pagi aku telah mendatangi kediamanmu di polsek Lamuru tapi ternyata Raranya ada di Makassar yang aku tidak tahu karena diammu itu yang maknanya belum mampu aku tafsirkan. Bingkisan angin rindu yang aku titip untukmu sudah cukup mengobati kekecewaanku hari itu yang kian merasuk ke celah-celah sel tubuh ini yang haus akan hempasan kerinduan kepadamu wahai Rara. Hembusan napas lega kini yang hanya bisa aku kantongi berpulang dari kediamanmu itu, akupun tak mau memaparkan wajah kegalauan ini yang masih punya kegiatan pelatihan palang merah di SMAN 1 Patimpeng dan MA Nusa Kahu.
Malam minggu ini nggak jauh beda dengan malam-malam sebelumnya, diriku yang senantiasa dilanda rintikan kecewa yang luar biasa menyita luka di hatiku yang tak pernah punya waktu untuk sembuh.
“Hoooeee...!! Magasiki tuh kak, kok melamun sendiri entar kesambet loh. Punya masalah ya ?” Tegur salah seorang adik PMR yang terbilang membuatku jengkel karena udah dibuat kaget.
“Hemmm. Nggak kok cuman kecapean aja dik” Jawabku cuek.
Aku hendak menuju tempat pembaringan saat hp sedang berdering yang aku tidak pedulikan karena nggak ada mood ngebalas sms. Dengan terpaksa pesan singkat pun aku buka dan terpampang nama Ratna Dwi Junarti. Kericuhan dalam hati kini bersorak bahagia karena telah mendapat balasan pesan darinya.
“Kak kita yang bawa kado kerumah ?” Tanyanya penuh keheranan.
“Hah ? Kado ?” Jawabku jengkel. Kenapa juga engkau baru datang saat kusudah terjatuh terlalu dalam dan nggak bisa bangkit secepat membalikkan telapak tangan.
“Alla, kakak toh yang bawa kado kerumah dan nitipin di kantor. Terima kasih nah kak. Ih kak aku merasa berat loh nggak sempat bilang terima kasih secara langsung” Sambungnya.
“Iye. Tidak masalah dinda. Malah aku yang minta maaf karena nggak sempat menjabat tangan itu” Haturku dan tiba-tiba menjadi riang gembira.
Senyumku bersama angin rindu terhempas ke angkasa luas. Betapa hatiku dirundung kebahagiaan yang mendamaikanku. Inikah cinta yang dianugerahkan kepadaku atau hanyalah kibasan nafsu syaitan ? Hatiku terus bergejolak penuh konflik yang memilukan ketika banyak dari mereka yang menganggapku gila dan cintaku masih kekanakan dan cinta monyet katanya. Namun tetap saja hatiku terus mengencangkan sabuk cinta yang menjaga brangkas hati ini tetap terjaga dan tertancap gagah dan kokoh didalam sana. Walaupun hanya sekilas teringat tentangnya, tapi amarah itu kian meleleh layaknya es kutub selatan antartika terbakar kobaran cinta yang membara dan lambat laun kian menjalarkan akarnya sehingga semakin kuat yang memang telah ada sejak dulu, kini, dan nanti bahkan insyaallah sampai jiwa raga saling melambaikan tangan menuju sang khaliq.
Kembali teringat di malam tahun baru 2012 saat aku menjadi sang kajao La Tenritappu atau selaku pembawa acara bersama 3 orang senior yang terbilang usia begitu jauh sehingga kurang klop gitu aktingnya. Lucunya karena aku susah ngebentak-bentak kok malah disuruh akting dan apalagi sama senior yang sedikitpun tidak ada kerelaan untuk menghilangkan sikap seganku padanya. Kucluk, ya itulah nama samaran seniorku itu, memang sih wajahnya culun dan konyol sehingga bawaannya kepingin ketawa terus. Bebanku yang tertumpuk dipundak saat itu terasa sedikit mereka turunkan, namun 2 beban pikiran yang terus teringat malam itu yaitu aku batalkan ikut tahun baru di puncak gunung bawakaraeng dan keceriaan Kak Mardi di puncak gunung Lamuru sana bersama para siswanya. Tentu saja Rara bersama mereka, karena saat itu kemungkinan besar kegiatan terakhirnya sebelum menghadapi UAN/UAS.
Aku iri dengan semua orang di sekitar Rara yang bisa saling berbagi canda tawa dan seru-seruan. Malam tahun baru itu kuhanya mampu meledakkan semua beban dalam sebuah duo vokal berkolaborasi bersama vokalis La Tenritappu Institut dalam sebuah lagu bugis berjudul “Sajang Rennu”.
“Awi.. Teri peddi atikku, uitamu tudang botting. Teppasengmu tekkareba nalere wae matakku naulleku tapakkua. Kegani maka utiwi sajang rennu atikku, eloqku sedding ro mate natea lao nyawaku,” Lantunan indah suaranya menggema memekakkan gendang telinga para tamu undangan.
“Awi.. Aga kasi ulleku eloqna indo amboqku. Marilaleng kasi peddiku turusi maneng eloqna, iyaqna tiwi peddiqna. Kobaja sangadie engka jeraq baru kuburuq tenri bungai, iyaqnatu ri lalenna.” Balasku yang sok tidak mau kalah padahal suaranya fals. He he he.
“Awi.. Teri peddi atikku, uitamu tudang botting. Teppasengmu tekkareba magi mulesseri janci mutarona sajang rennu. Kegani maka utiwi sajang rennu atikku, nataro kasi peddiqku naulleku tapakkua.” Lanjutnya yang membuatku semakin terlarut dalam irama lagu.
Iringan tepuk tangan mengantarkan aku menutup kegiatan malam itu dengan penuh kebanggaan. Kagum plus tanda tanya besar pun terlintas dibenak para senior terhadap penampilanku dipenghujung acara, karena aku yang terbilang baru dalam organisasi ini dan merupakan kali pertama tampil dipanggung pentas tiba-tiba berlaga layaknya artis profesional. Aku yang terdiam dan hanya tersenyum bangga disaat ucapan selamat berdatangan dari segala arah atas kesuksesan acara malam itu. Selaku sang kajao cadangan aku masih merasa berat karena banyak kekakuan yang tampak ketika diatas panggung yang tak jarang membuat para senior menggelengkan kepalanya namun penampilanku dalam duo vokal yang tidak pernah aku sangka begitu aku hayati mendalam seraya aku diposisi yang sebenarnya.
Betapa tidak, selama 2 bulan aku dilatih untuk menyanyikan lagu ini namun mereka hanya selalu berucap terserah aku saja yang penting ada. Aku sih fine-fine aja karena memang dari awal aku menginginkan orang lain tapi apa daya inilah amanah maka kujalani meski agak risih karena tidak pernah dialami sebelumnya.
Tahu nggak apa yang terlintas saat menyanyikan lagu itu ??
Rara. Ya Rara. Siapa lagi kalau bukan dia, aku menghayati lagu layaknya benar-benar terjadi dalam hidupku atau sebaliknya. Ketika cinta harus dikorbankan demi orang tua dan tidak bisa dipungkiri ini sering terjadi dalam kehidupan cinta manusia yang harus berakhir ditangan pilot (pilihan orang tua). Sedikitpun aku tidak menginginkan itu karena aku dan semua orang tahu bahwa hidup itu hanya sekali dan bagiku pasangan hidup juga satu untuk selamanya sehingga harus teliti. Dan semua kegagalan cinta yang aku alami biarlah menjadi pernak-pernik kehidupan yang akan menghiasi padang pembahagiaanku kelak insyaallah bersama dengan wanita yang mendamaikanku, Rara.
Berbicara tentang pilot nih, Rara tuh mendaftarkan dirinya disekolah penerbangan ATKP Maros. Kebayang aja dirinya juga bakalan tergait oleh seorang pilot yang tak jauh dari profesinya di jurusan Lalu Lintas Udara maklumlah Rara itu baik, cerdas, dan rame orangnya. Aku tuh orangnya terbilang udah termakan kebiasaan mengandai-andai kali ya sampai-sampai mengandai terlalu jauh seperti itu, selalunya terus mengandai-andai yang sebagian orang pikir itu hal yang tidak baik. Rara memang belum dinyatakan lulus dalam sebuah universitas atau sekolah tinggi lainnya namun aku yakin bahwa dia kelak menjadi kebanggaan bagi semua orang. Amin. Namun bagiku sepeti apapun Rara, dia akan tetap jadi kebanggaanku kini dan nanti.
Ingatanku terbuyarkan terhentak kantuk dalam perjalan pulang dari petualangan melintasi bone barat - bone selatan ketika memberi pelatihan palang merah dalam rangka kegiatan lomba di SMA 10 Makassar yang akan menunggu laga mereka. Inilah yang membuatku turut bertahan dalam palang merah, semangat muda yang sedikit demi sedikit terkobarkan untuk berkibarnya jiwa kemanusiaan disetiap hati mereka.
Palang merah merupakan organisasi yang paling aku cintai karena aku terlahir darinya. Aku yang sekarang tidak mungkin mampu berdiri tegak menghadapi kerasnya batu karang kehidupan dan derasnya ombak yang terus menerpa tubuh rapuh ini tanpa pondasi kuat yang aku dapatkan dalam organisasi. Kata mereka tentangku bahwa diriku yang dulunya berawal dari pemalu dan pendiam kini mulai sedikit demi sedikit berbunyi layaknya jangkrik belanda. Ya itu ada benarnya tapi tetap aja sifat asliku tidak bisa terhapuskan, hanya pada orang yang aku kenali atau para sahabat aku sering berbagi canda tawa dan saling menjahili kala waktu senggang. Tapi untuk mereka yang baru kenal atau hanya sesekali bertemu hanya akan mendapatiku bertopeng jutek dengan jubah kediaman. Kebanyakan mereka yang baru kali pertama mengenalku berkesan menganggapku kejam, sangar, dan pemarah karena tampak dari raut wajah ini yang terbilang sangat Jutek dan memang boros kelihatannya yang muka tidak sesuai dengan umur. Seperti apapun kata mereka tapi inilah aku dan kehidupan yang aku jalani membuat pengaruh besar serta kekangan beban hidup juga yang tergambarkan diraut wajah ini. Tak banyak yang tahu tentangku tapi cukup tatap mata ini untuk merasakan dahsyatnya gelombang kehidupan yang telah dan akan kulewati.
Baik buruknya kesan utama memang selalu tertancap dipikiran setiap manusia sehingga aku memberi kesan yang jutek karena memang kurang lebih sifatku seperti itu dan aku malas terlalu akrab apalagi dalam perkemahan. Terlalu akrab bisa menimbulkan kekerabatan yang kuat, takut akhirnya muncul sikap kepemilikan satu sama lain yang berujung pada kepedihan saat hari perpisahan tiba. Cukuplah kami saling mengenal dan berinteraksi seadanya serta saling melempar senyuman bukti keramahan dalam palang merah.
Tak jarang aku ditanyai tentang kegiatan kemahku kesana kemari, dari sekolah yang satu ke sekolah yang lain tentunya banyak kenalan juga utamanya cewek-cewek cantik. Jawabku ya tapi tidak kalau kenalan, karena dalam waktu berkemah aku hanya sesekali berinteraksi dengan panitia ataupun peserta karena sifat pemaluku yang masih begitu mendekam saat ingin berucap dan diriku yang terkadang minder. Aku yang mulai ikut sejak kelas 1 SMA selalunya mendapatkan anggapan playboy karena aktif kesana kemari ke sekolah orang tapi aku mengerti itulah manusia kebanyakan berkesimpulan tanpa tahu asal muasalnya terlebih dahulu.
Waktu pelaksanaan lomba PMR di SMA 10 Makassar tinggal beberapa hari lagi. Aku yang mendampingi 4 kontingen (MTsN Wtp, SMA 2 Wtp, SMA 1 Patimpeng, dan MA Nusa Kahu) dari Bone mulai menyiapkan semua perlengkapan dan berencana berangkat terlebih dahulu. Kegiatan yang berlangsung tanggal 27 Juni sd. 1 Juli 2012 harus aku ikuti berhubung telah diamanahkan sekaligus tanggung jawabku selalu alumni MTsN Watampone dan SMADA Bone. Tapi akupun tidak bisa melewatkan kemahku dalam PRASTIDA (Pramuka Saka Bakti Husada) selaku tim kesehatan bersama Anggota SBH Cabang Bone dan Ranting Ulaweng di Taccipi (23 sd. 27 Juni) serta Ranting Amali di Taretta (24 sd. 29 Juni).
Setiba dari bone selatan aku langsung berkemas hendak berangkat ke lokasi perkemahan 17-an pramuka dan kebetulan aku mendapatkan tugas di perkemahan Amali. Motor yang belum cukup dingin kembali aku tancapkan berharap pembukaan kegiatan bisa aku hadiri. Dalam perjalanan aku mendapatkan telepon dari sahabatku (Farid) yang kebetulan juga mendaftar di ATKP Maros hendak ditemani ke Maros karena tanggal 28 harus mengikuti Tes Akademik disana dan akupun mengiyakan karena memang aku hendak berangkat tanggal 26.
Tak jauh kuberpacu dengan motor ini beserta mata bengkak akibat tidur yang tak terjaga akhirnya telepon berdering lagi dan ternyata sahabatku keluaran dari panti asuhan. Dia mengajakku ke Makassar hari itu juga untuk diantarkan ke BLKI (Balai Latihan Kerja Industri) Makassar berharap ingin mengasah keahliannya disana namun aku menolak karena masih ada kegiatan yang akan aku datangi dan memutuskan akan mengantarnya jika mau kalau aku percepat yaitu tanggal 25 begitupun dengan Farid sehingga bisa berangkat bersama.
Hal ini masih terbilang mudah karena sudah keseringan berjumpa dengan tabrakan jadwal dari berbagai organisasi yang aku jalani. Dan selalunya ada yang harus dikorbankan demi kelancaran kegiatan sesuai dengan tingkat kepentingan. Membagi waktu memang wajib untuk aku dan semua mereka yang penuh dengan kesibukan lakukan agar semua orang yang terdapat dalam lingkaran kehidupannya mendapat perhatian dan anggapan yang berarti kita akan selalu ada untuk berbagi kebahagiaan bersama mereka utamanya keluarga.
Alhamdulillah perjalanan yang cukup memakan waktu akhirnya aku sampai ke lokasi perkemahan di Taretta Amali. Aku pandangi sekeliling lapangan yang beberapa waktu lalu aku bertemu dengan Rara yang aku sayangi dalam sebuah perkemahan palang merah. Riang gembira kesana kemari angin rindu terlintas dihadapanku senantiasa membangkitkan ingatanku tentang Rara. Tatapanku yang penuh kehampaan seketika bayangan Rara yang datang menghampiriku dikawal oleh angin rindu membuat bibirku tersenyum akan kedamaian yang aku rasakan disaat Rara kian hadir walau hanya sekedar dalam ingatan.
Rara Oh Rara. Aku tidak mengerti semua yang aku alami selalunya tak jauh dari dirimu yang kian selalu membangkitkan rasa cintaku padamu. Ataukah semua ini merupakan sebuah kebetulan semata yang Tuhan percikkan kepadaku untuk sedikit merasakan bahagia dan menikmati keindahan sosokmu yang begitu luar biasa dimataku. Tapi kenapa harus sesering ini kebetulan yang terjadi dalam setiap apa yang aku jalani dan kenapa juga hanya aku yang merasakan ini, lantas bagaiman denganmu ?
Hari itu aku jalani dengan hanya bertanya-tanya kenapa dan kenapa mesti aku yang mengalami semua ini yang dirundung cinta kepada seseorang yang sedikitpun tak punya rasa untukku. Akupun mengirimkan pesan singkat kepadanya berharap sedikit mendapat jawaban darinya tentang banyaknya tanda tanya dihatiku.
“Masih ingatkah kamu dengan Taretta ?. Dalam SMSku.
Tempat dimana aku dipertemukan denganmu untuk kali ketiga. Saat aku mulai menumbuhkan sayang kepadamu dan kali pertama menyentuh tangan indahmu itu. Tapi sayang beribu sayang sedikitpun aku tidak mendapatkan respon darimu hingga detik ini juga. Yang terbersit dibenakku bahwa aku masih bersyukur dengan semua yang terbentang dihadapanku karena aku dan kamu masih berada diatas bumi dan dibawah langit yang sama. Dan semoga semua itu kelak bertahan hingga hatiku dan hatimu kian satu dan berada dijalur kehidupan yang sama. Amin
Malam pun tiba, aku memutuskan kembali dari lokasi perkemahan untuk mengemas barang-barangku berhubung keesokan harinya sudah kepingin berangkat ke Makassar. Sungguh berat aku meninggalkan teman-teman yang bertugas di lapangan namun apa daya aku harus pergi ke kegiatan lain dan demi memenuhi janji sudah aku putuskan. Karena ada kepentingan mendadak Farid berangkat terlebih dahulu sehingga aku berangkat ke Makassar hanya bersama kedua orang temanku yangdari keluaran Panti Asuhan.
Carrier 80 Liter kian memeluk erat dan melekat dipunggungku, kini kami berangkat dengan harapan aku bisa tinggal hingga tanggal 1 di lokasi lomba PMR di SMA 10 Makassar. Bermodalkan uang Rp. 80.000,- aku beranikan diri terjun ke Makassar karena aku juga punya pertemuan tenaga penyuluh kesehatan se-sulawesi selatan akhir bulan juni sekaligus terima honorarium sehingga sangat berharap dari pertemuan ini.
Keberangkatanku tak terkendala sedikitpun karena lindungan Allah SWT serta iringin angin rindu membelai lembut perjalananku yang membuat semangat menggegu-gebu terus mencengkeram tubuh ini. Berat tasku tak begitu terasa aku selempang karena lantunan musik pun turut membakar semangatku, berharap ke Makassar bisa bertemu dengan Rara yang alamatnya aku belum ketahui. Farid yang telah sampai ke Maros mendahului kami menelpon untuk singgah dirumahnya di Batangase yang merupakan setitik cerah untuk kami karena tengah mendapat tawaran tempat menginap pula yang sebelumnya tidak kami pikirkan.
Tak begitu lama akhirnya sampai juga ke Maros. Aku dan kedua orang temanku telah dinanti oleh Farid tepat depan gerbang ATKP Maros, yang menunjukkan tempat dia akan melaksanakan tes beberapa hari lagi. Senyumku meresponnya yang dia tak pernah tahu bahwa besar rasa iriku padanya yang kelak akan bertemu langsung dengan Rara. Kami pun bergegas istirahat, shalat dan makan siang berharap pukul 14.00 bisa berangkat kembali menuju Makassar ke Lokasi BLKI yang katanya di belakang Taman Makam Pahlawan.
Hanya berhitung menit kami telah tiba depan BLKI yang lucunya karena ternyata pendaftaran sudah lewat bahkan pengumuman ujian sudah ada tertempel di papan informasi. Hembusan napas kekecewaan tergambar diwajahnya ketika menancapkan pandangannya terhadapku. Aku yang merasa tergelitik dengan suasana dan raut wajah mereka, tiba-tiba tertawa lebar karena jauh-jauh dari Bone hanya untuk mendapatkan kenyataan yang memilukan seperti ini. Iseng-iseng menelpon salah satu nomor HP yang terpajang di Baliho depan BLKI seketika mendapat secercah harapan karena jurusan Las Bubuk yang mereka inginkan ternyata masih membutuhkan tenaga kurang lebih 5 orang dan mereka pun mengisi 2 diantaranya. Namun sialnya tak satupun berkas mereka bawa tanpa ijazah, kk, ataupun tanda identitas lainnya.
Mesjid pun kini menjadi tempat kami beristirahat sampai setelah shalat magrib sekaligus memutar pikiran karena tinggal berkas yang belum ada. Dengan berbagai konflik pikiranpun terjadi tapi akhirnya di rumah masing-masing menyanggupi untuk mengirimkan berkasnya keesokan hari membuat malam itu terasa begitu berpihak pada kami dan wujud kebahagiaan itu seketika meloncat riang gembira atas gerbang kesuksesan telah tergambarkan dipelupuk mata kedua orang sahabatku, Mastang dan Rizal.
Waktu menunjukkan 19.30 saat selesai melaksanakan shalat isya berjama’ah. Angin rindu kian mengacungkan jempolnya untuk kebersamaan kami, rasa lapar pun tak menjadi perhatian lagi seiring kebahagiaan yang meliputi kami saat itu meski sejujurnya aku sangat kelelahan dan lapar namun apa daya harus irit ditengah keadaan kantongku yang semakin menipis. Kami pun tidak ingin kebahagiaan malam itu berjalan singkat maka diputuskan untuk melanjutkan perjalanan menyaksikan indahnya keramaian Malam di Kota Makassar.
Berawal dari bertamu ketempat kerja salah seorang keluaran Panti Asuhan juga di Pettarani, pisang goreng Nugget. Kemudian ke Tanjung Bunga melewati anggunnya gedung-gedung yang berbaris menyambut kedatangan kami dari kampung. Dan setelah mondar-mandir kesana kemari melewati banyaknya tanda larangan akhirnya sampai juga ke Pantai Losari yang katanya mereka baru kali pertama menyaksikannya secara langsung. Akupun mengindahkan ungkapan mereka karena memang dulu aku memiliki kebanggaan yang sama ketika bisa menginjakkan kaki di kota daeng nan indah permai.
Diriku tergoda dengan panggilan angin rindu menuju tepi laut nan sepoi malam itu menikmati indahnya ciptaan Allah SWT yang tiada duanya mengingatkanku kepada keindahan yang Allah juga anugerahkan untuk sosok Rara. Dalam diamku aku kembali memperjelas ingatanku dan memperhatikan Wallpaper HP yang terpampang jelas wajah cantik itu membuat suasana hati semakin bahagia dan damai. Akupun mengirim pesan singkat kepadanya berharap Rara masih belum terlelap dalam tidurnya dan menemaniku dimalam yang begitu indah ini, seketika diatas getaran gelombang air laut aku memejamkan mata dan meresapi kehangatan rangkulan angin rindu yang senantiasa membisikkan nama Rara yang semakin membuatku rindu kepadanya.
Kantuk mulai membuyarkan konsentrasiku, waktu menunjukkan 01.25 dini hari saat kutinggalkan malam itu tanpa balasan pesan dari Rara yang mungkin sudah terlelap dalam tidurnya. Ra, selamat beristirahat ya aku disini akan tetap menanti dirimu walau tak pasti kau mengharapkanku hadir dihidupmu. Have a nice dream, I miss you.
Tanpa banyak komentar kami berlarian diudara berharap sampai kerumah Farid dengan segera. Motor yang aku kendarai pun turut berpacu dengan sisa tenaga yang dimiliki, tetap setia membawaku meski kelelahan yang luar biasa tengah melanda. Malam yang begitu luar biasa melelahkanku terus mendekam dibilik angin rindu dengan sebuah perasaan yang tak ada duanya.
Pagi yang indah dengan suara gemuruh pesawat yang melintas diatas rumah Farid membuat terbangun dan kami bergegas berangkat ke Mesjid untuk berbenah diri. Maklumlah rumah yang telah lama ditinggalkan penghuninya tak menyisakan air untuk keperluan mandi, masak, dll. Ginilah ternyata kehidupan jauh dari orang tua dan kampung sanak saudara yang segala sesuatunya tidak berada pada koridor kehidupan yang dipikirkan.
Dengan Carrier yang masih setia mendekap dan menemaniku kini kembali mencengkeram erat dipundak ini menuju lokasi tujuan kedua yaitu SMAN 10 Makassar di Jln. Tamangapa Raya No. 10. Lokasi lomba Palang Merah Remaja Se-Sulawesi Selatan. Aku yang mendampingi 4 sekolah dari Bone terlebih dahulu ke Lokasi untuk mengambil tempat kemah yang telah di kapling. Pusing hendak kemana membuatku pulang balik kesana kemari untuk menanyakan keberadaan letak Smapoel. Lucunya aku kehilangan jejak, tak tahu entah dimana dan terlihat sepi. Aku kagetnya minta ampun, pulsa habis tak tersisa dan tak ada yang bisa aku hubungi untuk memberi sejenak harapan untukku.
Memang susah kalau orang baru, mana lagi bensin motorku udah sekarat. Bermodalkan keberanian bertanya meski banyak mendapatkan tawa dari orang lain tapi akhirnya titik terang sudah menyambutku disaat jln. Tamangapa Raya udah didepan mata. Allah Maha segalanya dengan apa yang aku alami, tak henti-hentinya menuntunku dalam jalan yang salah dan akhirnya Pertamina juga udah ketemu. Perasaan tak percaya dan penuh rasa berat menyaksikan dompetku hanya bersisakan uang Rp.16.000 sedangkan kegiatan di Smapoel belum dimulai. Hari ini masih tanggal 26 Juni aku menghabiskan Rp. 10.000 lagi uangku membeli bahan bakar.
Pikirku tak dangkal karena aku berharap akan datang adik-adik dari Bone yang mungkin bisa meminjamkan sedikit uangnya untukku, apalagi akan ada pertemuan akhir bulan untukku menerima Honor selaku Tenaga Penyuluh Kesehatan Tingkat Prov. Sulsel. Kelegaan dalam hati mulai mengantarku kembali berlaju menuju Lokasi. Hingga malam pun tiba, Carrier yang mulai tersentuh dinginnya angin rindu tak kunjung mengecilkan kobaran semangat yang berharap beberapa hari lagi akan bertemu dengan Rara dalam rangka Tes Akademiknya di ATKP Maros. Semua ketakutan hilang yang awalnya bermunculan karena segala bekal yang aku bawa kini mulai sekarat disaat kegiatan di Makassar baru akan dimulai.
Carrier yang tersandar lemas bercumbu dengan motorku diparkiran Smapoel yang menemaniku menunggu kontingen SMAN 2 Bone. Bayangan perjuangan seharian penuh belum ada apa-apanya dan mengingatkanku betapa beratnya hidup ini yang setia dengan sebuah penantian yang tak pasti. Sosok Rara yang tak sedikitpun memberikan umpan balik atas sinyal cinta yang aku berikan. Mata dan hatiku kian bertengkar hebat saat dirimu hadir walau hanya dalam bayangan semata. Mata terus menghardik hatiku ketika Rara lebih dekat dihatiku ketimbang mata yang jarang menyaksikan keindahan sosok Rara dalam dunia yang nyata. Sinaran Lampu Bus Megah menyilaukan mataku bertuliskan Identitas dari Bone, bergegas kugambarkan senyum hangat menyambut mereka yang datang dari jauh seraya melupakan rintihan perut yang seharian tak pernah mengisi bahan bakar.
Tanpa pikir panjang kusapa satu persatu dan membantu mengosongkan Bus. Setelah kapling selesai terbagi, kamipun mendirikan tenda untuk peristirahatan malam itu. Detik-detik berdirinya tenda dengan kokoh, aku berharap sedikit merebahkan tubuh akan kelelahanku namun apalah daya kontingen MTsN Watampone pun telah menurunkan personilnya yang tak bisa aku biarkan bekerja tanpaku. Alasannya karena aku terlahir dari organisasi PMR MTsN Watampone.
Malam yang cukup panjang dengan semangat teman-teman dari Bone sedikit menghilangkan kegalauanku malam ini. Aku tak tahu harus mendahulukan mana dalam pikiranku, tapi yang jelas saat ini aku sungguh kelelahan dan membutuhkan sedikit makanan untuk mengantar kepembaringanku. Rara bolehkah sejenak aku mengistirahatkan pikiranku akan dirimu ? Tapi jangan jauh-jauh tetaplah menjagaku karena aku tak tahu apakah hari esok disaat aku membuka mata ini aku masih sebagai sosok pengangum atau sebagai seonggok mayat.
Angin rindu pun meneteskan air matanya untukku malam itu, malam disaat aku hanya membiarkan tubuhku semakin rapuh dengan kebodohanku yang hanya bisa diam dalam situasi yang membuatku lemah dan semakin terpuruk. Aku terdiam karena takut merepotkan teman-teman, aku sadari disini aku hanya sebagai Bina Damping untuk kalian. Tak lebih dari itu, tak pantas membuat repot kalian yang mempunyai jadwal lomba masing-masing.
Dengan sisa tenaga aku menyapu air mata Angin Rindu, dan membangkitkannya dengan keyakinan bahwa diriku akan baik-baik saja. Cukup dia membisikkan dalam setiap celah-celah mimpiku bahwa Rara masih menjagaku dalam ingatan ini.
Lelah masih memanjakanku dalam pembaringan yang tersinari oleh Matahari pagi. Ya Allah, maafkan aku melewatkan satu lagi kewajibanku tapi kenapa juga engkau masih memberiku napas dan hidup ini. Aku sering lalai ya Allah, kini aku bagai sebuah Angin Lampa (ALAM) yang terombang ambing entah kemana. Hanya kepadamu aku bergantung dan berpegang teguh. Terima kasih ya Allah atas semua karunia dan kesempatan ini. Angin Rindu oh Angin Rindu, kamu dimana ? aku sudah terbangun dari kelelahanku. Apakah kau membawa Rara lari yang tak ada disaat pikiranku mulai terbuka ?
Riuh-riuhan peserta lomba sejenak meramaikan hatiku yang sedang dilanda kegundahan. Apa yang harus aku lakukan besok ketika hendak bertemu dengan sosok Rara yang Asli. Dengan sisa tenaga akhirnya makanan pun terhidangkan diiringi kekangan hawa panas di dalam tenda kami.
Inilah aku yang selalu tak pernah bisa tenang saat berkegiatan. Mondar mandir untuk menyaksikan semua yang ada berharap bisa menjadi pelajaran berharga. Takutnya nanti tidak punya kesempatan lagi untuk menyaksikan semua yang Allah tengah hamparkan dihadapan kita. Akulah orang yang paling takut mati, takut mati tanpa berguna terlebih dahulu untuk keluarga dan orang lain, takut mati dalam keadaan sekarat Iman dan miskin Ilmu. Karena aku tahu amalku tak mungkin dikerjakan oleh orang lain maka selalu kumanfaatkan waktuku untuk semua itu dengan sedikit menuruti kemauan katiku akan hasrat cintanya kepada sosok wanita idaman.
Hari yang cukup padat mengantarkan kami kembali bersemangat, ditambah lagi kedatangan kontingen dari SMAN 1 Patimpeng dan MA Nusa Kahu yang menambah kekuatan dan kobaran semangat Wija to Bone dalam berkreasi dan berkarya dalam ajang lomba kepalangmerahan.
Tanpa ada unsur memihak sekolah dari 4 kontingen kabupaten Bone aku berusaha membagi waktu agar mereka semua bisa merasakan setetes manfaat akan kehadiranku ditengah-tengah mereka walau hanya sedetik. Tak lupa turut bersamaku angin rindu yang menjagaku dari banyaknya intaian cinta yang dangkal adanya. Aku yang kebetulan dipercayakan bernaun dan bertandang dikemah SMADA Bone turut menjaga rasa persaudaraan yang tinggi dengan tidak sedikitpun membebankan diriku kepada mereka. Satu kesalahanku yang paling fatal karena selalu diam sehingga mereka pun pusing akan apa yang aku inginkan karena mereka masih begitu asing dimataku, tapi aku sih enjoy aja yang penting bisa berbagi dan ada bersama mereka itu lebih dari cukup.
Satu hal yang membuatku begitu kecewa hari itu, disaat kekeringan kantongku sudah menjadi-jadi datanglah salah seorang pembina memberiku uang jajan katanya. Kegembiraan hatiku bukan main, dan tiba disaat kedatangan kontingen dari SMAN 1 Patimpeng aku pun bergegas membantu sebagai wujud sambutanku dan keramahanku selaku teman, kakak dan sahabatnya. Mengawali dengan meminta adik-adik dari SMADA Bone untuk menyajikan apa adanya untuk menyambut mereka, maka aku mempersilahkan untuk beristirahat sejenak kedalam tenda. 5 Menit berlalu dan tak sedikitpun wujud solidaritas dari adik-adik SMADA Bone membuatku malu setengah hidup, bergegaslah aku mencari jajanan untuk menutupi rasa malu dihadapan mereka. Mengorbankan semua uang yang diberikan pembina karena jumlah mereka yang cukup banyak, tanpa pikir panjang aku ludeskan semua berharap mereka senang dan merasa bahwa mereka bagian dari kami disini. Semangatku untuk kedatangan mereka dengan gendongan jajanan itu, ternyata tak disambut oleh mereka. Mereka malah pergi bepergian keluar dari tenda mungkin wujud kejengkelannya atau apalah terhadap perlakuan adik-adik SMADA. Tak satupun jajanan itu mereka sentuh, aku yang tercengang dengan kejadian ini hanya bisa menelan pil pahit.
Tawa kecut aku gambarkan ditubuh yang rapuh ini. Rara ???#@#%$* Apakah kamu melihat perlakuan mereka kepadaku ? saat ini aku butuh dirimu untuk sedetikpun menenangkan suasana hatiku yang tidak tahu harus berbuat apa. Yang ada dalam pikiranku hanyalah diam dan diam. Dan itulah yang senantiasa kupersembahkan kepada adik-adik dikala bertemu atau berpapasan dengannya. Salahkah aku ? Jadi aku harus bagaimana ? Hanya dengan jiwa solidaritas tinggi akan amanah yang aku emban kupersembahkan bingkisan tenaga untuk mereka. Tanpa sedikitpun membedakan satu sama lain. Hal ini sepercik aku ceritakan kepada Kak Anas (Seniorku di SBH) untuk mengakrabkan diriku waktu itu yang datang mengunjungi kami.
Sore yang begitu terik, kerongkongan yang amat kering layaknya cacing kepanasan merongrongku mencari air namun galon air pun kering rupanya. Aku masih sayang diriku yang masih dalam penantian maka kubelanjakan lagi sisa uangku demi membasahi sedikit organ-organku. Penyesalan pun muncul dengan menghardik kesalahan kepada diriku yang mementingkan diri, padahal besok Rara akan melaksanakan Tes Akademiknya yang mesti aku hadiri. Semalaman aku pusing memikirkan harus meminjam uang dari siapa biar punya modal berangkat menuju jalur Cinta yang telah digambarkan oleh Angin Rindu.
Diriku yang masih betah dengan diamku terhadap mereka, tak henti-hentinya menampakkan kegengsian. Aku tak bisa tertidur malam itu, kumenyendiri dibelakang lokasi perkemahan untuk berpikir positif bahwa aku harus menyampingkan gengsiku demi keinginanku menemui Rara di ATKP Maros. Angin Rindu hanya bertopang dagu dan menggerakkan bahunya seraya tidak tahu menahu harus bagaimana. Dari balik kegelapan malam aku menyaksikan sebuah sosok menghampiriku. Ternyata Kak Anas yang hendak pamit untuk pulang kerumah kostnya. Diujung genggaman tangannya dia membuatku menggelengkan kepala meneteskan air mata haru. Betapa tidak, orang yang begitu terbatas hidupnya hidup dikota orang masih peduli denganku yang terbilang bukan siapa-siapa dimatanya.
Sekali lagi sebuah harapan yang tak pernah kunjung putus menghampiriku untuk bertemu denganmu Rara. Tunggu aku ya Ra, aku akan kembali meyakinkanmu tentang adanya aku disini yang selalu menantimu walau aku tahu kau tak pasti membalas hasratku. Kantuk ternyata merobohkan haru itu, yang mengantarku untuk langsung berangkat menuju rumah Farid. Aku bermimpi saat dimana aku berkunjung kerumahnya memperkenalkanku dengan orang tuanya begitupun sebaliknya. Saling berbagi canda tawa, duduk bersama menyaksikan sunset kerinduan. Beliau yang akan melangsungkan Tes Akademik keesokan paginya, maka aku berangkat malam ini dengan bingkisan cinderamata yang masih aku simpan sewaktu dari kegiatan kemah digorontalo.
Farid menertawakanku sewaktu bertandang kerumahnya. Seorang Salama yang biasanya membuat cewek tergila-gila kini malah mengila-gilai cewek yang sedikitpun dia belum tahu asal usulnya. Hingga pagi pun tiba aku bergegas bangkit ketika ada telepon dari pembina untuk mendampingi adik-adik sewaktu ikut tehnical meeting salah satu lomba pukul 08.00. Ini amanah yang harus aku laksanakan karena memang tujuanku mendampingi adik-adik, berat hati akhirnya aku memutuskan hanya menitipkan kado untuk Rara. Ucapan terima kasih yang aku ukirkan didalamnya karena telah hadir dan mengisi hari-hariku yang indah akan ingatanku tentangnya. Farid yang cukup antusias pun mengiyakan untuk membantuku dengan diawali beberapa menit bermohon-mohon kepadanya, mungkin karena wajah keseriusanku membuatnya mampu memberanikan diri melaksanakan sesuatu yang tidak pernah dilakukan sebelumnya yaitu memberi kado untuk seorang cewek, Rara. Terima kasih sahabatku Farid, sampaikan kepadanya Aku sangat menyayanginya. Aku sungguh jatuh cinta padanya.
Mata bengkak terlingkarkan sapuan kehitaman tanda kurang tidur. Kondisi itu yang aku bawa ke Lokasi lomba, adik-adik yang sudah menungguku segera membawaku keruangan pertemuan. Hingga pertemuan usai tak satupun yang singgah dipikiranku, karena yang ada hanya Rara yang tidak sempat aku temui. Apalagi dalam keadaanku yang cukup dekil dan bau karena kanker yang menjalar tidak memungkinkan bertemu dengannya. Hanya titipan itu yang akan mewakili untaian bisikan lirih hatiku yang terus menanti dalam ketidakpastian.
Aku begitu heran dengan sikapku sendiri dalam kegiatan ini, yang biasanya selalu menjaga stylish dihadapan orang banyak kini bermasa bodoh. Mungkin karena tak adanya bekal yang aku punya tanpa sabun mandi, tanpa pasta gigi, pokoknya serba salah karena juga besar wujud rasa kegengsianku minjam sana sini. Oh Tuhan, aku tak mengeluh kok dengan keadaan ini karena aku tahu semua karang hidup ini akan menempaku menjadi lebih matang.
Hari ketiga dalam lokasi perkemahan tak membuatku terpuruk dengan situasiku, mulai mengakrabkan dengan adik-adik di SMADA Bone. Beda halnya dengan MTsN Watampone yang memang sudah begitu akrab bahkan panggilan Ayah kian melekat untukku. Bermula perkemahan di Amali anak MTsN mulai banyak memanggilku dengan sebutan Ayah karena memang aku banyak menghabiskan waktu dengannya hingga kini.
Tanyanya ibunya mana ? Keseringan mereka menyelinapkan canda dalam kebersamaan kami dengan penuh kegembiraan. Jawabku hanya sebuah penantian yang tak pasti. Aku yang terbilang tidak mau tunduk dengan keseriusan terkadang hanya tertawa lebar dengan menunjuk salah seorang diantara mereka.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

ANGIN RINDU


Awal baru dari Setetes Kenangan Terindah

Salama. Ya Salama. Itulah namaku yang kian disebut-sebut sebagai siswa teladan SMA Negeri 2 Watampone Tahun 2010. Ini merupakan hal yang sangat luar biasa karena orang sepertiku tak jarang mendapat cemoohan orang banyak tapi kini tengah menginjakkan tahta sebagai Siswa teladan.
Selama dua bulan lamanya aku digenjot untuk mengikuti kontes akbar seleksi Siswa Teladan Se- Kab. Bone. Diriku yang hanya berlatarbelakang sebagai salah seorang penghuni Panti Sosial Anak Asuhan Seroja tak pasrah dengan keadaan. Melainkan berjuang terus meski air mata selalu menemani disetiap derap langkah ini. Kesempatan ini aku jadikan batu loncatan untuk terus menjejaki langkah suksesku.
Selaku Ketua I PMR Unit SMA Negeri 2 Watampone, Ketua Koperasi Siswa, dan Wakil Ketua Osis, akupun tak lupa akan tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan tugas sebagaimana mestinya. Wajah hitam, dekil, fostur pas-pasan tak menjadi penghalang bagiku untuk terus berkreasi. Meski ejekan si KUTILANG DARAT alias Kurus Tinggi Langsing Dada Rata  kini melekat padaku, ya nikmati ajalah. Dalam hatiku berdoa, semoga itu merupakan sebuah motivasi terindah dalam lika-liku kehidupanku.
Hari ini, April 2010 tepatnya di SMA Negeri 4 Watampone. Saat dan tempat dimana aku harus bertemu dengan teman-teman Siswa Teladan dari seluruh pelosok Kab. Bone. Resah dan gelisah terus menghantui, ya wajarlah aku selalu minder bertemu dengan orang baru. Apalagi dengan wanita, aku selalu tertunduk malu dengan mata terpejam bukti kerendahan diriku. Itulah segelintir kekuranganku menghadapi orang banyak.
Jantung mulai berdebar kencang. Kami ditempatkan di ruangan kelas bersama para siswi. Dalam hatiku pun mulai putus asa akan tak mampunya diriku berdiri dengan percaya diri ketika berhadapan dengan wanita.
Kring kring kring kring…
Bunyi bel sekolah, menunjukkan waktu pelaksanaan seleksi akan segera dimulai.


“Anak–anakku, kalian akan dibagi menjadi dua tempat karena waktu yang cukup singkat, sehingga para siswa akan berpidato dan para siswi akan tes komputer terlebih dahulu” Ucap salah seorang panitia pelaksana.
Dengan hembusan napas pendek akupun mulai lega. Hanya hitungan jari, terdengarlah suaraku disebutkan diurutan pertama untuk berpidato Bahasa Inggris membuatku kaget setengah hidup. Dengan penuh percaya diri dan dorongan semangat dari ibu/bapak guru pendampingku kulangkahkan kaki dengan pelan tapi pasti seraya tak ada keraguan dihatiku. Yakinku dalam hati, aku pasti bisa.
Akhirnya semua berjalan lancar, dan saat itu juga aku memberanikan diri untuk berkenalan dengan salah seorang teman yang kayaknya cukup ramah.
“Hai, namaku Salama dari SMA Negeri 2 Watampone. Dari SMA Negeri 1 Lamuru ya..?” Ujarku dengan nada rendah.
“Oh iya. Kenapa..? Namaku Sulham” balasnya dengan senyuman di ujung bibirnya.

“Aku duduk terpaku merenungi nama itu, tertunduk dan teringat akan kenangan nama itu. Sebuah nama yang mengingatkanku terhadap kenangan masa lalu yang amat memilukan dan kini kian jauh dariku dan tahu entah dimana. Seraya sosok nama itu kini hadir membawa awal yang baru untukku.”

Aku memulai perkenalanku dengan menanyakan beberapa teman yang dari Lamuru yang beberapa saat lalu pernah bertemu dalam perkemahan Palang Merah di Lanca dan Jumbara PMR. Dengan mulai mengakrabkan diri, kumulai bertanya tentang rekannya yang menjadi Siswi Teladan dari sekolahnya.
“Rara. Dia adik kelasku.” Katanya dengan Singkat.
“RARA..??!!!?!#%$^*)*&(^@” Kataku heran dengan penuh ekspresi.
Sulham yang kelasnya setingkat denganku pun heran dengan ekpresiku yang agak aneh dengan tersebutnya nama itu. Namun, kumulai diam dan tersenyum untuk mengakhiri perbincanganku terhadapnya.

Seketika aku duduk terpaku merenungi nama itu, tertunduk dan teringat akan kenangan nama itu. Sebuah nama yang mengingatkanku terhadap kenangan masa lalu yang amat memilukan dan kini kian jauh dariku dan tahu entah dimana. Seraya sosok nama itu kini hadir membawa awal yang baru untukku. Diriku larut dalam lamunan dan tak menyadari air mataku menetes membasahi tangan ini. Sungguh cengeng seorang Salama ucapku dalam hati namun apa daya aku juga manusia yang punya perasaan dan masa lalu. Namun dengan cekatan aku langsung berlari menuju toilet untuk mencuci muka yang agak kusut. Dengan salah satu tangan menutup muka, kuberlari menuju toilet yang berada tak jauh dari ruang kelas. Dengan sejuta rasa kaget aku bertemu dengan teman Sulham yang kelihatannya pemalu dan pendiam. Aku hampir menabraknya yang mengenakan seragam sama persis dengan Sulham. Aku mulai melambatkan lariku dan sejenak memperhatikan wajah Indah dan mungil itu. Dia mengangkat lengan kanannya menyapu debu diwajahnya membuatku membelalakkan mata. Subhanallah Ya Allah sungguh anggun ciptaan – Mu.
Namun semua berlangsung sekejap karena waktu pelaksanaan seleksi akan berlanjut. Setelah bersih–bersih aku pun mulai berfikir akan kelanjutan seleksi itu. Konsentrasi pun mulai terbuyarkan setelah bertemu dengan seorang gadis dari SMA Negeri 1 Lamuru yang bernama Rara. Ya seorang wanita yang namanya nggak jauh beda cantiknya dengan orangnya.
Beberapa jam berlalu hingga usai waktu seleksi pun selesai. Alhamdulillah hasilnya pun langsung diumumkan. Meskipun tak sesuai dengan yang aku harapkan tapi telah sesuai dengan hasil jeri payahku ketika berada diurutan ketiga.
Namun, yang paling kusesali adalah belum sempat berkenalan dengan sosok misterius, Rara yang nama aslinya pun nggak sempat kuketahui. Yang begitu anggun dan penuh wibawa. Dan tentunya yang selalu terbayang dipikiranku tentangnya hanyalah secercah senyuman menawan dari wajah cantik itu. Dan juga lengan kokoh wanita tangguh yang terlingkarkan oleh gelang karet kecil berwarna hitam yang menyingkap debu usil diwajahnya.
Sejak hari itu, aku mulai menyadari bahwa Tuhan memang Maha Segala – Nya. Memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Setiap hari kujalani dengan penuh penasaran akan gadis yang bernama Rara itu. Aku terus mencari tahu tentangnya, namun nihil hasilnya karena domisiliku hanya di daerah Bone Kota sedangkan tempat tinggalnya di Bone Barat sana. Hanya seorang teman yang kebetulan mengajar di sekolahnya sesekali aku tanyai. Mungkin dengan angin rindulah aku hendak sampaikan kepadanya tentang isi hatiku ini. Bahwa aku kagum kepadanya.
Kini… Keseharian aku lalui dengan penuh kesendirian ketika memutuskan tinggal di Sekolah untuk menghemat waktu. Aku dipercayakan tinggal sebagai penjaga sekolah karena tak mampu pulang balik jalan kaki dari panti asuhan setiap hari yang penuh dengan jadwal bimbingan belajar. Dan tidak kusangka terasa bayangan gadis itu mulai sedikit demi sedikit hadir menemaniku. Berbagi suka duka dan menjadi motivasi akan bertemu dengannya suatu saat nanti dengan jubah kesuksesan.
Kurang lebih 1 tahun lamanya menghabiskan waktu sebagai penjaga sekolah, bergulat dengan kejamnya dunia. Akhirnya tiba diujung tombak masa pendidikan 12 tahunku yaitu aku dinyatakan lulus. Bukan hanya itu, bahwa peringkat 1 umum putra dan urutan 5 dari umum putri telah terpancang gagah diprasasti prestasiku yang terukir sejak awalku mengecam dunia pendidikan. Dan ini kupersembahkan untuk semua orang yang aku sayangi dan tentunya terhadap sosok misterius itu. Yang tanpa terasa sekian lama terus membuatku penasaran dan membuatku termotivasi kelak akan bertemu dengannya.
Malam itu, malam pembagian jubah kebesaran akan peringkat dan prestasi terbaik. Merupakan momen luar biasa dalam perjumpaan terakhir bersama para guru dan teman sebelum berangkat menuju jalan kehidupan masing - masing. Namun, sungguh amat besar kesedihanku ketika tidak bisa hadir karena nggak mampu bayar uang kegiatan itu sebesar Rp. 50.000,00. Jauh – jauh hari aku sudah memutuskan kembali ke kampung untuk meminta uang dari orang tua. Namun apalah daya semua tidak bisa dipaksakan, aku mulai menabung tapi tak kunjung cukup. Sehingga aku pun memutuskan untuk tidak hadir.
Pagi yang cerah itu, kumerenungkan betapa kecewanya orang – orang yang kusayangi dan Rara karena nggak bisa mengumandangkan ukiran prestasi itu diatas singgasana podium kebanggaan. Terhentak dan tersadar getar Handphoneku membuyarkan renungan itu, ternyata teman dari palang merah mengajak untuk melaksanakan perkemahan di Bone Selatan.
Dengan bermodalkan motor pinjaman serta peralatan kemah seadanya, aku berangkat menuju kegiatan tersebut di MA/MTs Nusa Kahu. Akupun melewatkan malam itu di lokasi perkemahan Bone Selatan. Beberapa hari dalam kegiatan itu Alhamdulillah dipenghujung kegiatan  mendapatkan uang jalan. Dan memutuskan melanjutkan perjalananku menuju Lamuru, untuk sejenak tahu letak SMA Negeri 1 Lamuru dan ingin mengobati kerinduan itu walau hanya lewat angin rindu di Lamuru.
Rekan pun tidak banyak tahu tentang keberangkatanku kesana karena aku beralasan mau tahu jalan ke Bone Kota lewat Lapri. Jadi kamipun berpisah dengan harapan aku bisa mengetahui jalan.
Dua jam terasa singkat ketika melewati perjalanan yang cukup menantang. Dan akhirnya sampai juga aku injakkan kaki ini ke SMA Negeri 1 Lamuru yang Nampak sepi. Hanya depan gerbang kududuk di atas motor belalang tempur ini dengan perasaan menggebu-gebu. Kucoba membuka kontak handphoneku berharap masih ada tersimpan nomor teman-teman jumbara. Sialnya nomor itu ada sama handphone adikku. Setelah aku hubungi ternyata tidak aktif ya jadi hanya sekedar hadir melihat situasi sekolah yang membentuk karakter para siswa (i) menjadi generasi bangsa yang berkompeten.
Meskipun tidak ada yang bisa aku hubungi untuk tahu tentang Rara. Tapi aku cukup bahagia karena telah ada di tempat orang yang bisa dikatakan kagum padanya disaat pandangan pertama. Senyuman itu, wibawa itu, dan tentunya kecerdasan yang beliau miliki.
Aku pun menengok ke segala arah memastikan tak ada orang sedang mengawasiku. Kemudian kumulai memejamkan mata ini, dalam hati aku memohon semoga kedatanganku kesini bukanlah yang pertama dan terakhir melainkan yang pertama dan seterusnya sampai kutahu sosok inspirasi itu. Ya kira-kira sampai kutemukan kunci pintu hatinya yang mungkin terbilang mustahil terbuka untuk orang sepertiku, amin.
Aku pun tersenyum dengan semua ini, nggak nyangka bisa sampai juga di tempat seseorang yang sedikitpun aku nggak kenali namun terus membuatku penasaran. Tapi kelak aku pasti akan tahu kalau kemauan ini terus bertahan dan tumbuh.
Beberapa bulan berlalu..
Sampai pada akhirnya kegiatan Invitasi PMR di Taretta. Saat itu karena sibuk mengurusi adik-adik SMADA sehingga tidak menyadari bahwa kontingen SMA Negeri 1 Lamuru sudah datang mendahului kami. Hari demi hari berlalu di lokasi perkemahan aku hanya aktif mendampingi adik-adik yang Pembina lagi kuliah di Makassar. Malam terakhir barulah aku menyadari dari kejauhan kumelihat sosok yang tak asing dipelupuk mata ini.

“Sambutan ramah dari semua teman SMA Negeri 1 Lamuru menghangatkan suasana apalagi dari keremang-remangan malam itu menambah keromantisan suasana. Aku hanya bisa menatap wajah cantik itu dengan sinaran redup lampu pijar di belakang area perkemahan. Kini dia berdiri tepat di hadapanku dengan bedak tipis dipipi merona itu.”

Rara. Ya Rara. Tidak salah lagi. Yang selama ini aku cari-cari ternyata telah ada bersamaku disini di bumi perkemahan Taretta. Aku pun nggak tahu cara menjumpainya. Malu, takut, rindu, penasaran, pokoknya ambur adul deh perasaanku malam ini. Wah kayak gado-gado aja nih jadinya, ambur adul tapi enak banget  loh.
Nah akhirnya aku punya ide untuk bersilaturahmi kesemua kontingen yang ikut dalam perkemahan ini. Mulai dari tingkat madya terus ke tingkat wira. Setelah berkeliling memimpin adik-adik PMR SMADA akhirnya sampailah kepada tempat yang sudah kunanti-nanti dan tentunya bertemu dengan orang yang selama ini terus hadir dalam mimpi-mimpi indahku.


Sambutan ramah dari semua teman SMA Negeri 1 Lamuru menghangatkan suasana apalagi dari keremang-remangan malam itu menambah keromantisan suasana. Aku hanya bisa menatap wajah cantik itu dengan sinaran redup lampu pijar dari belakang area perkemahan. Kini dia berdiri tepat dihadapanku dengan bedak tipis dipipi merona itu.
Dengan lancarnya aku membuka perbincangan kunjungan  malam ini dan tak sedikitpun melepas pandangan itu seraya meraba inchi demi inchi keindahan ciptaan Tuhan ini.
Waktu bersamanya terasa selalu begitu singkat, akhirnya tiba waktu untuk ramah-tamah. Teman-teman mulai menyeruduk dari belakang hendak ramah tamah terus bergegas kembali ke tenda mengingat waktu sudah larut malam. Aku pun tak menyadari apakah tangan indah seorang Rara sempat aku sentuh atau tidak karena tiba-tiba salah seorang adik sedang kesurupan di tenda. Akupun segera meninggalkan kontingen mereka menuju tenda kami.
Keesokan harinya. Semua kegiatan selesai dan satu persatu tenda mulai terbaring hendak kembali keperaduannya. Kami belum bergerak melakukan pembongkaran karena mobil akan datang terlambat. Aku yang duduk terdiam memandangi semua personil SMA Negeri 1 Lamuru tengah sibuk mempersiapkan kepulangannya. Akhirnya mereka menghampiri kami untuk ramah-tamah kembali. Hah..???? sungguh kaget setengah hidup seorang Rara menghampiri dan bersalaman denganku. Sungguh tangan yang sangat eksotis, membuat perasaan ini terasa melayang ke angkasa luas, seketika kumerasa angin rindu telah menyaksikanku dibalik awan dengan kedipan matanya dan membisikkan “Jagalah hatimu untuknya”.
“Inilah dia orang yang selalu kunanti-nanti” Ucapku sebelum menggapai tangan itu.
“Iya dong. Rara emang selalu dinanti-nanti” jawabnya dengan penuh candaan dan senyuman hangat yang menggetarkan hati setiap orang yang memandangnya.

Aku mulai memperjelaskan wajah cantik itu, dengan aksesoris yang sungguh menawan. Mata, hidung, senyuman, pokoknya aku kagum dengan semua apa yang ada padanya. Ra, tahukah engkau Rasa kagum itu kini berubah menjadi cinta. Ya aku jatuh cinta sama kamu Rara. Ucapku dalam hati kecil ini. Karena cinta diperuntukkan bagi siapa pun yang patut menerimanya. Sebab cintai mulai bersemi didalam kalbu yang paling dalam yang tidak pernah dialami sebelumnya, laksana benang baja yang diikat dua pasak.
Lambai melambai tangan dari atas truk yang mengangkut kontingen SMA Negeri 1 Lamuru mulai meredupkan suasana hatiku yang lagi dilanda kasmaran sungguh bahagia teramat sangat. Oh Tuhan, terima kasih atas rasa yang telah engkau berikan. Perasaan sedih pun melanda dan kumulai membalas lambaian itu, ungkapan senyuman dari semua teman-teman diujung keberangkatan truk megah itu memberi secercah harapan bahwa ini bukanlah akhir dari segalanya.
Semenjak saat itu kutelah mendapatkan nomor handphonenya. Perasaan menggebu-gebu itu selalu hadir dan mendamaikanku ketika ingatan selalu mengintip dibalik angin rindu kepada sang idola hati, Rara. Kumulai menaruh perasaan istimewa itu kedalam brangkas hati kecilku yang tak seorang pun tahu. Kubingkai dengan ketulusan hati, penuh dengan pengharapan, terkunci dan tercover dengan seksama berharap akan tetap awet dan tidak ada orang lain yang mengisinya.

“Cinta diperuntukkan bagi siapa pun yang patut menerimanya. Sebab cintai mulai bersemi didalam kalbu yang paling dalam yang tidak pernah dialami sebelumnya, laksana benang baja yang diikat dua pasak.”

Sungguh perasaan yang sulit untuk dibendung. Sosok yang cerdas, organisator, stylish, pokoknya pas kena dihati ini. Setiap saat hanya kutitip kerinduan ini lewat angin rindu. Terkadang diwaktu senggang kuberangkat dengan penuh kesendirian ke puncak gunung untuk bertatapan langsung dengan sang angin rindu, mencurahkan seluruh isi hatiku. Berteriak sekencang-kencangnya hingga larut malam sampai air mata kerinduan ini menetes dipipi akan segala keterbatasanku yang tak mampu menggapai seorang Rara untuk ada disampingku. Ataupun ke pelabuhan Bajoe bertemu dengan goresan aksesoris Tuhan, dan turut bersamaku angin rindu bertiup membelai tubuh yang rapuh ini. Semua waktu senggang aku habiskan untuk blak-blakan dengan angin rindu tentang keanggunan sosok Rara. Dan meratapi kenangan terindah bersama Rara (Rahma) yang kini telah menjadi kekasih halal orang lain.
Kini pengumuman jalur undangan telah dibentangkan di dunia maya. Aku yang mendaftarkan profilku di UNHAS pada Fakultas Kesehatan Masyarakat dan Tehnik Arsitektur, sedangkan di UNM pada Fakultas Matematika dan PGSD Bone. Ya alhamdulillah dengan bermodalkan nilai rapor, aku lulus di PGSD Bone dengan beasiswa Bidik Misi sampai selesai kuliah. Meskipun tak sesuai keinginanku aku tetap tabah dengan semuanya dan harapan besarku melanjutkan pendidikan dikutub pendidikan Sulsel yaitu di Makassar usai sudah karena tidak lulus dan untuk mengikuti tes SNMPTN aku pun tak sanggup karena tidak adanya dukungan orang tua. Kedua orang tua yang hanya lulusan SD pun hanya menuntutku bekerja, namun aku terus meyakinkan mereka tentang arti sebuah pendidikan dan aku menginginkan itu untuk masa depanku.
Tuhan pasti sudah mempunyai rencana yang terbaik untukku. Mungkin karena aku anak pertama dari 3 bersaudara, keluarga di kampung masih menginginkanku hadir setelah 6 tahun tidak bersamanya. Ibu yang tengah menitipkanku ke panti asuhan karena ketidakmampuan keluarga membiayai sekolahku kini mulai mengharapkanku hadir menjaga mereka ditengah kerentanan ayah yang menginjak usia 82 tahun.
Aku pun mulai sadar, inilah rencana sang Khaliq. Aku yang masih punya kehidupan di Palang Merah, Pramuka, Pencinta Alam, Seni dan budaya di Bone membuatku termotivasi untuk bertahan dengan keputusan yang menghampiriku. Apalagi PMI masih bisa berangkat melaksanakan perkemahan ke sekolah-sekolah, dan satu sekolah yang paling kuinginkan untuk kukunjungi adalah SMA Negeri 1 Lamuru. Ya maklumlah ada seseorang sangat ingin aku temuin. Rara, dialah orangnya.

Kalau boleh jujur aku hobby dikesehatan jadi sangat menginginkan kuliah dikesehatan pula namun apa daya ekonomi tak memungkinkan dan tak terduga pada saat itu juga aku mendapatkan tawaran dari rekan yang bekerja di Dinas Kesehatan Kab. Bone untuk mengemban kampus di Bone jurusan FKM, Farmasi, Kebidanan dan keperawatan. Ya dengan beberapa hari memikirkan hal tersebut aku memutuskan untuk memilih jalanku sendiri dan membangun dari awal karirku di Fakultas Kesehatan Masyarakat dan membatalkan beasiswa dari UNM-PGSD. Satu catatan yang terpenting dalam hidupku saat itu bahwa hidup merupakan pilihan dan jangan pernah menyesal dengan pilihan tersebut serta seperti apapun suatu pekerjaan harus dilandasi dengan ketenangan, kesenangan dan kedamaian dalam melaksanakannya. Karena percuma aku di PGSD kalau hanya untuk mencari nama dan tidak menimbulkan kesenangan dalam hidupku dan tentunya akan membawaku dalam penyesalan dimasa depan.
Saat menjelang pendaftaran ulang di PGSD ada panggilan pertemuan Saka Bakti Husada di Dinas Kesehatan Provinsi dan mendapatkan rekomendasi untukku dapat menjadi Tenaga Penyuluh kesehatan di Puskesmas tempat tinggalku di Palakka. Sehingga, aku memutuskan untuk melanjutkan kuliahku di FKM yang bermitra dengan Universitas Patria Artha Makassar. Sehingga dengan seketika pula berjamuran semua teman-teman, guru-guru mencemooh pilihanku yang katanya sangat bodoh. Saat itu aku dicap sebagai orang terbodoh di dunia karena telah menyia-nyiakan kesempatan beasiswa dan bebas tes di PGSD.
Dengan senyuman kecut dibibirku, kumulai berbalik membelakangi semua orang yang terus merendahkanku. Aku memang orang rendah sejak TK sampai saat ini namun semua adalah pilihanku yang membuatku senang dan bahagia. Inilah aku, aku akan jadi diriku sendiri. Kan kujadikan semua cemoohan itu sebagai cover awal karirku sebagai motivasi hidupku. Memang sejak masuk di MTsN Watampone orang tua memang sudah lepas tangan terhadapku. Sehingga tidak tahu sekolahku dimana, tempat keseharianku, pokoknya banyak namun satu hal terpenting bahwa kalau pulang kampung baru aku bercerita semua tentangku.
Kini aku sudah menjalankan kuliahku dalam suka duka berharap aku yang sebagai angkatan pertama sekaligus anggota pengelola sedikit demi sedikit akan merintis dan membuktikan bahwa mereka salah telah melontarkan cemoohan kepadaku. Dan kini telah berdiri sendiri menjadi STIKES Mahakarya Watampone yang masih punya Mitra dengan Universitas Kadiri Jawa Timur dan alhamdulillah aku pun terpilih menjadi ketua MPM di kampus dan merilis terbentuknya Korps Sukarelawan.
Satu hal terpenting tak henti-hentinya Rara dan Rara yang selalu kian kujadikan khayalan yang selalu mendukungku dengan ingatan senyuman hangatnya itu. Yang telah ada dalam brangkas hatiku. Yang senantiasa selalu aku rawat dan jaga karena wujud asli itu belum saatnya aku miliki. Ya mungkin saja sekarang sosok itu dan hati itu masih ada yang miliki.
Oh iya, satu hal yang menonjol dari seorang Rara yaitu dia demam Korea. Mulai dari lagu, artis, sampai dengan bahasanya. Ini aku dapat info dari teman yang kebetulan juga terbilang pandai berbahasa korea. Aku sih ngebayangin pasti Rara orangnya cute banget dengan hobbynya itu. Siapa sih gadis yang nggak geregetan ketika melihat para artis-artis Korea itu. Ya mungkin seperti itulah aku kepadanya meskipun aku hanya terdiam karena kalau terlalu diungkit-ungkit entar cepat juga bosannya. Nomor handphone udah ditangan tapi tetap aja takut ngehubungin ntar dia bilang “siapa lo”..? tapi ya beranikan diri aja deh.
Ternyata aku salah, dia begitu ramah dan bersahabat. Aku tak salah pilih meskipun agak sedikit cuek tapi inilah tantangannya. Aku meminjam buku belajar bahasa korea secara autodidak milik teman dan mengkopi semua rekaman-rekaman koreanya berharap bisa sedikit menarik perhatiannya kepadaku. Seminggu telah kuusahakan sedikit tahu tentang bahasa korea. Namun, hasilnya nihil karena semakin aku membaca dan mendengarkan bahasa itu semakin membuatku pusing 7 keliling. Pikirku tak menyerah untuk hanya sedikit menarik perhatian itu. Karena aku yakin aku juga punya kesempatan dihatinya.
Tiba suatu hari dia mengirimkan sms yang berbahasa korea namun sumpah aku tidak mengerti. Jadi aku memutuskan menghubungi teman yang juga hobby berbahasa korea dan akhirnya aku bisa jawab. Sebulan aku meminjam buku itu tapi tidak bisa juga. Ya aku memutuskan untuk sejenak berhenti dan fokus dengan apa yang sedang aku jalani. Karena terbersit dibenakku bahwa mungkin masih ada cara lain untuk bisa menarik perhatiannya padaku. Aku jalani hari-hari penuh penantian akan harapan sedikit dia menorehkan wajah cantik itu kepadaku. Berbagi senyuman, canda tawa, suka duka, tapi untuk saat ini masih sebuah khayalan belaka. Angin rindu kian selalu bertopang dagu menemani dan terus menemani kala kesendirianku, terus menjagaku dari banyaknya cinta yang dangkal adanya.
Aku teringat suatu ketika aku bersama kak Mardi dari melatih PMR di Bone Selatan. Kebetulan dia mengajakku untuk singgah di Pantai Tete Tonra katanya siswanya dari SMA Lamuru lagi mengadakan penelitian disana. Tanpa pikir panjang pun aku tak menolak ajakan itu dengan harapan Rara yang selalu ada dikhayalanku kian ada disana dalam wujud yang nyata. Sesampainya disana disambut hangat oleh Pak Nur Ilahi yang merupakan Pembina PMR. Dan untungnya ada Cindra temanku dalam Jumbara PMR tingkat Prov. Sulsel di Islamic Center Bone jadi nggak garing deh suasananya. Dari kejauhan kupandangi seorang gadis yang menurut kata hatiku itu adalah Rara.
Kacamata lebar berlensa bening menambah keindahan mata itu. Tak sedikitpun mataku berkedip memandanginya. Tapi sebaliknya dia tak sedikitpun memandangiku dan menolehku namun aku sadar mungkin diriku tidaklah pantas dipandang olehnya.
Aku dan dengannya memang jauh berbeda. Tapi aku bersyukur masih bisa menyaksikan sosok yang selama ini kuimpi-impikan. Lagi-lagi pertemuan singkat yang sangat luar biasa membahagiakanku. Sungguh indah rupawan sosok gadis yang bernama Rara. Bagiku keindahan bukanlah bayangan yang diimpikan dan nyanyian yang selalu dirindukan melainkan keindahan adalah bayangan yang terlihat di kala mata tertutup, dan nyanyian yang terdengar dikala telinga tersumbat.
Aku tersadar dari lamunan indah bersamanya yang selalu terasa sangat singkat. Saat ini silih berganti cinta yang datang untuk membongkar brangkas hati itu. Namun, aku tidak pernah  peduli karena banyak hal yang masih ingin kucapai untuk semua orang yang aku sayangi utamanya keluargaku. Aku tidak mau cinta yang datang itu membutakanku dan larut didalamnya dan membuat masa depanku buram. Ya, apalagi Ibuku tuh paling tidak mau aku terlalu dekat sama seorang gadis karena takut prestasiku rusak dengan pengaruh-pengaruh luar. Katanya aku yang akan menjadi tiang dan ujung tombak keluarga kelak jadi harus berhati-hati dalam melangkah dan memilih. Itu nasihat yang selalu melekat dihati dan pikiran ini, oleh karena itu aku selalunya tertunduk dan terdiam ketika ada cinta mengintai dari setiap celah-celah kehidupan.

“Keindahan bukanlah bayangan yang di impikan dan nyanyian yang selalu dirindukan melainkan keindahan adalah bayangan yang terlihat di kala mata tertutup, dan nyanyian yang terdengar di kala telinga tersumbat.”

Satu hal yang membuatku risih ketika teman-teman menganggapku Gay, utamanya teman-teman Pencinta Alam selalu aja bawa gadis untuk dikenalkan kepadaku tapi tetap saja aku tidak mau. Apalagi memang kalau di kampus, di La Tenritappu Institute, Palang Merah, Pramuka, aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama seorang laki-laki dalam berkegiatan tapi aku pertegas dan meyakinkan kepada dunia bahwa aku masih normal dan aku masih punya cinta yang tidak mau terkontaminasi dengan pergaulan bebas. Ya jangan salah memang aku ini orang pendiam dan pemalu tapi masalah pergaulan dan teman aku tidak mau ketinggalan mulai dari pemulung, tukang becak, preman, pejabat, polisi, pokoknya banyak yang diajak akrab dan tengah belajar dari semua kehidupan yang mereka jalani. Paling sering nih aku diajak merokok, minum miras, sama teman-teman preman, apa aja sesuai dengan teman yang aku jejaki namun bagi hal yang negatif tak jarang aku hanya tersenyum dan menolak dengan penuh keramahan karena aku orang punya pendidikan dan tidak mau masa depanku hancur hanya karena pergaulan yang nikmatnya sementara. Aku memang miskin, aku memang menderita, tapi aku tidak mau mengakhiri hidup ini karena rokok, miras, dan punya banyak musuh serta berbagai masalah dunia fana ini. Sehingga sejak saat itu juga aku mulai menjauh dari mereka yang malah terus memojokkanku dengan jalan hidup yang menjadi pilihanku.
Dalam anggapanku satu-satunya orang tidak pernah bersalah adalah orang tidak pernah melakukan sesuatu. Maka jangan pernah takut untuk bertindak dan salah, karena yang salah itu ketika terus terjatuh dikesalahan yang sama, bukan soal jatuhmu yang penting tapi bangkitmu. Sedikit kutipan singkat setiap hendak melakukan sebuah perubahan dalam diri ini. Karena itu aku selalu mencoba dan terus mencoba hal baru sehingga nantinya bisa tahu potensi diriku sebenarnya.
Awal bulan oktober sudah menjadi awal pelatihan PMR di seluruh sekolah-sekolah yang punya PMR Unit. Mulai berdatangan surat permintaan bantuan pelatih ke PMI Kab. Bone untuk meminta fasilitator. Akupun yang terbilang masih baru menjadi fasilitator turut ikut membantu ya sekalian mencari pengalaman dan mengisi waktu daripada hanya di rumah terus menulis dalam ruang 4x4 meter bergelut dengan layar maya dengan gerakan lentik tangan diatas tombol laptop titipan anak ayahku dari istri yang lain.

“Satu-satunya orang tidak pernah bersalah adalah orang tidak pernah melakukan sesuatu. Maka jangan pernah takut untuk bertindak dan salah, karena yang salah itu ketika terus terjatuh dikesalahan yang sama. Bukan soal jatuhmu yang penting, tapi bangkitmu.”

Diantara semua pelaksanaan kegiatan perkemahan yang menjadi tujuanku hanya satu yang paling kunanti-nanti ya sudah pasti di SMA Negeri 1 Lamuru. Tempat yang pernah kujejakkan kakiku dalam pencarian jadi diri seorang idola yang asal usul sampai hari ini aku tidak tahu. Akhirnya bukan sebagai pengisi waktu luang melainkan udah sebagai rutinitas seorang relawan untuk terus turun menjadi fasilitator. Setiap hari kamis sd. ahad harus menyiapkan waktu. Aku yang baru kali ini cukup penuh dengan jadwal pelatihan kena batunya juga badan jadi tidak fit jadinya. Saat itu rencananya malam tahun baru aku menginginkan ikut bersama kak Mardi untuk ke acara tahun baru 2012 SMA Negeri 1 Lamuru dipuncak. Namun, apalah daya aku juga terpilih menjadi pembawa acara malam tahun baru di baruga maccoppo tellu'E Ponceng alias Kajao La Tenritappu. Jadi harus mengorbankan semua acara dulu di malam tahun baru. Sungguh Kasihan nasib ini, cintaku penuh dengan lika-liku yang mudah-mudahan dia tahu arti semua yang aku jalani.


Beberapa bulan berlalu tiba dimana pendiklatan SMA Negeri 1 Lamuru akan dimulai. Hari itu kami baru saja tiba dari kegiatan kemah di tellusiattinge dan langsung berangkat dalam acara pembukaan meskipun tanpa mandi dulu. Kata kak Anong entar disekolah aja bersih-bersihnya karena mobil pak sekretaris Markas sudah menunggu dan siap berangkat. Ya akupun nggak menolak karena aku betul-betul sudah kangen berat sama Rara. Namun nahasnya tak sesuai dengan apa yang kuharapkan ternyata dia tidak ada saat itu, mataku tertuju meraba semua wajah yang ada dihadapanku tapi tetap saja sinyal itu nggak ada. Ya mungkin inilah kisah cintaku yang susahnya minta ampun, namun saat ini tak membuatku larut didalamnya karena aku tengah berhadapan dengan adik-adik PMR dan akupun sedikit memberikan nyanyian berjudul Pisang-Donat kepada para peserta.
“Ampar-ampar pisang, pisangku pisang raja, walau berbiji tapi enak rasanya. Walau berbiji tapi enak rasanya..” awal aku menyanyi dihadapan adik-adik seraya melupakan kegundahan hatiku saat ini.
“Saya punya kue, kue Donat namanya. Walau berlubang tapi enak rasanya, walau berlubang tapi enak rasanya.” Sambungku mengingat hidangan kami tadinya adalah Donat Plus teh kotak.
Hari itu aku pulang dengan sedikit senyum hangat dari adik-adik menggantikan senyum seseorang yang amat istimewa dihatiku yang hingga kini enggan terbersit untukku.
Akupun kembali ke Markas PMI dan karena sangat kelelahan sampai ketiduran di mobil dan tidak sadar sudah sampai. Aku pun kembali ke rumah dengan semangat karena perasaan lelah itu terbalaskan setelah dari berkunjung ke SMA Negeri 1 Lamuru dan sedikit istirahat.
Hari H pelaksanaan pendiklatan PMR Unit SMA Negeri 1 Lamuru telah tiba. Sialnya bertepatan dengan Finalku di kampus mana lagi aku sedang dilanda demam. Hari itu kak Mardi dan kak Anong telah berangkat terlebih dahulu karena aku lagi dalam proses final Test Biologi. Konsentrasi memudar saat kegundahan dalam hati melanda entah kira-kira apa yang harus aku katakan ketika tiba-tiba bertemu dengannya. Ya dengan bergandengan angin rindu aku meluncur menuju SMA Negeri 1 Lamuru bersama headset ditelinga berirama lagu merdu nan penuh kisah kasih cinta  menambah semangat perjalananku.

Demam itu terasa hilang seketika mengingat ingin bertemu dengan seseorang yang selama ini aku kagumi, aku sayangi. Aku selalu terpikirkan kapan ya Rara bisa menafsirkan maksud hati ini. Kapan juga dia akan merindukan belahan jiwa ini dan berbisik kepadaku.
“Tuhanku yang Maha cinta, mudah-mudahan dari semua jiwa baik yang kau anggunkan kehidupannya, ADA SATU JIWA yang sangat mencintaiku, yang  memuliakanku, yang hidup untuk memelihara kedamaian hatiku, yang memperhatikanku sebagai harta yang paling berharga baginya, yang berbahagia mensetiakan hidupnya kepadaku, dan yang aku cintai dan muliakan sepanjang hidupku, Amin.” Bisikan yang sangat aku inginkan darinya.
Tanpa aku sadari perjalananku kayaknya sudah terlampau jauh karena aku sudah memasuki kawasan yang bertuliskan Kab. Soppeng di tugu dekat jembatan tepatnya daerah Muttiara. Untung kak Anong nelpon dan memanggilku kembali. Aku tertawa kecil dalam hati, inikah rasanya lagi dilanda kasmaran dan ingin ketemu dengannya sampai nggak sadar sudah kelewatan sampai sejauh ini.

“Tuhanku yang Maha cinta, mudah-mudahan dari semua jiwa baik yang kau anggunkan kehidupannya, ADA SATU JIWA yang sangat mencintaiku, yang  memuliakanku, yang hidup untuk memelihara kedamaian hatiku, yang memperhatikanku sebagai harta yang paling berharga baginya, yang berbahagia mensetiakan hidupnya kepadaku, dan yang aku cintai dan muliakan sepanjang hidupku.”

Tak pernah kuukur kerinduanku dengan pengukur berjubah bebintangan. Aku pun tidak pernah menghitung kedalamannya. Sebab kutahu cintai akan mengantarai perhitungan ruang dan waktu justru dikala cinta itu sendiri tengah dibaluri oleh madu-madu kerinduan. Seuntai bisikan angin rindu dalam perjalanan ini. Tak kusangka akhirnya sampai juga dan letaknya ternyata di belakang makam raja-raja lamuru. Ya sejenak kuhembuskan napas lega dan mulai kulangkahkan kaki menuju lokasi perkemahan penuh percaya diri dan tak lupa menitipkan motor di rumah salah seorang warga.

Suara riuh-riuhan dari kejauhan terdengar layaknya pusat keramaian dan menandakan bahwa lokasi perkemahan tengah ramai dengan adik-adik peserta. Wah, sialnya setelah sampai ke tenda yang telah disiapkan tiba-tiba kepala ini terasa mau pecah. Sakitku kambuh ditambah lagi maagku menjadi-jadi. Akupun berekspresi kecut dihadapan teman-teman. Kak Anong yang antusias terhadapku langsung memberitahu kepada Pembina untuk membuatkan susu. Ya susu. Kak Anong tahu aja hobbyku minum susu sekaligus obat juga buatku. Hem, untungnya direspon baik jadi aku tertidur sebentar lalu sakitku sudah reda.

“Tak pernah kuukur kerinduanku dengan pengukur berjubah bebintangan. Aku pun tidak pernah menghitung kedalamannya. Sebab kutahu cintai akan mengantarai perhitungan ruang dan waktu justru dikala cinta itu sendiri tengah dibaluri oleh madu-madu kerinduan.”

Malampun tiba aku sempat berbincang-bincang dengan seorang siswa yang katanya letting dari Rara. Aku menyempatkan diri bertanya sedikit banyak tentang Rara. Ditengah keseriusan perbincangan tentang gadis idamanku itu, handphone berdering dan mendapat panggilan bahwa hari sabtu akan ada final karena lagi-lagi dosen ada kegiatan hari senin jadi final dimajukan lagi. Ya mau nggak mau aku harus pulang lebih awal agar nilai-nilai tidak mampet.
Keeseokan  harinya barulah Rara datang bersama temannya Nisra dan Cindra. Terasa seperti mimpi, wanita yang terus hadir dalam mimpi indahku kini ada dihadapanku dan bersamaku. Inilah kali kedua aku menyentuh tangan itu. Aku merasa tidak mau melepaskan tangan ini karena aku sungguh jatuh cinta padanya.  Sekali lagi terucap dari bibirku “inilah orang yang selalu dinanti-nanti”. Baginya mungkin hanyalah candaan belaka namun tidak masalah yang penting dia masih bisa membelai lembut hati ini dengan senyum manis dari wajah cantik menawan itu. Inilah cinta dengan jubah kelembutannya, bertengger dihadapan kita, tapi terkadang banyak orang malah melarikan diri darinya dalam ketakutan dan bersembunyi dalam kegelapan, padahal yang lain mengejarnya demi memenuhi nafsu kejahatannya dengan mengatasnamakan cinta. Ra, tidak adakah responmu untukku..?? Sekali lagi perjumpaan singkat dan selalunya waktu bersamanya terasa begitu singkat.
Akupun kembali ke Bone untuk mengikuti final test walaupun mata masih memerah akibat begadang semalaman suntuk. Aku terus mengemban karirku dalam dunia kesehatan demi pemberdayaan masyarakat yang mandiri dan berkeadilan. Melalui dari semua ini aku mulai sedikit demi sedikit tahu dan mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari betapa pentingnya sehat dikandung badan.
Akhir-akhir ini aku mulai aktif di dunia maya untuk mencari akun miliknya, setiap aku berhadapan dengan dunia maya hanya akun Rara, Rara dan Rara yang menjadi sumber pencarian. Memang atas nama itu banyak tapi tidak ada yang pernah menyamai Rara yang tengah mengisi relung jiwa ini. Setelah berusaha sekian lama akhirnya ketemu juga akun facebook itu, hamparan wajah indah seorang Rara di dunia maya yang sungguh anggun menawan namun tak lebih dari wajah cantik wujud aslinya. Bersama dengan angin rindu kumulai tersenyum lega, sedikitnya telah tergambar jelas akan keindahan sosok wanita ini. Ada apa denganku, aku sungguh terkesima dengan dirinya tapi bagaimana dengannya ?
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat sampai tiba saatnya pengumuman ujian nasional diumumkan. Alhamdulillah Rara lulus dengan peringkat juara umum di sekolahnya, sungguh kebanggaan yang tiada tara darinya dan dari semua orang yang menyayanginya. Dan dengan prestasi dia hendak melanjutkan ketingkatan yang lebih luas lagi antara ATKP (Akademik Teknik dan Keselamatan Perkapalan) dan UNHAS.

“Cinta dengan jubah kelembutannya, bertengger dihadapan kita, tapi kita malah melarikan diri darinya dalam ketakutan dan bersembunyi dalam kegelapan, padahal yang lain mengejarnya demi memenuhi nafsu kejahatannya dengan mengatasnamakan cinta.”



Perasaan bangga bercampur was was karena dia akan semakin jauh dariku. Kini dia akan mengarungi samudera kehidupan yang lebih luas lagi dan tentunya semakin banyak ombak yang akan menerpa dan menghadang dalam perjalanannya. Aku terus berusaha menghubunginya untuk meyakinkan bahwa aku sungguh mencintainya dan tidak mau kalau seandainya aku akan kehilangan Rara untuk kedua kalinya. Siang kunanti malam jadi impian, terlalu berlebihan tapi itulah kenyataannya. Sungguh indah sosok wanita itu membuatku larut dalam lamunan cinta sehingga kutuangkan dalam sebuah tulisan sederhana pengukir segelintir perjalanan hidup fana ini. Kini pun dengan seketika kulayangkan pesan singkat untuk meminta izin mendownload potret dirinya yang begitu anggun menawan. Rasanya aku tak pernah mendapatkan diriku sebegitu bahagia, seperti saat jiwaku mengingat Rara terlebih memandangi potret wajahnya.
Siang malam kukirim pesan singkat dan telepon tapi toh tidak ada respon. Mungkin baginya aku hanyalah angin lalu yang hanya sesekali bertiup membelai lembut diwajahnya. Dia tak pernah tahu aku bukan sekedar angin tapi puting beliung yang sesekali datang dan kedatangan itu punya kekuatan yang luar biasa untuk mendapatkan apa yang menjadi tekadku.
Aku mengerti akulah yang salah aku terlalu cemas akan jauhnya dirimu dariku. Aku akui memang terlalu lebay, ya aku akui karena aku cinta sama kamu. Aku hanya sekedar ingin tahu kamu lagi apa ?, sudah shalat belum ?, baik-baik aja nggak ?. Saat pertama aku menelpon sungguh indah berbinar-binar suara gadis idamanku itu. Aku hanya terdiam dan terus memasang telinga untuk mendengar jelas suara itu, karena aku sangat rindu akan dirimu. Sungguh bahagia aku saat ini tengah diberikan kesempatan untuk mendengarkan suara indah dan tertawamu itu. Namun yang aku dapat diujung pembicaraan itu, “tidak apa-apajeki mengganggu asalkan bukanji pulsaku yang habis”. Seketika aku berpikir itulah tanda ketidakpantasanku dimatanya. Terima kasih aja atas semuanya,dan  aku senang kok dengan semua itu. Aku mulai sedikit tersadar dari tidurku dalam belaian angin rindu.



Segelintir yang kudapatkan darinya,
Maaf sblmx tp klo bisa tdk usahmi mnelpon, klo ada yg mau d.smpaikan sms saja krna agak risihka' sy klo trima telpon. N jgnmi sms klo pagi krna kadang badmoodka' klo bangunka saat blm waktux. !! (Kutipan pesan singkat darinya).
Seketika terhempas dan termenung akan semua itu. Aku memang lancang telah mengenalmu, aku memang bukanlah siapa-siapa dimatamu. Semua pesanku dihandphonemu layaknya virus yang tak pantas direspon olehmu karena pastinya akan menjadi-jadi, benarkah ? Kalau tidak, lalu kenapa ucapanku, sapaku, pesanku tak pernah ada umpan baliknya sedikitpun. Sakit pun mulai mengintip dibalik brangkas hati ini untuk mendobrak cinta yang tengah bercengkerama dihati ini.
Awal yang baru memang tak seindah yang semua orang bayangkan.
Malam ini, kubisikkan dalam doaku.
Tuhanku yang maha pengasih,
Tabahkanlah hatiku yang sedang rapuh ini, untuk tetap meyakini yang kutahu sebagai yang benar, untuk ikhlas melakukan yang kutahu harus kulakukan, untuk sabar menghadapi orang – orang yang sulit, dan untuk tegar melampaui masalah, agar aku sampai di padang pembahagiaanku.
Tuhanku,
Hatiku yang letih ini rindu istirahat dalam kedamaian.
Rara Sayangilah aku.
Aku takkan menyerah memberikan keyakinan dihatimu tentang betapa inginnya diriku akan dirimu. Hingga pada suatu hari aku hendak menjumpainya karena wujud kerinduanku yang bertepatan dengan jadwal tes Akademiknya di makassar. Sedikit mengorbankan waktu Final Testku tidak jadi masalah. Berharap dengan kehadiranku bisa meyakinkan bahwa aku sangat mencintainya. Meski aku tahu bahwa diriku belum ada dalam daftar hatinya dan akupun tidak berharap lebih selain ucap Cinta dari bibirmu karena untuk saat ini akupun belum menginginkan jalinan hubungan dangkal dalam ikatan fana yang hanya akan memudarkan semua hasrat kehidupan cinta ini. Yang aku inginkan kelak cinta yang aku punya terjaga dalam ikatan halal nan sakral.
Namun apa daya semua tak sesuai dengan harapanku, pengorbanan ini hanya berbalas kerlingan mata sinis darimu yang beranggapan aku lelaki kurang kerjaan. Tidak bisa dibilangin sampai-sampai harus datang tanpa diundang seperti ini. Dalam hatiku terujar terima kasih atas kesakitan yang engkau gambarkan dipelangi cinta ini. Namun harus kamu tahu aku kan terus mengirimkan perasaan ini yang terbelenggu dalam kerinduan bersama angin rindu yang masih setia menemani kini dan nanti.
Tahukah engkau ??
Lelaki itu praktis. Ingin hidup bahagia bersama wanita yang mendamaikannya.
Mungkin karena keinginan, atau karena cinta, seseorang menjadikan pujaannya seperti malaikat yang menjelma dalam dirinya. Pandangan mata ini tidak pernah berhenti melihat kebaikan yang mengelilingi aura tubuhmu tanpa harus melihat keburukan yang dilakukan. Pancaran seorang pengagum sejati itu ibarat seekor burung yang terbang tinggi ke angkasa yang tidak pernah berpikir apakah nantinya akan tetap terbang tinggi bersama endapan angin rindu atau jatuh tersungkur merasakan sakit di sekujur tubuh akibat hasrat terkekang dan kerinduan yang terbelenggu.
Rindu yang begitu hebat kini mendekam dibalik brangkas hatiku. Perasaan itu, membuatku seakan melupakan dunia beserta isinya dan berkeinginan selalu hadir dalam mimpi indah gadis pujaanku, Rara. Dan pada suatu hari, dengan segala kedalaman hati, aku membuat sebuah buku berisi ungkapanku terhadapmu, laksana goresan emas yang kupersembahkan untukmu dihari ulang tahun ke-18. Sebagai pemberian terbaik hasil buah tangan rapuh ini yang akan kupersembahkan kepadamu jika pertemuan disuatu acara atau berpapasan di persimpangan jalan. Hari ini aku menantimu tapi yang kudapatkan hanyalah sepi yang mencekam.
Angan ingin selalu bertemu telah membuat api cinta menyala-nyala dikegelapan hatiku. Kata cinta untukmu adalah sebenar-benarnya perkataan yang terucap dari lubuk hatiku, walaupun cinta itu nantinya harus bertepuk sebelah tangan. Kerinduan yang menyengat perasaanku telah membuat tubuh ini lelah terpaku menatap langit dan hanya angin rindu terus membelai dalam kesendirianku. Sebab, tidak ada balasan pesan singkat atau bentuk perhatian darimu.
Berulang kali aku mengirim pesan singkat kepadamu dan mengharap balasan, tapi balasan itu tak kunjung tiba. Yang ada hanyalah goresan pedang memahat sembilu luka dalam hatiku.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
SALAMAdventure. Diberdayakan oleh Blogger.

Pallapi Aro.na Angingnge