Sample Text

Popular Posts

Blogger Tricks

Blogger Themes

RSS

ANGIN RINDU


Awal baru dari Setetes Kenangan Terindah

Salama. Ya Salama. Itulah namaku yang kian disebut-sebut sebagai siswa teladan SMA Negeri 2 Watampone Tahun 2010. Ini merupakan hal yang sangat luar biasa karena orang sepertiku tak jarang mendapat cemoohan orang banyak tapi kini tengah menginjakkan tahta sebagai Siswa teladan.
Selama dua bulan lamanya aku digenjot untuk mengikuti kontes akbar seleksi Siswa Teladan Se- Kab. Bone. Diriku yang hanya berlatarbelakang sebagai salah seorang penghuni Panti Sosial Anak Asuhan Seroja tak pasrah dengan keadaan. Melainkan berjuang terus meski air mata selalu menemani disetiap derap langkah ini. Kesempatan ini aku jadikan batu loncatan untuk terus menjejaki langkah suksesku.
Selaku Ketua I PMR Unit SMA Negeri 2 Watampone, Ketua Koperasi Siswa, dan Wakil Ketua Osis, akupun tak lupa akan tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan tugas sebagaimana mestinya. Wajah hitam, dekil, fostur pas-pasan tak menjadi penghalang bagiku untuk terus berkreasi. Meski ejekan si KUTILANG DARAT alias Kurus Tinggi Langsing Dada Rata  kini melekat padaku, ya nikmati ajalah. Dalam hatiku berdoa, semoga itu merupakan sebuah motivasi terindah dalam lika-liku kehidupanku.
Hari ini, April 2010 tepatnya di SMA Negeri 4 Watampone. Saat dan tempat dimana aku harus bertemu dengan teman-teman Siswa Teladan dari seluruh pelosok Kab. Bone. Resah dan gelisah terus menghantui, ya wajarlah aku selalu minder bertemu dengan orang baru. Apalagi dengan wanita, aku selalu tertunduk malu dengan mata terpejam bukti kerendahan diriku. Itulah segelintir kekuranganku menghadapi orang banyak.
Jantung mulai berdebar kencang. Kami ditempatkan di ruangan kelas bersama para siswi. Dalam hatiku pun mulai putus asa akan tak mampunya diriku berdiri dengan percaya diri ketika berhadapan dengan wanita.
Kring kring kring kring…
Bunyi bel sekolah, menunjukkan waktu pelaksanaan seleksi akan segera dimulai.


“Anak–anakku, kalian akan dibagi menjadi dua tempat karena waktu yang cukup singkat, sehingga para siswa akan berpidato dan para siswi akan tes komputer terlebih dahulu” Ucap salah seorang panitia pelaksana.
Dengan hembusan napas pendek akupun mulai lega. Hanya hitungan jari, terdengarlah suaraku disebutkan diurutan pertama untuk berpidato Bahasa Inggris membuatku kaget setengah hidup. Dengan penuh percaya diri dan dorongan semangat dari ibu/bapak guru pendampingku kulangkahkan kaki dengan pelan tapi pasti seraya tak ada keraguan dihatiku. Yakinku dalam hati, aku pasti bisa.
Akhirnya semua berjalan lancar, dan saat itu juga aku memberanikan diri untuk berkenalan dengan salah seorang teman yang kayaknya cukup ramah.
“Hai, namaku Salama dari SMA Negeri 2 Watampone. Dari SMA Negeri 1 Lamuru ya..?” Ujarku dengan nada rendah.
“Oh iya. Kenapa..? Namaku Sulham” balasnya dengan senyuman di ujung bibirnya.

“Aku duduk terpaku merenungi nama itu, tertunduk dan teringat akan kenangan nama itu. Sebuah nama yang mengingatkanku terhadap kenangan masa lalu yang amat memilukan dan kini kian jauh dariku dan tahu entah dimana. Seraya sosok nama itu kini hadir membawa awal yang baru untukku.”

Aku memulai perkenalanku dengan menanyakan beberapa teman yang dari Lamuru yang beberapa saat lalu pernah bertemu dalam perkemahan Palang Merah di Lanca dan Jumbara PMR. Dengan mulai mengakrabkan diri, kumulai bertanya tentang rekannya yang menjadi Siswi Teladan dari sekolahnya.
“Rara. Dia adik kelasku.” Katanya dengan Singkat.
“RARA..??!!!?!#%$^*)*&(^@” Kataku heran dengan penuh ekspresi.
Sulham yang kelasnya setingkat denganku pun heran dengan ekpresiku yang agak aneh dengan tersebutnya nama itu. Namun, kumulai diam dan tersenyum untuk mengakhiri perbincanganku terhadapnya.

Seketika aku duduk terpaku merenungi nama itu, tertunduk dan teringat akan kenangan nama itu. Sebuah nama yang mengingatkanku terhadap kenangan masa lalu yang amat memilukan dan kini kian jauh dariku dan tahu entah dimana. Seraya sosok nama itu kini hadir membawa awal yang baru untukku. Diriku larut dalam lamunan dan tak menyadari air mataku menetes membasahi tangan ini. Sungguh cengeng seorang Salama ucapku dalam hati namun apa daya aku juga manusia yang punya perasaan dan masa lalu. Namun dengan cekatan aku langsung berlari menuju toilet untuk mencuci muka yang agak kusut. Dengan salah satu tangan menutup muka, kuberlari menuju toilet yang berada tak jauh dari ruang kelas. Dengan sejuta rasa kaget aku bertemu dengan teman Sulham yang kelihatannya pemalu dan pendiam. Aku hampir menabraknya yang mengenakan seragam sama persis dengan Sulham. Aku mulai melambatkan lariku dan sejenak memperhatikan wajah Indah dan mungil itu. Dia mengangkat lengan kanannya menyapu debu diwajahnya membuatku membelalakkan mata. Subhanallah Ya Allah sungguh anggun ciptaan – Mu.
Namun semua berlangsung sekejap karena waktu pelaksanaan seleksi akan berlanjut. Setelah bersih–bersih aku pun mulai berfikir akan kelanjutan seleksi itu. Konsentrasi pun mulai terbuyarkan setelah bertemu dengan seorang gadis dari SMA Negeri 1 Lamuru yang bernama Rara. Ya seorang wanita yang namanya nggak jauh beda cantiknya dengan orangnya.
Beberapa jam berlalu hingga usai waktu seleksi pun selesai. Alhamdulillah hasilnya pun langsung diumumkan. Meskipun tak sesuai dengan yang aku harapkan tapi telah sesuai dengan hasil jeri payahku ketika berada diurutan ketiga.
Namun, yang paling kusesali adalah belum sempat berkenalan dengan sosok misterius, Rara yang nama aslinya pun nggak sempat kuketahui. Yang begitu anggun dan penuh wibawa. Dan tentunya yang selalu terbayang dipikiranku tentangnya hanyalah secercah senyuman menawan dari wajah cantik itu. Dan juga lengan kokoh wanita tangguh yang terlingkarkan oleh gelang karet kecil berwarna hitam yang menyingkap debu usil diwajahnya.
Sejak hari itu, aku mulai menyadari bahwa Tuhan memang Maha Segala – Nya. Memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Setiap hari kujalani dengan penuh penasaran akan gadis yang bernama Rara itu. Aku terus mencari tahu tentangnya, namun nihil hasilnya karena domisiliku hanya di daerah Bone Kota sedangkan tempat tinggalnya di Bone Barat sana. Hanya seorang teman yang kebetulan mengajar di sekolahnya sesekali aku tanyai. Mungkin dengan angin rindulah aku hendak sampaikan kepadanya tentang isi hatiku ini. Bahwa aku kagum kepadanya.
Kini… Keseharian aku lalui dengan penuh kesendirian ketika memutuskan tinggal di Sekolah untuk menghemat waktu. Aku dipercayakan tinggal sebagai penjaga sekolah karena tak mampu pulang balik jalan kaki dari panti asuhan setiap hari yang penuh dengan jadwal bimbingan belajar. Dan tidak kusangka terasa bayangan gadis itu mulai sedikit demi sedikit hadir menemaniku. Berbagi suka duka dan menjadi motivasi akan bertemu dengannya suatu saat nanti dengan jubah kesuksesan.
Kurang lebih 1 tahun lamanya menghabiskan waktu sebagai penjaga sekolah, bergulat dengan kejamnya dunia. Akhirnya tiba diujung tombak masa pendidikan 12 tahunku yaitu aku dinyatakan lulus. Bukan hanya itu, bahwa peringkat 1 umum putra dan urutan 5 dari umum putri telah terpancang gagah diprasasti prestasiku yang terukir sejak awalku mengecam dunia pendidikan. Dan ini kupersembahkan untuk semua orang yang aku sayangi dan tentunya terhadap sosok misterius itu. Yang tanpa terasa sekian lama terus membuatku penasaran dan membuatku termotivasi kelak akan bertemu dengannya.
Malam itu, malam pembagian jubah kebesaran akan peringkat dan prestasi terbaik. Merupakan momen luar biasa dalam perjumpaan terakhir bersama para guru dan teman sebelum berangkat menuju jalan kehidupan masing - masing. Namun, sungguh amat besar kesedihanku ketika tidak bisa hadir karena nggak mampu bayar uang kegiatan itu sebesar Rp. 50.000,00. Jauh – jauh hari aku sudah memutuskan kembali ke kampung untuk meminta uang dari orang tua. Namun apalah daya semua tidak bisa dipaksakan, aku mulai menabung tapi tak kunjung cukup. Sehingga aku pun memutuskan untuk tidak hadir.
Pagi yang cerah itu, kumerenungkan betapa kecewanya orang – orang yang kusayangi dan Rara karena nggak bisa mengumandangkan ukiran prestasi itu diatas singgasana podium kebanggaan. Terhentak dan tersadar getar Handphoneku membuyarkan renungan itu, ternyata teman dari palang merah mengajak untuk melaksanakan perkemahan di Bone Selatan.
Dengan bermodalkan motor pinjaman serta peralatan kemah seadanya, aku berangkat menuju kegiatan tersebut di MA/MTs Nusa Kahu. Akupun melewatkan malam itu di lokasi perkemahan Bone Selatan. Beberapa hari dalam kegiatan itu Alhamdulillah dipenghujung kegiatan  mendapatkan uang jalan. Dan memutuskan melanjutkan perjalananku menuju Lamuru, untuk sejenak tahu letak SMA Negeri 1 Lamuru dan ingin mengobati kerinduan itu walau hanya lewat angin rindu di Lamuru.
Rekan pun tidak banyak tahu tentang keberangkatanku kesana karena aku beralasan mau tahu jalan ke Bone Kota lewat Lapri. Jadi kamipun berpisah dengan harapan aku bisa mengetahui jalan.
Dua jam terasa singkat ketika melewati perjalanan yang cukup menantang. Dan akhirnya sampai juga aku injakkan kaki ini ke SMA Negeri 1 Lamuru yang Nampak sepi. Hanya depan gerbang kududuk di atas motor belalang tempur ini dengan perasaan menggebu-gebu. Kucoba membuka kontak handphoneku berharap masih ada tersimpan nomor teman-teman jumbara. Sialnya nomor itu ada sama handphone adikku. Setelah aku hubungi ternyata tidak aktif ya jadi hanya sekedar hadir melihat situasi sekolah yang membentuk karakter para siswa (i) menjadi generasi bangsa yang berkompeten.
Meskipun tidak ada yang bisa aku hubungi untuk tahu tentang Rara. Tapi aku cukup bahagia karena telah ada di tempat orang yang bisa dikatakan kagum padanya disaat pandangan pertama. Senyuman itu, wibawa itu, dan tentunya kecerdasan yang beliau miliki.
Aku pun menengok ke segala arah memastikan tak ada orang sedang mengawasiku. Kemudian kumulai memejamkan mata ini, dalam hati aku memohon semoga kedatanganku kesini bukanlah yang pertama dan terakhir melainkan yang pertama dan seterusnya sampai kutahu sosok inspirasi itu. Ya kira-kira sampai kutemukan kunci pintu hatinya yang mungkin terbilang mustahil terbuka untuk orang sepertiku, amin.
Aku pun tersenyum dengan semua ini, nggak nyangka bisa sampai juga di tempat seseorang yang sedikitpun aku nggak kenali namun terus membuatku penasaran. Tapi kelak aku pasti akan tahu kalau kemauan ini terus bertahan dan tumbuh.
Beberapa bulan berlalu..
Sampai pada akhirnya kegiatan Invitasi PMR di Taretta. Saat itu karena sibuk mengurusi adik-adik SMADA sehingga tidak menyadari bahwa kontingen SMA Negeri 1 Lamuru sudah datang mendahului kami. Hari demi hari berlalu di lokasi perkemahan aku hanya aktif mendampingi adik-adik yang Pembina lagi kuliah di Makassar. Malam terakhir barulah aku menyadari dari kejauhan kumelihat sosok yang tak asing dipelupuk mata ini.

“Sambutan ramah dari semua teman SMA Negeri 1 Lamuru menghangatkan suasana apalagi dari keremang-remangan malam itu menambah keromantisan suasana. Aku hanya bisa menatap wajah cantik itu dengan sinaran redup lampu pijar di belakang area perkemahan. Kini dia berdiri tepat di hadapanku dengan bedak tipis dipipi merona itu.”

Rara. Ya Rara. Tidak salah lagi. Yang selama ini aku cari-cari ternyata telah ada bersamaku disini di bumi perkemahan Taretta. Aku pun nggak tahu cara menjumpainya. Malu, takut, rindu, penasaran, pokoknya ambur adul deh perasaanku malam ini. Wah kayak gado-gado aja nih jadinya, ambur adul tapi enak banget  loh.
Nah akhirnya aku punya ide untuk bersilaturahmi kesemua kontingen yang ikut dalam perkemahan ini. Mulai dari tingkat madya terus ke tingkat wira. Setelah berkeliling memimpin adik-adik PMR SMADA akhirnya sampailah kepada tempat yang sudah kunanti-nanti dan tentunya bertemu dengan orang yang selama ini terus hadir dalam mimpi-mimpi indahku.


Sambutan ramah dari semua teman SMA Negeri 1 Lamuru menghangatkan suasana apalagi dari keremang-remangan malam itu menambah keromantisan suasana. Aku hanya bisa menatap wajah cantik itu dengan sinaran redup lampu pijar dari belakang area perkemahan. Kini dia berdiri tepat dihadapanku dengan bedak tipis dipipi merona itu.
Dengan lancarnya aku membuka perbincangan kunjungan  malam ini dan tak sedikitpun melepas pandangan itu seraya meraba inchi demi inchi keindahan ciptaan Tuhan ini.
Waktu bersamanya terasa selalu begitu singkat, akhirnya tiba waktu untuk ramah-tamah. Teman-teman mulai menyeruduk dari belakang hendak ramah tamah terus bergegas kembali ke tenda mengingat waktu sudah larut malam. Aku pun tak menyadari apakah tangan indah seorang Rara sempat aku sentuh atau tidak karena tiba-tiba salah seorang adik sedang kesurupan di tenda. Akupun segera meninggalkan kontingen mereka menuju tenda kami.
Keesokan harinya. Semua kegiatan selesai dan satu persatu tenda mulai terbaring hendak kembali keperaduannya. Kami belum bergerak melakukan pembongkaran karena mobil akan datang terlambat. Aku yang duduk terdiam memandangi semua personil SMA Negeri 1 Lamuru tengah sibuk mempersiapkan kepulangannya. Akhirnya mereka menghampiri kami untuk ramah-tamah kembali. Hah..???? sungguh kaget setengah hidup seorang Rara menghampiri dan bersalaman denganku. Sungguh tangan yang sangat eksotis, membuat perasaan ini terasa melayang ke angkasa luas, seketika kumerasa angin rindu telah menyaksikanku dibalik awan dengan kedipan matanya dan membisikkan “Jagalah hatimu untuknya”.
“Inilah dia orang yang selalu kunanti-nanti” Ucapku sebelum menggapai tangan itu.
“Iya dong. Rara emang selalu dinanti-nanti” jawabnya dengan penuh candaan dan senyuman hangat yang menggetarkan hati setiap orang yang memandangnya.

Aku mulai memperjelaskan wajah cantik itu, dengan aksesoris yang sungguh menawan. Mata, hidung, senyuman, pokoknya aku kagum dengan semua apa yang ada padanya. Ra, tahukah engkau Rasa kagum itu kini berubah menjadi cinta. Ya aku jatuh cinta sama kamu Rara. Ucapku dalam hati kecil ini. Karena cinta diperuntukkan bagi siapa pun yang patut menerimanya. Sebab cintai mulai bersemi didalam kalbu yang paling dalam yang tidak pernah dialami sebelumnya, laksana benang baja yang diikat dua pasak.
Lambai melambai tangan dari atas truk yang mengangkut kontingen SMA Negeri 1 Lamuru mulai meredupkan suasana hatiku yang lagi dilanda kasmaran sungguh bahagia teramat sangat. Oh Tuhan, terima kasih atas rasa yang telah engkau berikan. Perasaan sedih pun melanda dan kumulai membalas lambaian itu, ungkapan senyuman dari semua teman-teman diujung keberangkatan truk megah itu memberi secercah harapan bahwa ini bukanlah akhir dari segalanya.
Semenjak saat itu kutelah mendapatkan nomor handphonenya. Perasaan menggebu-gebu itu selalu hadir dan mendamaikanku ketika ingatan selalu mengintip dibalik angin rindu kepada sang idola hati, Rara. Kumulai menaruh perasaan istimewa itu kedalam brangkas hati kecilku yang tak seorang pun tahu. Kubingkai dengan ketulusan hati, penuh dengan pengharapan, terkunci dan tercover dengan seksama berharap akan tetap awet dan tidak ada orang lain yang mengisinya.

“Cinta diperuntukkan bagi siapa pun yang patut menerimanya. Sebab cintai mulai bersemi didalam kalbu yang paling dalam yang tidak pernah dialami sebelumnya, laksana benang baja yang diikat dua pasak.”

Sungguh perasaan yang sulit untuk dibendung. Sosok yang cerdas, organisator, stylish, pokoknya pas kena dihati ini. Setiap saat hanya kutitip kerinduan ini lewat angin rindu. Terkadang diwaktu senggang kuberangkat dengan penuh kesendirian ke puncak gunung untuk bertatapan langsung dengan sang angin rindu, mencurahkan seluruh isi hatiku. Berteriak sekencang-kencangnya hingga larut malam sampai air mata kerinduan ini menetes dipipi akan segala keterbatasanku yang tak mampu menggapai seorang Rara untuk ada disampingku. Ataupun ke pelabuhan Bajoe bertemu dengan goresan aksesoris Tuhan, dan turut bersamaku angin rindu bertiup membelai tubuh yang rapuh ini. Semua waktu senggang aku habiskan untuk blak-blakan dengan angin rindu tentang keanggunan sosok Rara. Dan meratapi kenangan terindah bersama Rara (Rahma) yang kini telah menjadi kekasih halal orang lain.
Kini pengumuman jalur undangan telah dibentangkan di dunia maya. Aku yang mendaftarkan profilku di UNHAS pada Fakultas Kesehatan Masyarakat dan Tehnik Arsitektur, sedangkan di UNM pada Fakultas Matematika dan PGSD Bone. Ya alhamdulillah dengan bermodalkan nilai rapor, aku lulus di PGSD Bone dengan beasiswa Bidik Misi sampai selesai kuliah. Meskipun tak sesuai keinginanku aku tetap tabah dengan semuanya dan harapan besarku melanjutkan pendidikan dikutub pendidikan Sulsel yaitu di Makassar usai sudah karena tidak lulus dan untuk mengikuti tes SNMPTN aku pun tak sanggup karena tidak adanya dukungan orang tua. Kedua orang tua yang hanya lulusan SD pun hanya menuntutku bekerja, namun aku terus meyakinkan mereka tentang arti sebuah pendidikan dan aku menginginkan itu untuk masa depanku.
Tuhan pasti sudah mempunyai rencana yang terbaik untukku. Mungkin karena aku anak pertama dari 3 bersaudara, keluarga di kampung masih menginginkanku hadir setelah 6 tahun tidak bersamanya. Ibu yang tengah menitipkanku ke panti asuhan karena ketidakmampuan keluarga membiayai sekolahku kini mulai mengharapkanku hadir menjaga mereka ditengah kerentanan ayah yang menginjak usia 82 tahun.
Aku pun mulai sadar, inilah rencana sang Khaliq. Aku yang masih punya kehidupan di Palang Merah, Pramuka, Pencinta Alam, Seni dan budaya di Bone membuatku termotivasi untuk bertahan dengan keputusan yang menghampiriku. Apalagi PMI masih bisa berangkat melaksanakan perkemahan ke sekolah-sekolah, dan satu sekolah yang paling kuinginkan untuk kukunjungi adalah SMA Negeri 1 Lamuru. Ya maklumlah ada seseorang sangat ingin aku temuin. Rara, dialah orangnya.

Kalau boleh jujur aku hobby dikesehatan jadi sangat menginginkan kuliah dikesehatan pula namun apa daya ekonomi tak memungkinkan dan tak terduga pada saat itu juga aku mendapatkan tawaran dari rekan yang bekerja di Dinas Kesehatan Kab. Bone untuk mengemban kampus di Bone jurusan FKM, Farmasi, Kebidanan dan keperawatan. Ya dengan beberapa hari memikirkan hal tersebut aku memutuskan untuk memilih jalanku sendiri dan membangun dari awal karirku di Fakultas Kesehatan Masyarakat dan membatalkan beasiswa dari UNM-PGSD. Satu catatan yang terpenting dalam hidupku saat itu bahwa hidup merupakan pilihan dan jangan pernah menyesal dengan pilihan tersebut serta seperti apapun suatu pekerjaan harus dilandasi dengan ketenangan, kesenangan dan kedamaian dalam melaksanakannya. Karena percuma aku di PGSD kalau hanya untuk mencari nama dan tidak menimbulkan kesenangan dalam hidupku dan tentunya akan membawaku dalam penyesalan dimasa depan.
Saat menjelang pendaftaran ulang di PGSD ada panggilan pertemuan Saka Bakti Husada di Dinas Kesehatan Provinsi dan mendapatkan rekomendasi untukku dapat menjadi Tenaga Penyuluh kesehatan di Puskesmas tempat tinggalku di Palakka. Sehingga, aku memutuskan untuk melanjutkan kuliahku di FKM yang bermitra dengan Universitas Patria Artha Makassar. Sehingga dengan seketika pula berjamuran semua teman-teman, guru-guru mencemooh pilihanku yang katanya sangat bodoh. Saat itu aku dicap sebagai orang terbodoh di dunia karena telah menyia-nyiakan kesempatan beasiswa dan bebas tes di PGSD.
Dengan senyuman kecut dibibirku, kumulai berbalik membelakangi semua orang yang terus merendahkanku. Aku memang orang rendah sejak TK sampai saat ini namun semua adalah pilihanku yang membuatku senang dan bahagia. Inilah aku, aku akan jadi diriku sendiri. Kan kujadikan semua cemoohan itu sebagai cover awal karirku sebagai motivasi hidupku. Memang sejak masuk di MTsN Watampone orang tua memang sudah lepas tangan terhadapku. Sehingga tidak tahu sekolahku dimana, tempat keseharianku, pokoknya banyak namun satu hal terpenting bahwa kalau pulang kampung baru aku bercerita semua tentangku.
Kini aku sudah menjalankan kuliahku dalam suka duka berharap aku yang sebagai angkatan pertama sekaligus anggota pengelola sedikit demi sedikit akan merintis dan membuktikan bahwa mereka salah telah melontarkan cemoohan kepadaku. Dan kini telah berdiri sendiri menjadi STIKES Mahakarya Watampone yang masih punya Mitra dengan Universitas Kadiri Jawa Timur dan alhamdulillah aku pun terpilih menjadi ketua MPM di kampus dan merilis terbentuknya Korps Sukarelawan.
Satu hal terpenting tak henti-hentinya Rara dan Rara yang selalu kian kujadikan khayalan yang selalu mendukungku dengan ingatan senyuman hangatnya itu. Yang telah ada dalam brangkas hatiku. Yang senantiasa selalu aku rawat dan jaga karena wujud asli itu belum saatnya aku miliki. Ya mungkin saja sekarang sosok itu dan hati itu masih ada yang miliki.
Oh iya, satu hal yang menonjol dari seorang Rara yaitu dia demam Korea. Mulai dari lagu, artis, sampai dengan bahasanya. Ini aku dapat info dari teman yang kebetulan juga terbilang pandai berbahasa korea. Aku sih ngebayangin pasti Rara orangnya cute banget dengan hobbynya itu. Siapa sih gadis yang nggak geregetan ketika melihat para artis-artis Korea itu. Ya mungkin seperti itulah aku kepadanya meskipun aku hanya terdiam karena kalau terlalu diungkit-ungkit entar cepat juga bosannya. Nomor handphone udah ditangan tapi tetap aja takut ngehubungin ntar dia bilang “siapa lo”..? tapi ya beranikan diri aja deh.
Ternyata aku salah, dia begitu ramah dan bersahabat. Aku tak salah pilih meskipun agak sedikit cuek tapi inilah tantangannya. Aku meminjam buku belajar bahasa korea secara autodidak milik teman dan mengkopi semua rekaman-rekaman koreanya berharap bisa sedikit menarik perhatiannya kepadaku. Seminggu telah kuusahakan sedikit tahu tentang bahasa korea. Namun, hasilnya nihil karena semakin aku membaca dan mendengarkan bahasa itu semakin membuatku pusing 7 keliling. Pikirku tak menyerah untuk hanya sedikit menarik perhatian itu. Karena aku yakin aku juga punya kesempatan dihatinya.
Tiba suatu hari dia mengirimkan sms yang berbahasa korea namun sumpah aku tidak mengerti. Jadi aku memutuskan menghubungi teman yang juga hobby berbahasa korea dan akhirnya aku bisa jawab. Sebulan aku meminjam buku itu tapi tidak bisa juga. Ya aku memutuskan untuk sejenak berhenti dan fokus dengan apa yang sedang aku jalani. Karena terbersit dibenakku bahwa mungkin masih ada cara lain untuk bisa menarik perhatiannya padaku. Aku jalani hari-hari penuh penantian akan harapan sedikit dia menorehkan wajah cantik itu kepadaku. Berbagi senyuman, canda tawa, suka duka, tapi untuk saat ini masih sebuah khayalan belaka. Angin rindu kian selalu bertopang dagu menemani dan terus menemani kala kesendirianku, terus menjagaku dari banyaknya cinta yang dangkal adanya.
Aku teringat suatu ketika aku bersama kak Mardi dari melatih PMR di Bone Selatan. Kebetulan dia mengajakku untuk singgah di Pantai Tete Tonra katanya siswanya dari SMA Lamuru lagi mengadakan penelitian disana. Tanpa pikir panjang pun aku tak menolak ajakan itu dengan harapan Rara yang selalu ada dikhayalanku kian ada disana dalam wujud yang nyata. Sesampainya disana disambut hangat oleh Pak Nur Ilahi yang merupakan Pembina PMR. Dan untungnya ada Cindra temanku dalam Jumbara PMR tingkat Prov. Sulsel di Islamic Center Bone jadi nggak garing deh suasananya. Dari kejauhan kupandangi seorang gadis yang menurut kata hatiku itu adalah Rara.
Kacamata lebar berlensa bening menambah keindahan mata itu. Tak sedikitpun mataku berkedip memandanginya. Tapi sebaliknya dia tak sedikitpun memandangiku dan menolehku namun aku sadar mungkin diriku tidaklah pantas dipandang olehnya.
Aku dan dengannya memang jauh berbeda. Tapi aku bersyukur masih bisa menyaksikan sosok yang selama ini kuimpi-impikan. Lagi-lagi pertemuan singkat yang sangat luar biasa membahagiakanku. Sungguh indah rupawan sosok gadis yang bernama Rara. Bagiku keindahan bukanlah bayangan yang diimpikan dan nyanyian yang selalu dirindukan melainkan keindahan adalah bayangan yang terlihat di kala mata tertutup, dan nyanyian yang terdengar dikala telinga tersumbat.
Aku tersadar dari lamunan indah bersamanya yang selalu terasa sangat singkat. Saat ini silih berganti cinta yang datang untuk membongkar brangkas hati itu. Namun, aku tidak pernah  peduli karena banyak hal yang masih ingin kucapai untuk semua orang yang aku sayangi utamanya keluargaku. Aku tidak mau cinta yang datang itu membutakanku dan larut didalamnya dan membuat masa depanku buram. Ya, apalagi Ibuku tuh paling tidak mau aku terlalu dekat sama seorang gadis karena takut prestasiku rusak dengan pengaruh-pengaruh luar. Katanya aku yang akan menjadi tiang dan ujung tombak keluarga kelak jadi harus berhati-hati dalam melangkah dan memilih. Itu nasihat yang selalu melekat dihati dan pikiran ini, oleh karena itu aku selalunya tertunduk dan terdiam ketika ada cinta mengintai dari setiap celah-celah kehidupan.

“Keindahan bukanlah bayangan yang di impikan dan nyanyian yang selalu dirindukan melainkan keindahan adalah bayangan yang terlihat di kala mata tertutup, dan nyanyian yang terdengar di kala telinga tersumbat.”

Satu hal yang membuatku risih ketika teman-teman menganggapku Gay, utamanya teman-teman Pencinta Alam selalu aja bawa gadis untuk dikenalkan kepadaku tapi tetap saja aku tidak mau. Apalagi memang kalau di kampus, di La Tenritappu Institute, Palang Merah, Pramuka, aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama seorang laki-laki dalam berkegiatan tapi aku pertegas dan meyakinkan kepada dunia bahwa aku masih normal dan aku masih punya cinta yang tidak mau terkontaminasi dengan pergaulan bebas. Ya jangan salah memang aku ini orang pendiam dan pemalu tapi masalah pergaulan dan teman aku tidak mau ketinggalan mulai dari pemulung, tukang becak, preman, pejabat, polisi, pokoknya banyak yang diajak akrab dan tengah belajar dari semua kehidupan yang mereka jalani. Paling sering nih aku diajak merokok, minum miras, sama teman-teman preman, apa aja sesuai dengan teman yang aku jejaki namun bagi hal yang negatif tak jarang aku hanya tersenyum dan menolak dengan penuh keramahan karena aku orang punya pendidikan dan tidak mau masa depanku hancur hanya karena pergaulan yang nikmatnya sementara. Aku memang miskin, aku memang menderita, tapi aku tidak mau mengakhiri hidup ini karena rokok, miras, dan punya banyak musuh serta berbagai masalah dunia fana ini. Sehingga sejak saat itu juga aku mulai menjauh dari mereka yang malah terus memojokkanku dengan jalan hidup yang menjadi pilihanku.
Dalam anggapanku satu-satunya orang tidak pernah bersalah adalah orang tidak pernah melakukan sesuatu. Maka jangan pernah takut untuk bertindak dan salah, karena yang salah itu ketika terus terjatuh dikesalahan yang sama, bukan soal jatuhmu yang penting tapi bangkitmu. Sedikit kutipan singkat setiap hendak melakukan sebuah perubahan dalam diri ini. Karena itu aku selalu mencoba dan terus mencoba hal baru sehingga nantinya bisa tahu potensi diriku sebenarnya.
Awal bulan oktober sudah menjadi awal pelatihan PMR di seluruh sekolah-sekolah yang punya PMR Unit. Mulai berdatangan surat permintaan bantuan pelatih ke PMI Kab. Bone untuk meminta fasilitator. Akupun yang terbilang masih baru menjadi fasilitator turut ikut membantu ya sekalian mencari pengalaman dan mengisi waktu daripada hanya di rumah terus menulis dalam ruang 4x4 meter bergelut dengan layar maya dengan gerakan lentik tangan diatas tombol laptop titipan anak ayahku dari istri yang lain.

“Satu-satunya orang tidak pernah bersalah adalah orang tidak pernah melakukan sesuatu. Maka jangan pernah takut untuk bertindak dan salah, karena yang salah itu ketika terus terjatuh dikesalahan yang sama. Bukan soal jatuhmu yang penting, tapi bangkitmu.”

Diantara semua pelaksanaan kegiatan perkemahan yang menjadi tujuanku hanya satu yang paling kunanti-nanti ya sudah pasti di SMA Negeri 1 Lamuru. Tempat yang pernah kujejakkan kakiku dalam pencarian jadi diri seorang idola yang asal usul sampai hari ini aku tidak tahu. Akhirnya bukan sebagai pengisi waktu luang melainkan udah sebagai rutinitas seorang relawan untuk terus turun menjadi fasilitator. Setiap hari kamis sd. ahad harus menyiapkan waktu. Aku yang baru kali ini cukup penuh dengan jadwal pelatihan kena batunya juga badan jadi tidak fit jadinya. Saat itu rencananya malam tahun baru aku menginginkan ikut bersama kak Mardi untuk ke acara tahun baru 2012 SMA Negeri 1 Lamuru dipuncak. Namun, apalah daya aku juga terpilih menjadi pembawa acara malam tahun baru di baruga maccoppo tellu'E Ponceng alias Kajao La Tenritappu. Jadi harus mengorbankan semua acara dulu di malam tahun baru. Sungguh Kasihan nasib ini, cintaku penuh dengan lika-liku yang mudah-mudahan dia tahu arti semua yang aku jalani.


Beberapa bulan berlalu tiba dimana pendiklatan SMA Negeri 1 Lamuru akan dimulai. Hari itu kami baru saja tiba dari kegiatan kemah di tellusiattinge dan langsung berangkat dalam acara pembukaan meskipun tanpa mandi dulu. Kata kak Anong entar disekolah aja bersih-bersihnya karena mobil pak sekretaris Markas sudah menunggu dan siap berangkat. Ya akupun nggak menolak karena aku betul-betul sudah kangen berat sama Rara. Namun nahasnya tak sesuai dengan apa yang kuharapkan ternyata dia tidak ada saat itu, mataku tertuju meraba semua wajah yang ada dihadapanku tapi tetap saja sinyal itu nggak ada. Ya mungkin inilah kisah cintaku yang susahnya minta ampun, namun saat ini tak membuatku larut didalamnya karena aku tengah berhadapan dengan adik-adik PMR dan akupun sedikit memberikan nyanyian berjudul Pisang-Donat kepada para peserta.
“Ampar-ampar pisang, pisangku pisang raja, walau berbiji tapi enak rasanya. Walau berbiji tapi enak rasanya..” awal aku menyanyi dihadapan adik-adik seraya melupakan kegundahan hatiku saat ini.
“Saya punya kue, kue Donat namanya. Walau berlubang tapi enak rasanya, walau berlubang tapi enak rasanya.” Sambungku mengingat hidangan kami tadinya adalah Donat Plus teh kotak.
Hari itu aku pulang dengan sedikit senyum hangat dari adik-adik menggantikan senyum seseorang yang amat istimewa dihatiku yang hingga kini enggan terbersit untukku.
Akupun kembali ke Markas PMI dan karena sangat kelelahan sampai ketiduran di mobil dan tidak sadar sudah sampai. Aku pun kembali ke rumah dengan semangat karena perasaan lelah itu terbalaskan setelah dari berkunjung ke SMA Negeri 1 Lamuru dan sedikit istirahat.
Hari H pelaksanaan pendiklatan PMR Unit SMA Negeri 1 Lamuru telah tiba. Sialnya bertepatan dengan Finalku di kampus mana lagi aku sedang dilanda demam. Hari itu kak Mardi dan kak Anong telah berangkat terlebih dahulu karena aku lagi dalam proses final Test Biologi. Konsentrasi memudar saat kegundahan dalam hati melanda entah kira-kira apa yang harus aku katakan ketika tiba-tiba bertemu dengannya. Ya dengan bergandengan angin rindu aku meluncur menuju SMA Negeri 1 Lamuru bersama headset ditelinga berirama lagu merdu nan penuh kisah kasih cinta  menambah semangat perjalananku.

Demam itu terasa hilang seketika mengingat ingin bertemu dengan seseorang yang selama ini aku kagumi, aku sayangi. Aku selalu terpikirkan kapan ya Rara bisa menafsirkan maksud hati ini. Kapan juga dia akan merindukan belahan jiwa ini dan berbisik kepadaku.
“Tuhanku yang Maha cinta, mudah-mudahan dari semua jiwa baik yang kau anggunkan kehidupannya, ADA SATU JIWA yang sangat mencintaiku, yang  memuliakanku, yang hidup untuk memelihara kedamaian hatiku, yang memperhatikanku sebagai harta yang paling berharga baginya, yang berbahagia mensetiakan hidupnya kepadaku, dan yang aku cintai dan muliakan sepanjang hidupku, Amin.” Bisikan yang sangat aku inginkan darinya.
Tanpa aku sadari perjalananku kayaknya sudah terlampau jauh karena aku sudah memasuki kawasan yang bertuliskan Kab. Soppeng di tugu dekat jembatan tepatnya daerah Muttiara. Untung kak Anong nelpon dan memanggilku kembali. Aku tertawa kecil dalam hati, inikah rasanya lagi dilanda kasmaran dan ingin ketemu dengannya sampai nggak sadar sudah kelewatan sampai sejauh ini.

“Tuhanku yang Maha cinta, mudah-mudahan dari semua jiwa baik yang kau anggunkan kehidupannya, ADA SATU JIWA yang sangat mencintaiku, yang  memuliakanku, yang hidup untuk memelihara kedamaian hatiku, yang memperhatikanku sebagai harta yang paling berharga baginya, yang berbahagia mensetiakan hidupnya kepadaku, dan yang aku cintai dan muliakan sepanjang hidupku.”

Tak pernah kuukur kerinduanku dengan pengukur berjubah bebintangan. Aku pun tidak pernah menghitung kedalamannya. Sebab kutahu cintai akan mengantarai perhitungan ruang dan waktu justru dikala cinta itu sendiri tengah dibaluri oleh madu-madu kerinduan. Seuntai bisikan angin rindu dalam perjalanan ini. Tak kusangka akhirnya sampai juga dan letaknya ternyata di belakang makam raja-raja lamuru. Ya sejenak kuhembuskan napas lega dan mulai kulangkahkan kaki menuju lokasi perkemahan penuh percaya diri dan tak lupa menitipkan motor di rumah salah seorang warga.

Suara riuh-riuhan dari kejauhan terdengar layaknya pusat keramaian dan menandakan bahwa lokasi perkemahan tengah ramai dengan adik-adik peserta. Wah, sialnya setelah sampai ke tenda yang telah disiapkan tiba-tiba kepala ini terasa mau pecah. Sakitku kambuh ditambah lagi maagku menjadi-jadi. Akupun berekspresi kecut dihadapan teman-teman. Kak Anong yang antusias terhadapku langsung memberitahu kepada Pembina untuk membuatkan susu. Ya susu. Kak Anong tahu aja hobbyku minum susu sekaligus obat juga buatku. Hem, untungnya direspon baik jadi aku tertidur sebentar lalu sakitku sudah reda.

“Tak pernah kuukur kerinduanku dengan pengukur berjubah bebintangan. Aku pun tidak pernah menghitung kedalamannya. Sebab kutahu cintai akan mengantarai perhitungan ruang dan waktu justru dikala cinta itu sendiri tengah dibaluri oleh madu-madu kerinduan.”

Malampun tiba aku sempat berbincang-bincang dengan seorang siswa yang katanya letting dari Rara. Aku menyempatkan diri bertanya sedikit banyak tentang Rara. Ditengah keseriusan perbincangan tentang gadis idamanku itu, handphone berdering dan mendapat panggilan bahwa hari sabtu akan ada final karena lagi-lagi dosen ada kegiatan hari senin jadi final dimajukan lagi. Ya mau nggak mau aku harus pulang lebih awal agar nilai-nilai tidak mampet.
Keeseokan  harinya barulah Rara datang bersama temannya Nisra dan Cindra. Terasa seperti mimpi, wanita yang terus hadir dalam mimpi indahku kini ada dihadapanku dan bersamaku. Inilah kali kedua aku menyentuh tangan itu. Aku merasa tidak mau melepaskan tangan ini karena aku sungguh jatuh cinta padanya.  Sekali lagi terucap dari bibirku “inilah orang yang selalu dinanti-nanti”. Baginya mungkin hanyalah candaan belaka namun tidak masalah yang penting dia masih bisa membelai lembut hati ini dengan senyum manis dari wajah cantik menawan itu. Inilah cinta dengan jubah kelembutannya, bertengger dihadapan kita, tapi terkadang banyak orang malah melarikan diri darinya dalam ketakutan dan bersembunyi dalam kegelapan, padahal yang lain mengejarnya demi memenuhi nafsu kejahatannya dengan mengatasnamakan cinta. Ra, tidak adakah responmu untukku..?? Sekali lagi perjumpaan singkat dan selalunya waktu bersamanya terasa begitu singkat.
Akupun kembali ke Bone untuk mengikuti final test walaupun mata masih memerah akibat begadang semalaman suntuk. Aku terus mengemban karirku dalam dunia kesehatan demi pemberdayaan masyarakat yang mandiri dan berkeadilan. Melalui dari semua ini aku mulai sedikit demi sedikit tahu dan mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari betapa pentingnya sehat dikandung badan.
Akhir-akhir ini aku mulai aktif di dunia maya untuk mencari akun miliknya, setiap aku berhadapan dengan dunia maya hanya akun Rara, Rara dan Rara yang menjadi sumber pencarian. Memang atas nama itu banyak tapi tidak ada yang pernah menyamai Rara yang tengah mengisi relung jiwa ini. Setelah berusaha sekian lama akhirnya ketemu juga akun facebook itu, hamparan wajah indah seorang Rara di dunia maya yang sungguh anggun menawan namun tak lebih dari wajah cantik wujud aslinya. Bersama dengan angin rindu kumulai tersenyum lega, sedikitnya telah tergambar jelas akan keindahan sosok wanita ini. Ada apa denganku, aku sungguh terkesima dengan dirinya tapi bagaimana dengannya ?
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat sampai tiba saatnya pengumuman ujian nasional diumumkan. Alhamdulillah Rara lulus dengan peringkat juara umum di sekolahnya, sungguh kebanggaan yang tiada tara darinya dan dari semua orang yang menyayanginya. Dan dengan prestasi dia hendak melanjutkan ketingkatan yang lebih luas lagi antara ATKP (Akademik Teknik dan Keselamatan Perkapalan) dan UNHAS.

“Cinta dengan jubah kelembutannya, bertengger dihadapan kita, tapi kita malah melarikan diri darinya dalam ketakutan dan bersembunyi dalam kegelapan, padahal yang lain mengejarnya demi memenuhi nafsu kejahatannya dengan mengatasnamakan cinta.”



Perasaan bangga bercampur was was karena dia akan semakin jauh dariku. Kini dia akan mengarungi samudera kehidupan yang lebih luas lagi dan tentunya semakin banyak ombak yang akan menerpa dan menghadang dalam perjalanannya. Aku terus berusaha menghubunginya untuk meyakinkan bahwa aku sungguh mencintainya dan tidak mau kalau seandainya aku akan kehilangan Rara untuk kedua kalinya. Siang kunanti malam jadi impian, terlalu berlebihan tapi itulah kenyataannya. Sungguh indah sosok wanita itu membuatku larut dalam lamunan cinta sehingga kutuangkan dalam sebuah tulisan sederhana pengukir segelintir perjalanan hidup fana ini. Kini pun dengan seketika kulayangkan pesan singkat untuk meminta izin mendownload potret dirinya yang begitu anggun menawan. Rasanya aku tak pernah mendapatkan diriku sebegitu bahagia, seperti saat jiwaku mengingat Rara terlebih memandangi potret wajahnya.
Siang malam kukirim pesan singkat dan telepon tapi toh tidak ada respon. Mungkin baginya aku hanyalah angin lalu yang hanya sesekali bertiup membelai lembut diwajahnya. Dia tak pernah tahu aku bukan sekedar angin tapi puting beliung yang sesekali datang dan kedatangan itu punya kekuatan yang luar biasa untuk mendapatkan apa yang menjadi tekadku.
Aku mengerti akulah yang salah aku terlalu cemas akan jauhnya dirimu dariku. Aku akui memang terlalu lebay, ya aku akui karena aku cinta sama kamu. Aku hanya sekedar ingin tahu kamu lagi apa ?, sudah shalat belum ?, baik-baik aja nggak ?. Saat pertama aku menelpon sungguh indah berbinar-binar suara gadis idamanku itu. Aku hanya terdiam dan terus memasang telinga untuk mendengar jelas suara itu, karena aku sangat rindu akan dirimu. Sungguh bahagia aku saat ini tengah diberikan kesempatan untuk mendengarkan suara indah dan tertawamu itu. Namun yang aku dapat diujung pembicaraan itu, “tidak apa-apajeki mengganggu asalkan bukanji pulsaku yang habis”. Seketika aku berpikir itulah tanda ketidakpantasanku dimatanya. Terima kasih aja atas semuanya,dan  aku senang kok dengan semua itu. Aku mulai sedikit tersadar dari tidurku dalam belaian angin rindu.



Segelintir yang kudapatkan darinya,
Maaf sblmx tp klo bisa tdk usahmi mnelpon, klo ada yg mau d.smpaikan sms saja krna agak risihka' sy klo trima telpon. N jgnmi sms klo pagi krna kadang badmoodka' klo bangunka saat blm waktux. !! (Kutipan pesan singkat darinya).
Seketika terhempas dan termenung akan semua itu. Aku memang lancang telah mengenalmu, aku memang bukanlah siapa-siapa dimatamu. Semua pesanku dihandphonemu layaknya virus yang tak pantas direspon olehmu karena pastinya akan menjadi-jadi, benarkah ? Kalau tidak, lalu kenapa ucapanku, sapaku, pesanku tak pernah ada umpan baliknya sedikitpun. Sakit pun mulai mengintip dibalik brangkas hati ini untuk mendobrak cinta yang tengah bercengkerama dihati ini.
Awal yang baru memang tak seindah yang semua orang bayangkan.
Malam ini, kubisikkan dalam doaku.
Tuhanku yang maha pengasih,
Tabahkanlah hatiku yang sedang rapuh ini, untuk tetap meyakini yang kutahu sebagai yang benar, untuk ikhlas melakukan yang kutahu harus kulakukan, untuk sabar menghadapi orang – orang yang sulit, dan untuk tegar melampaui masalah, agar aku sampai di padang pembahagiaanku.
Tuhanku,
Hatiku yang letih ini rindu istirahat dalam kedamaian.
Rara Sayangilah aku.
Aku takkan menyerah memberikan keyakinan dihatimu tentang betapa inginnya diriku akan dirimu. Hingga pada suatu hari aku hendak menjumpainya karena wujud kerinduanku yang bertepatan dengan jadwal tes Akademiknya di makassar. Sedikit mengorbankan waktu Final Testku tidak jadi masalah. Berharap dengan kehadiranku bisa meyakinkan bahwa aku sangat mencintainya. Meski aku tahu bahwa diriku belum ada dalam daftar hatinya dan akupun tidak berharap lebih selain ucap Cinta dari bibirmu karena untuk saat ini akupun belum menginginkan jalinan hubungan dangkal dalam ikatan fana yang hanya akan memudarkan semua hasrat kehidupan cinta ini. Yang aku inginkan kelak cinta yang aku punya terjaga dalam ikatan halal nan sakral.
Namun apa daya semua tak sesuai dengan harapanku, pengorbanan ini hanya berbalas kerlingan mata sinis darimu yang beranggapan aku lelaki kurang kerjaan. Tidak bisa dibilangin sampai-sampai harus datang tanpa diundang seperti ini. Dalam hatiku terujar terima kasih atas kesakitan yang engkau gambarkan dipelangi cinta ini. Namun harus kamu tahu aku kan terus mengirimkan perasaan ini yang terbelenggu dalam kerinduan bersama angin rindu yang masih setia menemani kini dan nanti.
Tahukah engkau ??
Lelaki itu praktis. Ingin hidup bahagia bersama wanita yang mendamaikannya.
Mungkin karena keinginan, atau karena cinta, seseorang menjadikan pujaannya seperti malaikat yang menjelma dalam dirinya. Pandangan mata ini tidak pernah berhenti melihat kebaikan yang mengelilingi aura tubuhmu tanpa harus melihat keburukan yang dilakukan. Pancaran seorang pengagum sejati itu ibarat seekor burung yang terbang tinggi ke angkasa yang tidak pernah berpikir apakah nantinya akan tetap terbang tinggi bersama endapan angin rindu atau jatuh tersungkur merasakan sakit di sekujur tubuh akibat hasrat terkekang dan kerinduan yang terbelenggu.
Rindu yang begitu hebat kini mendekam dibalik brangkas hatiku. Perasaan itu, membuatku seakan melupakan dunia beserta isinya dan berkeinginan selalu hadir dalam mimpi indah gadis pujaanku, Rara. Dan pada suatu hari, dengan segala kedalaman hati, aku membuat sebuah buku berisi ungkapanku terhadapmu, laksana goresan emas yang kupersembahkan untukmu dihari ulang tahun ke-18. Sebagai pemberian terbaik hasil buah tangan rapuh ini yang akan kupersembahkan kepadamu jika pertemuan disuatu acara atau berpapasan di persimpangan jalan. Hari ini aku menantimu tapi yang kudapatkan hanyalah sepi yang mencekam.
Angan ingin selalu bertemu telah membuat api cinta menyala-nyala dikegelapan hatiku. Kata cinta untukmu adalah sebenar-benarnya perkataan yang terucap dari lubuk hatiku, walaupun cinta itu nantinya harus bertepuk sebelah tangan. Kerinduan yang menyengat perasaanku telah membuat tubuh ini lelah terpaku menatap langit dan hanya angin rindu terus membelai dalam kesendirianku. Sebab, tidak ada balasan pesan singkat atau bentuk perhatian darimu.
Berulang kali aku mengirim pesan singkat kepadamu dan mengharap balasan, tapi balasan itu tak kunjung tiba. Yang ada hanyalah goresan pedang memahat sembilu luka dalam hatiku.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

2 komentar:

Ayuisfaa mengatakan...

Ceritanya dilanjut terus yah kang ! :)

Unknown mengatakan...

sua atu neng. Kumaha damang ?.
Maturnuhun ya, tenang ajalah sia bakalan d.tambahin carita kasadihannya wae

Posting Komentar

SALAMAdventure. Diberdayakan oleh Blogger.

Pallapi Aro.na Angingnge