MENANTI WALAU TAK PASTI
Selalu aku berpikir tentang segala apa yang aku miliki. Apakah yang salah dari diriku ? 1 hal yang paling aku sadari bahwa wajahku memang pas-pasan. Dirimu yang begitu anggun menawan memang tak jarang orang yang tak mengagumi.
Betapa tidak senyum itu, kerlingan mata itu, membuat setiap lelaki yang memandang bakalan kelepek-kelepek jadinya. Tahu nggak sih aku sayang sama kamu. Kenapa sampai detik respon itu belum juga menjalar dan mengalir dari relung hatimu.
Pagi yang cerah gemerincing embun menetes dibahuku saat aku mulai melangkah kaki menuju lapang padang savana indah. Kicau burung merpati terdengar bah lagu merdu nan syahdu dalam pagiku diawal bulan Juli. Seraya sejenak melepas penat dalam pikiran dan hati kecil ini yang terus teringat akan keindahan sosok wanita cantik itu. Terus menggali dan bersembunyi di dalam relung hatiku menguak tabir brangkas hati ini dalam keindahan dan kedamaian. Layaknya racun yang terus merangkak kecelah-celah otakku membuat dirinya terus terbayang meski kesakitan terkadang bergejolak dalam batin akan semua perlakuannya terhadapku. Memang benar kata orang bugis dalam deretan lagunya kebanyakan mengungkapkan “peddi nalawa pappoji”, seberkas gambaran kisah cinta titisan nenek moyang dari tana ugi to Bone.
Hari ini, aku akan mulai menyegarkan kembali pikiran yang terbilang penuh akan aktivitas. Selain itu, seraya menenangkan hati dan pikiran menanti bulan suci Ramadhan yang sudah terbilang beberapa hari lagi. Tak jarang aku merenung dengan semua sinyal yang engkau telah berikan. Perjumpaan pertama aku memang masih begitu asing dimatamu, kerlingan mata indah itu seraya memberi sinyal tentang diriku yang begitu hitam pekat dan dekil maka dengan perjumpaan saat itu aku memulai merawat dan menjaga tubuh ini sehingga volume paparan sinar matahari mulai dikurangi dan jadwal kesibukan mulai dipress. Semua itu aku lakukan sekedar ingin sedikit mendapat perhatianmu ketika berjumpa lagi entah kapan dan dimana.
Ketika perjumpaan kedua di Tonra masih ingat nggak ?? Tak sedikitpun kau menoreh kepadaku mungkin karena diriku yang masih kurang indah dimatamu. Ya aku masih begitu kurus kerempeng, OK akupun berpikir ini tantangan untukku kelak aku akan berjumpa denganmu saat dimana aku tidak seperti ini lagi.
Akupun berpulang dengan tekad keras bukti kesungguhanku kepadamu. Keseharian yang terus kujalani membuatku sedikit jenuh karena tidak adanya kabar tentangmu. Terlarut dalam kesibukan seraya sosokmu sejenak beristirahat dalam pikiran ini. Hidupku begitu indah karena pelangi kehidupan masih berpihak kepadaku mewarnai lika-liku keseharianku diatas permadani kerinduan.
Kali ketiga kujumpa dalam sebuah bumi perkemahan, awalnya kusudah merenggangkan pikiran ini tentangmu karena kecil harapan untuk memilikimu. Namun, ketegangan kembali muncul seketika disaat sinyal tentangmu hadir dihamparan tanah lapang menggetarkan seluruh relung jiwaku. Pancaran wajah itu, menyilaukan pandangan angin rindu yang kian menemaniku dan membisikku tentang keberadaanmu dari kejauhan sana. Sungguh berat langkah kaki ini ketika menuju kearahmu. Sambutan senyum hangat dari bibirmu serasa memelukku dalam kehangatannya. Saat itu juga kumulai kembali merapatkan brangkas hati ini yang kian longgar, kerut dahi terbersit diujung pandanganmu itu terlihat masih tersimpan kejanggalan terhadapku. Ya, mungkin tentang penampilanku yang begitu standar, katro, ndesoo. Akupun tersenyum kecut seraya berusaha introspeksi diri tentang sebersit keminusanku.
Lega rasanya selepas penat teringat akan dia yang menjadi sumber cinta yang terselubung dalam kerinduan tertanam dalam hati. Yang sedikitpun aku tak pernah tahu entah kapan akan terkucurkan kemuka bumi. Dirimu yang begitu stylish menjadikanku bertolak ukur untuk minimal menginginkan setara denganmu ketika bertemu dipersimpangan jalan atau entah dimana saja. Teramat lucu ya, hanya berawal dari sebuah nama kini tumbuh menjadi rasa yang luar biasa. Kian mengembara tak kenal lelah untuk tahu semua tentangmu hingga tak menyadari bahwa dirimu membawa perubahan yang begitu berharga dalam langkahku. Aku mulai lebih tampil agak beda yang lebih mendewasakanku, semua ini aku lakukan bukan semata karenamu karena aku tahu dirimu belum meresponku. Aku takut kelak akan jatuh terhempas kekecewaan yang mendalam membuat kesesalan akan perubahanku. Aku seperti ini karena dunia, mungkin sudah saatnya aku belajar tentang kejamnya dunia diluar sana yang akan mengeleminasi mereka yang bermasa bodoh akan hidup.
Tiada tara rintikan kebahagiaan membasahi tubuh ini kelak perjumpaan keempat tiba. Masih ingatkah dirimu ? saat aku mulai sombong akan diriku sekarang ini. Mulai mampu membusungkan dada rata ini. Angin rindu lebih cekatan menjemputmu diujung permadani kerinduanku, getaran bumi begitu jelas terasa seketika kau langkahkan kaki itu. Oh Tuhan, aku orang yang tak mudah jatuh cinta tapi kenapa engkau menganugerahkan sebuah cinta yang begitu berat untukku mencapainya. Namun, aku tidak ingin larut dengan semua keluh kesahku karena akan semakin membuatku lemah tak berdaya. Kuhampiri dengan penuh percaya diri, keraguan dihati yang semula memanjakanku kini kian hilang seketika tanpa menyisahkan jejak tatkala kerinduan merongrong tubuh ini menuju ke hadapan Rara. Terjadi untuk kesekian kalinya Rara hanya sekejap menoreh kepadaku sekedar melempar senyuman dan sibuk dengan para sahabatnya.
Ingin kuberteriak,
“Raraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...........!!!!!!!”
“I’m coming for you, but you never translate my heart. Why..?”
Akhirnya hanya berimbas pada tangisan angin rindu memelukku atas beban kesakitan yang kian tertumpuk dipundakku. Kini salama sudah bukanlah yang dulu, air mata itu sudah kering dan nggak ada yang bisa ditumpahkan lagi, jiwa yang lemah itu kini tengah menjelma menjadi kekuatan bagiku.
Salahkah aku ??
Kini aku sudah tidak terlalu hitam pekat dan dekil lagi.
Kini tubuh yang hina ini tidak lagi kerempeng seperti katamu.
Pandanglah aku ini penampilanku yang baru untuk sekedar terlihat setara denganmu. Apa yang salah ?
Mungkinkah karena diriku yang terlalu ketuaan dimatamu dengan fashionku dan posturku yang sekarang agak tembem. Ok ok ok ok kalau itu salah dimatamu, aku akan berusaha untuk menurun berat badanku hingga kau puas akan diriku. Aku tidak pernah mengeluh kok cuman jelasin letak salahku dimana ? Tapi toh sampai detik ini hanya diam tanpa kata yang kau kirimkan dalam surat kalengmu itu.
Berulangkali kuyakinkan cinta ini kepadamu Ra. Namun entah mengapa kau terus mengacuhkan dan menghancurkan sebongkah harapanku kepadamu. Dan andai kau tahu cara yang telah kutempuh demi mendapatkan utuhnya hatimu, hingga kupertaruhkan sang waktu yang melayaniku siang dan malam tak kenal lelah untuk bercerita tentang keindahanmu.
Semenjak saat itu, dirimu layaknya debu yang diterbangkan angin. Hilang dan tak sedikitpun menengokku yang tersungkur dan terjatuh dibelakangmu. Terseduh-seduh dalam pelukan angin rindu, mendekam di balik jeruji kegalauan terus mengurung kebebasan hati ini. Rara, aku tahu kamu orang yang super sibuk dengan semua kegiatanmu itu. Tolong berbaliklah kepadaku yang kian membayangimu dibawah paparan sinar matadunia yang menyilaukan setiap makhluk bernyawa. Tapi aku yakinkan dirimu Rara, aku kan melindungi keindahanmu itu darinya karena aku tidak inginkan dirimu luntur dari semua jiwa yang aku impikan untuk aku miliki.
Untaian maaf sebesar gunung kuhaturkan kepadamu, aku yang menyanyangimu tak mampu menjabat tangan itu saat hari bahagiamu diusia 18 tahun, tepatnya 23 Juni 2012. Betapa tidak sabtu pagi aku telah mendatangi kediamanmu di polsek Lamuru tapi ternyata Raranya ada di Makassar yang aku tidak tahu karena diammu itu yang maknanya belum mampu aku tafsirkan. Bingkisan angin rindu yang aku titip untukmu sudah cukup mengobati kekecewaanku hari itu yang kian merasuk ke celah-celah sel tubuh ini yang haus akan hempasan kerinduan kepadamu wahai Rara. Hembusan napas lega kini yang hanya bisa aku kantongi berpulang dari kediamanmu itu, akupun tak mau memaparkan wajah kegalauan ini yang masih punya kegiatan pelatihan palang merah di SMAN 1 Patimpeng dan MA Nusa Kahu.
Malam minggu ini nggak jauh beda dengan malam-malam sebelumnya, diriku yang senantiasa dilanda rintikan kecewa yang luar biasa menyita luka di hatiku yang tak pernah punya waktu untuk sembuh.
“Hoooeee...!! Magasiki tuh kak, kok melamun sendiri entar kesambet loh. Punya masalah ya ?” Tegur salah seorang adik PMR yang terbilang membuatku jengkel karena udah dibuat kaget.
“Hemmm. Nggak kok cuman kecapean aja dik” Jawabku cuek.
Aku hendak menuju tempat pembaringan saat hp sedang berdering yang aku tidak pedulikan karena nggak ada mood ngebalas sms. Dengan terpaksa pesan singkat pun aku buka dan terpampang nama Ratna Dwi Junarti. Kericuhan dalam hati kini bersorak bahagia karena telah mendapat balasan pesan darinya.
“Kak kita yang bawa kado kerumah ?” Tanyanya penuh keheranan.
“Hah ? Kado ?” Jawabku jengkel. Kenapa juga engkau baru datang saat kusudah terjatuh terlalu dalam dan nggak bisa bangkit secepat membalikkan telapak tangan.
“Alla, kakak toh yang bawa kado kerumah dan nitipin di kantor. Terima kasih nah kak. Ih kak aku merasa berat loh nggak sempat bilang terima kasih secara langsung” Sambungnya.
“Iye. Tidak masalah dinda. Malah aku yang minta maaf karena nggak sempat menjabat tangan itu” Haturku dan tiba-tiba menjadi riang gembira.
Senyumku bersama angin rindu terhempas ke angkasa luas. Betapa hatiku dirundung kebahagiaan yang mendamaikanku. Inikah cinta yang dianugerahkan kepadaku atau hanyalah kibasan nafsu syaitan ? Hatiku terus bergejolak penuh konflik yang memilukan ketika banyak dari mereka yang menganggapku gila dan cintaku masih kekanakan dan cinta monyet katanya. Namun tetap saja hatiku terus mengencangkan sabuk cinta yang menjaga brangkas hati ini tetap terjaga dan tertancap gagah dan kokoh didalam sana. Walaupun hanya sekilas teringat tentangnya, tapi amarah itu kian meleleh layaknya es kutub selatan antartika terbakar kobaran cinta yang membara dan lambat laun kian menjalarkan akarnya sehingga semakin kuat yang memang telah ada sejak dulu, kini, dan nanti bahkan insyaallah sampai jiwa raga saling melambaikan tangan menuju sang khaliq.
Kembali teringat di malam tahun baru 2012 saat aku menjadi sang kajao La Tenritappu atau selaku pembawa acara bersama 3 orang senior yang terbilang usia begitu jauh sehingga kurang klop gitu aktingnya. Lucunya karena aku susah ngebentak-bentak kok malah disuruh akting dan apalagi sama senior yang sedikitpun tidak ada kerelaan untuk menghilangkan sikap seganku padanya. Kucluk, ya itulah nama samaran seniorku itu, memang sih wajahnya culun dan konyol sehingga bawaannya kepingin ketawa terus. Bebanku yang tertumpuk dipundak saat itu terasa sedikit mereka turunkan, namun 2 beban pikiran yang terus teringat malam itu yaitu aku batalkan ikut tahun baru di puncak gunung bawakaraeng dan keceriaan Kak Mardi di puncak gunung Lamuru sana bersama para siswanya. Tentu saja Rara bersama mereka, karena saat itu kemungkinan besar kegiatan terakhirnya sebelum menghadapi UAN/UAS.
Aku iri dengan semua orang di sekitar Rara yang bisa saling berbagi canda tawa dan seru-seruan. Malam tahun baru itu kuhanya mampu meledakkan semua beban dalam sebuah duo vokal berkolaborasi bersama vokalis La Tenritappu Institut dalam sebuah lagu bugis berjudul “Sajang Rennu”.
“Awi.. Teri peddi atikku, uitamu tudang botting. Teppasengmu tekkareba nalere wae matakku naulleku tapakkua. Kegani maka utiwi sajang rennu atikku, eloqku sedding ro mate natea lao nyawaku,” Lantunan indah suaranya menggema memekakkan gendang telinga para tamu undangan.
“Awi.. Aga kasi ulleku eloqna indo amboqku. Marilaleng kasi peddiku turusi maneng eloqna, iyaqna tiwi peddiqna. Kobaja sangadie engka jeraq baru kuburuq tenri bungai, iyaqnatu ri lalenna.” Balasku yang sok tidak mau kalah padahal suaranya fals. He he he.
“Awi.. Teri peddi atikku, uitamu tudang botting. Teppasengmu tekkareba magi mulesseri janci mutarona sajang rennu. Kegani maka utiwi sajang rennu atikku, nataro kasi peddiqku naulleku tapakkua.” Lanjutnya yang membuatku semakin terlarut dalam irama lagu.
Iringan tepuk tangan mengantarkan aku menutup kegiatan malam itu dengan penuh kebanggaan. Kagum plus tanda tanya besar pun terlintas dibenak para senior terhadap penampilanku dipenghujung acara, karena aku yang terbilang baru dalam organisasi ini dan merupakan kali pertama tampil dipanggung pentas tiba-tiba berlaga layaknya artis profesional. Aku yang terdiam dan hanya tersenyum bangga disaat ucapan selamat berdatangan dari segala arah atas kesuksesan acara malam itu. Selaku sang kajao cadangan aku masih merasa berat karena banyak kekakuan yang tampak ketika diatas panggung yang tak jarang membuat para senior menggelengkan kepalanya namun penampilanku dalam duo vokal yang tidak pernah aku sangka begitu aku hayati mendalam seraya aku diposisi yang sebenarnya.
Betapa tidak, selama 2 bulan aku dilatih untuk menyanyikan lagu ini namun mereka hanya selalu berucap terserah aku saja yang penting ada. Aku sih fine-fine aja karena memang dari awal aku menginginkan orang lain tapi apa daya inilah amanah maka kujalani meski agak risih karena tidak pernah dialami sebelumnya.
Tahu nggak apa yang terlintas saat menyanyikan lagu itu ??
Rara. Ya Rara. Siapa lagi kalau bukan dia, aku menghayati lagu layaknya benar-benar terjadi dalam hidupku atau sebaliknya. Ketika cinta harus dikorbankan demi orang tua dan tidak bisa dipungkiri ini sering terjadi dalam kehidupan cinta manusia yang harus berakhir ditangan pilot (pilihan orang tua). Sedikitpun aku tidak menginginkan itu karena aku dan semua orang tahu bahwa hidup itu hanya sekali dan bagiku pasangan hidup juga satu untuk selamanya sehingga harus teliti. Dan semua kegagalan cinta yang aku alami biarlah menjadi pernak-pernik kehidupan yang akan menghiasi padang pembahagiaanku kelak insyaallah bersama dengan wanita yang mendamaikanku, Rara.
Berbicara tentang pilot nih, Rara tuh mendaftarkan dirinya disekolah penerbangan ATKP Maros. Kebayang aja dirinya juga bakalan tergait oleh seorang pilot yang tak jauh dari profesinya di jurusan Lalu Lintas Udara maklumlah Rara itu baik, cerdas, dan rame orangnya. Aku tuh orangnya terbilang udah termakan kebiasaan mengandai-andai kali ya sampai-sampai mengandai terlalu jauh seperti itu, selalunya terus mengandai-andai yang sebagian orang pikir itu hal yang tidak baik. Rara memang belum dinyatakan lulus dalam sebuah universitas atau sekolah tinggi lainnya namun aku yakin bahwa dia kelak menjadi kebanggaan bagi semua orang. Amin. Namun bagiku sepeti apapun Rara, dia akan tetap jadi kebanggaanku kini dan nanti.
Ingatanku terbuyarkan terhentak kantuk dalam perjalan pulang dari petualangan melintasi bone barat - bone selatan ketika memberi pelatihan palang merah dalam rangka kegiatan lomba di SMA 10 Makassar yang akan menunggu laga mereka. Inilah yang membuatku turut bertahan dalam palang merah, semangat muda yang sedikit demi sedikit terkobarkan untuk berkibarnya jiwa kemanusiaan disetiap hati mereka.
Palang merah merupakan organisasi yang paling aku cintai karena aku terlahir darinya. Aku yang sekarang tidak mungkin mampu berdiri tegak menghadapi kerasnya batu karang kehidupan dan derasnya ombak yang terus menerpa tubuh rapuh ini tanpa pondasi kuat yang aku dapatkan dalam organisasi. Kata mereka tentangku bahwa diriku yang dulunya berawal dari pemalu dan pendiam kini mulai sedikit demi sedikit berbunyi layaknya jangkrik belanda. Ya itu ada benarnya tapi tetap aja sifat asliku tidak bisa terhapuskan, hanya pada orang yang aku kenali atau para sahabat aku sering berbagi canda tawa dan saling menjahili kala waktu senggang. Tapi untuk mereka yang baru kenal atau hanya sesekali bertemu hanya akan mendapatiku bertopeng jutek dengan jubah kediaman. Kebanyakan mereka yang baru kali pertama mengenalku berkesan menganggapku kejam, sangar, dan pemarah karena tampak dari raut wajah ini yang terbilang sangat Jutek dan memang boros kelihatannya yang muka tidak sesuai dengan umur. Seperti apapun kata mereka tapi inilah aku dan kehidupan yang aku jalani membuat pengaruh besar serta kekangan beban hidup juga yang tergambarkan diraut wajah ini. Tak banyak yang tahu tentangku tapi cukup tatap mata ini untuk merasakan dahsyatnya gelombang kehidupan yang telah dan akan kulewati.
Baik buruknya kesan utama memang selalu tertancap dipikiran setiap manusia sehingga aku memberi kesan yang jutek karena memang kurang lebih sifatku seperti itu dan aku malas terlalu akrab apalagi dalam perkemahan. Terlalu akrab bisa menimbulkan kekerabatan yang kuat, takut akhirnya muncul sikap kepemilikan satu sama lain yang berujung pada kepedihan saat hari perpisahan tiba. Cukuplah kami saling mengenal dan berinteraksi seadanya serta saling melempar senyuman bukti keramahan dalam palang merah.
Tak jarang aku ditanyai tentang kegiatan kemahku kesana kemari, dari sekolah yang satu ke sekolah yang lain tentunya banyak kenalan juga utamanya cewek-cewek cantik. Jawabku ya tapi tidak kalau kenalan, karena dalam waktu berkemah aku hanya sesekali berinteraksi dengan panitia ataupun peserta karena sifat pemaluku yang masih begitu mendekam saat ingin berucap dan diriku yang terkadang minder. Aku yang mulai ikut sejak kelas 1 SMA selalunya mendapatkan anggapan playboy karena aktif kesana kemari ke sekolah orang tapi aku mengerti itulah manusia kebanyakan berkesimpulan tanpa tahu asal muasalnya terlebih dahulu.
Waktu pelaksanaan lomba PMR di SMA 10 Makassar tinggal beberapa hari lagi. Aku yang mendampingi 4 kontingen (MTsN Wtp, SMA 2 Wtp, SMA 1 Patimpeng, dan MA Nusa Kahu) dari Bone mulai menyiapkan semua perlengkapan dan berencana berangkat terlebih dahulu. Kegiatan yang berlangsung tanggal 27 Juni sd. 1 Juli 2012 harus aku ikuti berhubung telah diamanahkan sekaligus tanggung jawabku selalu alumni MTsN Watampone dan SMADA Bone. Tapi akupun tidak bisa melewatkan kemahku dalam PRASTIDA (Pramuka Saka Bakti Husada) selaku tim kesehatan bersama Anggota SBH Cabang Bone dan Ranting Ulaweng di Taccipi (23 sd. 27 Juni) serta Ranting Amali di Taretta (24 sd. 29 Juni).
Setiba dari bone selatan aku langsung berkemas hendak berangkat ke lokasi perkemahan 17-an pramuka dan kebetulan aku mendapatkan tugas di perkemahan Amali. Motor yang belum cukup dingin kembali aku tancapkan berharap pembukaan kegiatan bisa aku hadiri. Dalam perjalanan aku mendapatkan telepon dari sahabatku (Farid) yang kebetulan juga mendaftar di ATKP Maros hendak ditemani ke Maros karena tanggal 28 harus mengikuti Tes Akademik disana dan akupun mengiyakan karena memang aku hendak berangkat tanggal 26.
Tak jauh kuberpacu dengan motor ini beserta mata bengkak akibat tidur yang tak terjaga akhirnya telepon berdering lagi dan ternyata sahabatku keluaran dari panti asuhan. Dia mengajakku ke Makassar hari itu juga untuk diantarkan ke BLKI (Balai Latihan Kerja Industri) Makassar berharap ingin mengasah keahliannya disana namun aku menolak karena masih ada kegiatan yang akan aku datangi dan memutuskan akan mengantarnya jika mau kalau aku percepat yaitu tanggal 25 begitupun dengan Farid sehingga bisa berangkat bersama.
Hal ini masih terbilang mudah karena sudah keseringan berjumpa dengan tabrakan jadwal dari berbagai organisasi yang aku jalani. Dan selalunya ada yang harus dikorbankan demi kelancaran kegiatan sesuai dengan tingkat kepentingan. Membagi waktu memang wajib untuk aku dan semua mereka yang penuh dengan kesibukan lakukan agar semua orang yang terdapat dalam lingkaran kehidupannya mendapat perhatian dan anggapan yang berarti kita akan selalu ada untuk berbagi kebahagiaan bersama mereka utamanya keluarga.
Alhamdulillah perjalanan yang cukup memakan waktu akhirnya aku sampai ke lokasi perkemahan di Taretta Amali. Aku pandangi sekeliling lapangan yang beberapa waktu lalu aku bertemu dengan Rara yang aku sayangi dalam sebuah perkemahan palang merah. Riang gembira kesana kemari angin rindu terlintas dihadapanku senantiasa membangkitkan ingatanku tentang Rara. Tatapanku yang penuh kehampaan seketika bayangan Rara yang datang menghampiriku dikawal oleh angin rindu membuat bibirku tersenyum akan kedamaian yang aku rasakan disaat Rara kian hadir walau hanya sekedar dalam ingatan.
Rara Oh Rara. Aku tidak mengerti semua yang aku alami selalunya tak jauh dari dirimu yang kian selalu membangkitkan rasa cintaku padamu. Ataukah semua ini merupakan sebuah kebetulan semata yang Tuhan percikkan kepadaku untuk sedikit merasakan bahagia dan menikmati keindahan sosokmu yang begitu luar biasa dimataku. Tapi kenapa harus sesering ini kebetulan yang terjadi dalam setiap apa yang aku jalani dan kenapa juga hanya aku yang merasakan ini, lantas bagaiman denganmu ?
Hari itu aku jalani dengan hanya bertanya-tanya kenapa dan kenapa mesti aku yang mengalami semua ini yang dirundung cinta kepada seseorang yang sedikitpun tak punya rasa untukku. Akupun mengirimkan pesan singkat kepadanya berharap sedikit mendapat jawaban darinya tentang banyaknya tanda tanya dihatiku.
“Masih ingatkah kamu dengan Taretta ?. Dalam SMSku.
Tempat dimana aku dipertemukan denganmu untuk kali ketiga. Saat aku mulai menumbuhkan sayang kepadamu dan kali pertama menyentuh tangan indahmu itu. Tapi sayang beribu sayang sedikitpun aku tidak mendapatkan respon darimu hingga detik ini juga. Yang terbersit dibenakku bahwa aku masih bersyukur dengan semua yang terbentang dihadapanku karena aku dan kamu masih berada diatas bumi dan dibawah langit yang sama. Dan semoga semua itu kelak bertahan hingga hatiku dan hatimu kian satu dan berada dijalur kehidupan yang sama. Amin
Malam pun tiba, aku memutuskan kembali dari lokasi perkemahan untuk mengemas barang-barangku berhubung keesokan harinya sudah kepingin berangkat ke Makassar. Sungguh berat aku meninggalkan teman-teman yang bertugas di lapangan namun apa daya aku harus pergi ke kegiatan lain dan demi memenuhi janji sudah aku putuskan. Karena ada kepentingan mendadak Farid berangkat terlebih dahulu sehingga aku berangkat ke Makassar hanya bersama kedua orang temanku yangdari keluaran Panti Asuhan.
Carrier 80 Liter kian memeluk erat dan melekat dipunggungku, kini kami berangkat dengan harapan aku bisa tinggal hingga tanggal 1 di lokasi lomba PMR di SMA 10 Makassar. Bermodalkan uang Rp. 80.000,- aku beranikan diri terjun ke Makassar karena aku juga punya pertemuan tenaga penyuluh kesehatan se-sulawesi selatan akhir bulan juni sekaligus terima honorarium sehingga sangat berharap dari pertemuan ini.
Keberangkatanku tak terkendala sedikitpun karena lindungan Allah SWT serta iringin angin rindu membelai lembut perjalananku yang membuat semangat menggegu-gebu terus mencengkeram tubuh ini. Berat tasku tak begitu terasa aku selempang karena lantunan musik pun turut membakar semangatku, berharap ke Makassar bisa bertemu dengan Rara yang alamatnya aku belum ketahui. Farid yang telah sampai ke Maros mendahului kami menelpon untuk singgah dirumahnya di Batangase yang merupakan setitik cerah untuk kami karena tengah mendapat tawaran tempat menginap pula yang sebelumnya tidak kami pikirkan.
Tak begitu lama akhirnya sampai juga ke Maros. Aku dan kedua orang temanku telah dinanti oleh Farid tepat depan gerbang ATKP Maros, yang menunjukkan tempat dia akan melaksanakan tes beberapa hari lagi. Senyumku meresponnya yang dia tak pernah tahu bahwa besar rasa iriku padanya yang kelak akan bertemu langsung dengan Rara. Kami pun bergegas istirahat, shalat dan makan siang berharap pukul 14.00 bisa berangkat kembali menuju Makassar ke Lokasi BLKI yang katanya di belakang Taman Makam Pahlawan.
Hanya berhitung menit kami telah tiba depan BLKI yang lucunya karena ternyata pendaftaran sudah lewat bahkan pengumuman ujian sudah ada tertempel di papan informasi. Hembusan napas kekecewaan tergambar diwajahnya ketika menancapkan pandangannya terhadapku. Aku yang merasa tergelitik dengan suasana dan raut wajah mereka, tiba-tiba tertawa lebar karena jauh-jauh dari Bone hanya untuk mendapatkan kenyataan yang memilukan seperti ini. Iseng-iseng menelpon salah satu nomor HP yang terpajang di Baliho depan BLKI seketika mendapat secercah harapan karena jurusan Las Bubuk yang mereka inginkan ternyata masih membutuhkan tenaga kurang lebih 5 orang dan mereka pun mengisi 2 diantaranya. Namun sialnya tak satupun berkas mereka bawa tanpa ijazah, kk, ataupun tanda identitas lainnya.
Mesjid pun kini menjadi tempat kami beristirahat sampai setelah shalat magrib sekaligus memutar pikiran karena tinggal berkas yang belum ada. Dengan berbagai konflik pikiranpun terjadi tapi akhirnya di rumah masing-masing menyanggupi untuk mengirimkan berkasnya keesokan hari membuat malam itu terasa begitu berpihak pada kami dan wujud kebahagiaan itu seketika meloncat riang gembira atas gerbang kesuksesan telah tergambarkan dipelupuk mata kedua orang sahabatku, Mastang dan Rizal.
Waktu menunjukkan 19.30 saat selesai melaksanakan shalat isya berjama’ah. Angin rindu kian mengacungkan jempolnya untuk kebersamaan kami, rasa lapar pun tak menjadi perhatian lagi seiring kebahagiaan yang meliputi kami saat itu meski sejujurnya aku sangat kelelahan dan lapar namun apa daya harus irit ditengah keadaan kantongku yang semakin menipis. Kami pun tidak ingin kebahagiaan malam itu berjalan singkat maka diputuskan untuk melanjutkan perjalanan menyaksikan indahnya keramaian Malam di Kota Makassar.
Berawal dari bertamu ketempat kerja salah seorang keluaran Panti Asuhan juga di Pettarani, pisang goreng Nugget. Kemudian ke Tanjung Bunga melewati anggunnya gedung-gedung yang berbaris menyambut kedatangan kami dari kampung. Dan setelah mondar-mandir kesana kemari melewati banyaknya tanda larangan akhirnya sampai juga ke Pantai Losari yang katanya mereka baru kali pertama menyaksikannya secara langsung. Akupun mengindahkan ungkapan mereka karena memang dulu aku memiliki kebanggaan yang sama ketika bisa menginjakkan kaki di kota daeng nan indah permai.
Diriku tergoda dengan panggilan angin rindu menuju tepi laut nan sepoi malam itu menikmati indahnya ciptaan Allah SWT yang tiada duanya mengingatkanku kepada keindahan yang Allah juga anugerahkan untuk sosok Rara. Dalam diamku aku kembali memperjelas ingatanku dan memperhatikan Wallpaper HP yang terpampang jelas wajah cantik itu membuat suasana hati semakin bahagia dan damai. Akupun mengirim pesan singkat kepadanya berharap Rara masih belum terlelap dalam tidurnya dan menemaniku dimalam yang begitu indah ini, seketika diatas getaran gelombang air laut aku memejamkan mata dan meresapi kehangatan rangkulan angin rindu yang senantiasa membisikkan nama Rara yang semakin membuatku rindu kepadanya.
Kantuk mulai membuyarkan konsentrasiku, waktu menunjukkan 01.25 dini hari saat kutinggalkan malam itu tanpa balasan pesan dari Rara yang mungkin sudah terlelap dalam tidurnya. Ra, selamat beristirahat ya aku disini akan tetap menanti dirimu walau tak pasti kau mengharapkanku hadir dihidupmu. Have a nice dream, I miss you.
Tanpa banyak komentar kami berlarian diudara berharap sampai kerumah Farid dengan segera. Motor yang aku kendarai pun turut berpacu dengan sisa tenaga yang dimiliki, tetap setia membawaku meski kelelahan yang luar biasa tengah melanda. Malam yang begitu luar biasa melelahkanku terus mendekam dibilik angin rindu dengan sebuah perasaan yang tak ada duanya.
Pagi yang indah dengan suara gemuruh pesawat yang melintas diatas rumah Farid membuat terbangun dan kami bergegas berangkat ke Mesjid untuk berbenah diri. Maklumlah rumah yang telah lama ditinggalkan penghuninya tak menyisakan air untuk keperluan mandi, masak, dll. Ginilah ternyata kehidupan jauh dari orang tua dan kampung sanak saudara yang segala sesuatunya tidak berada pada koridor kehidupan yang dipikirkan.
Dengan Carrier yang masih setia mendekap dan menemaniku kini kembali mencengkeram erat dipundak ini menuju lokasi tujuan kedua yaitu SMAN 10 Makassar di Jln. Tamangapa Raya No. 10. Lokasi lomba Palang Merah Remaja Se-Sulawesi Selatan. Aku yang mendampingi 4 sekolah dari Bone terlebih dahulu ke Lokasi untuk mengambil tempat kemah yang telah di kapling. Pusing hendak kemana membuatku pulang balik kesana kemari untuk menanyakan keberadaan letak Smapoel. Lucunya aku kehilangan jejak, tak tahu entah dimana dan terlihat sepi. Aku kagetnya minta ampun, pulsa habis tak tersisa dan tak ada yang bisa aku hubungi untuk memberi sejenak harapan untukku.
Memang susah kalau orang baru, mana lagi bensin motorku udah sekarat. Bermodalkan keberanian bertanya meski banyak mendapatkan tawa dari orang lain tapi akhirnya titik terang sudah menyambutku disaat jln. Tamangapa Raya udah didepan mata. Allah Maha segalanya dengan apa yang aku alami, tak henti-hentinya menuntunku dalam jalan yang salah dan akhirnya Pertamina juga udah ketemu. Perasaan tak percaya dan penuh rasa berat menyaksikan dompetku hanya bersisakan uang Rp.16.000 sedangkan kegiatan di Smapoel belum dimulai. Hari ini masih tanggal 26 Juni aku menghabiskan Rp. 10.000 lagi uangku membeli bahan bakar.
Pikirku tak dangkal karena aku berharap akan datang adik-adik dari Bone yang mungkin bisa meminjamkan sedikit uangnya untukku, apalagi akan ada pertemuan akhir bulan untukku menerima Honor selaku Tenaga Penyuluh Kesehatan Tingkat Prov. Sulsel. Kelegaan dalam hati mulai mengantarku kembali berlaju menuju Lokasi. Hingga malam pun tiba, Carrier yang mulai tersentuh dinginnya angin rindu tak kunjung mengecilkan kobaran semangat yang berharap beberapa hari lagi akan bertemu dengan Rara dalam rangka Tes Akademiknya di ATKP Maros. Semua ketakutan hilang yang awalnya bermunculan karena segala bekal yang aku bawa kini mulai sekarat disaat kegiatan di Makassar baru akan dimulai.
Carrier yang tersandar lemas bercumbu dengan motorku diparkiran Smapoel yang menemaniku menunggu kontingen SMAN 2 Bone. Bayangan perjuangan seharian penuh belum ada apa-apanya dan mengingatkanku betapa beratnya hidup ini yang setia dengan sebuah penantian yang tak pasti. Sosok Rara yang tak sedikitpun memberikan umpan balik atas sinyal cinta yang aku berikan. Mata dan hatiku kian bertengkar hebat saat dirimu hadir walau hanya dalam bayangan semata. Mata terus menghardik hatiku ketika Rara lebih dekat dihatiku ketimbang mata yang jarang menyaksikan keindahan sosok Rara dalam dunia yang nyata. Sinaran Lampu Bus Megah menyilaukan mataku bertuliskan Identitas dari Bone, bergegas kugambarkan senyum hangat menyambut mereka yang datang dari jauh seraya melupakan rintihan perut yang seharian tak pernah mengisi bahan bakar.
Tanpa pikir panjang kusapa satu persatu dan membantu mengosongkan Bus. Setelah kapling selesai terbagi, kamipun mendirikan tenda untuk peristirahatan malam itu. Detik-detik berdirinya tenda dengan kokoh, aku berharap sedikit merebahkan tubuh akan kelelahanku namun apalah daya kontingen MTsN Watampone pun telah menurunkan personilnya yang tak bisa aku biarkan bekerja tanpaku. Alasannya karena aku terlahir dari organisasi PMR MTsN Watampone.
Malam yang cukup panjang dengan semangat teman-teman dari Bone sedikit menghilangkan kegalauanku malam ini. Aku tak tahu harus mendahulukan mana dalam pikiranku, tapi yang jelas saat ini aku sungguh kelelahan dan membutuhkan sedikit makanan untuk mengantar kepembaringanku. Rara bolehkah sejenak aku mengistirahatkan pikiranku akan dirimu ? Tapi jangan jauh-jauh tetaplah menjagaku karena aku tak tahu apakah hari esok disaat aku membuka mata ini aku masih sebagai sosok pengangum atau sebagai seonggok mayat.
Angin rindu pun meneteskan air matanya untukku malam itu, malam disaat aku hanya membiarkan tubuhku semakin rapuh dengan kebodohanku yang hanya bisa diam dalam situasi yang membuatku lemah dan semakin terpuruk. Aku terdiam karena takut merepotkan teman-teman, aku sadari disini aku hanya sebagai Bina Damping untuk kalian. Tak lebih dari itu, tak pantas membuat repot kalian yang mempunyai jadwal lomba masing-masing.
Dengan sisa tenaga aku menyapu air mata Angin Rindu, dan membangkitkannya dengan keyakinan bahwa diriku akan baik-baik saja. Cukup dia membisikkan dalam setiap celah-celah mimpiku bahwa Rara masih menjagaku dalam ingatan ini.
Lelah masih memanjakanku dalam pembaringan yang tersinari oleh Matahari pagi. Ya Allah, maafkan aku melewatkan satu lagi kewajibanku tapi kenapa juga engkau masih memberiku napas dan hidup ini. Aku sering lalai ya Allah, kini aku bagai sebuah Angin Lampa (ALAM) yang terombang ambing entah kemana. Hanya kepadamu aku bergantung dan berpegang teguh. Terima kasih ya Allah atas semua karunia dan kesempatan ini. Angin Rindu oh Angin Rindu, kamu dimana ? aku sudah terbangun dari kelelahanku. Apakah kau membawa Rara lari yang tak ada disaat pikiranku mulai terbuka ?
Riuh-riuhan peserta lomba sejenak meramaikan hatiku yang sedang dilanda kegundahan. Apa yang harus aku lakukan besok ketika hendak bertemu dengan sosok Rara yang Asli. Dengan sisa tenaga akhirnya makanan pun terhidangkan diiringi kekangan hawa panas di dalam tenda kami.
Inilah aku yang selalu tak pernah bisa tenang saat berkegiatan. Mondar mandir untuk menyaksikan semua yang ada berharap bisa menjadi pelajaran berharga. Takutnya nanti tidak punya kesempatan lagi untuk menyaksikan semua yang Allah tengah hamparkan dihadapan kita. Akulah orang yang paling takut mati, takut mati tanpa berguna terlebih dahulu untuk keluarga dan orang lain, takut mati dalam keadaan sekarat Iman dan miskin Ilmu. Karena aku tahu amalku tak mungkin dikerjakan oleh orang lain maka selalu kumanfaatkan waktuku untuk semua itu dengan sedikit menuruti kemauan katiku akan hasrat cintanya kepada sosok wanita idaman.
Hari yang cukup padat mengantarkan kami kembali bersemangat, ditambah lagi kedatangan kontingen dari SMAN 1 Patimpeng dan MA Nusa Kahu yang menambah kekuatan dan kobaran semangat Wija to Bone dalam berkreasi dan berkarya dalam ajang lomba kepalangmerahan.
Tanpa ada unsur memihak sekolah dari 4 kontingen kabupaten Bone aku berusaha membagi waktu agar mereka semua bisa merasakan setetes manfaat akan kehadiranku ditengah-tengah mereka walau hanya sedetik. Tak lupa turut bersamaku angin rindu yang menjagaku dari banyaknya intaian cinta yang dangkal adanya. Aku yang kebetulan dipercayakan bernaun dan bertandang dikemah SMADA Bone turut menjaga rasa persaudaraan yang tinggi dengan tidak sedikitpun membebankan diriku kepada mereka. Satu kesalahanku yang paling fatal karena selalu diam sehingga mereka pun pusing akan apa yang aku inginkan karena mereka masih begitu asing dimataku, tapi aku sih enjoy aja yang penting bisa berbagi dan ada bersama mereka itu lebih dari cukup.
Satu hal yang membuatku begitu kecewa hari itu, disaat kekeringan kantongku sudah menjadi-jadi datanglah salah seorang pembina memberiku uang jajan katanya. Kegembiraan hatiku bukan main, dan tiba disaat kedatangan kontingen dari SMAN 1 Patimpeng aku pun bergegas membantu sebagai wujud sambutanku dan keramahanku selaku teman, kakak dan sahabatnya. Mengawali dengan meminta adik-adik dari SMADA Bone untuk menyajikan apa adanya untuk menyambut mereka, maka aku mempersilahkan untuk beristirahat sejenak kedalam tenda. 5 Menit berlalu dan tak sedikitpun wujud solidaritas dari adik-adik SMADA Bone membuatku malu setengah hidup, bergegaslah aku mencari jajanan untuk menutupi rasa malu dihadapan mereka. Mengorbankan semua uang yang diberikan pembina karena jumlah mereka yang cukup banyak, tanpa pikir panjang aku ludeskan semua berharap mereka senang dan merasa bahwa mereka bagian dari kami disini. Semangatku untuk kedatangan mereka dengan gendongan jajanan itu, ternyata tak disambut oleh mereka. Mereka malah pergi bepergian keluar dari tenda mungkin wujud kejengkelannya atau apalah terhadap perlakuan adik-adik SMADA. Tak satupun jajanan itu mereka sentuh, aku yang tercengang dengan kejadian ini hanya bisa menelan pil pahit.
Tawa kecut aku gambarkan ditubuh yang rapuh ini. Rara ???#@#%$* Apakah kamu melihat perlakuan mereka kepadaku ? saat ini aku butuh dirimu untuk sedetikpun menenangkan suasana hatiku yang tidak tahu harus berbuat apa. Yang ada dalam pikiranku hanyalah diam dan diam. Dan itulah yang senantiasa kupersembahkan kepada adik-adik dikala bertemu atau berpapasan dengannya. Salahkah aku ? Jadi aku harus bagaimana ? Hanya dengan jiwa solidaritas tinggi akan amanah yang aku emban kupersembahkan bingkisan tenaga untuk mereka. Tanpa sedikitpun membedakan satu sama lain. Hal ini sepercik aku ceritakan kepada Kak Anas (Seniorku di SBH) untuk mengakrabkan diriku waktu itu yang datang mengunjungi kami.
Sore yang begitu terik, kerongkongan yang amat kering layaknya cacing kepanasan merongrongku mencari air namun galon air pun kering rupanya. Aku masih sayang diriku yang masih dalam penantian maka kubelanjakan lagi sisa uangku demi membasahi sedikit organ-organku. Penyesalan pun muncul dengan menghardik kesalahan kepada diriku yang mementingkan diri, padahal besok Rara akan melaksanakan Tes Akademiknya yang mesti aku hadiri. Semalaman aku pusing memikirkan harus meminjam uang dari siapa biar punya modal berangkat menuju jalur Cinta yang telah digambarkan oleh Angin Rindu.
Diriku yang masih betah dengan diamku terhadap mereka, tak henti-hentinya menampakkan kegengsian. Aku tak bisa tertidur malam itu, kumenyendiri dibelakang lokasi perkemahan untuk berpikir positif bahwa aku harus menyampingkan gengsiku demi keinginanku menemui Rara di ATKP Maros. Angin Rindu hanya bertopang dagu dan menggerakkan bahunya seraya tidak tahu menahu harus bagaimana. Dari balik kegelapan malam aku menyaksikan sebuah sosok menghampiriku. Ternyata Kak Anas yang hendak pamit untuk pulang kerumah kostnya. Diujung genggaman tangannya dia membuatku menggelengkan kepala meneteskan air mata haru. Betapa tidak, orang yang begitu terbatas hidupnya hidup dikota orang masih peduli denganku yang terbilang bukan siapa-siapa dimatanya.
Sekali lagi sebuah harapan yang tak pernah kunjung putus menghampiriku untuk bertemu denganmu Rara. Tunggu aku ya Ra, aku akan kembali meyakinkanmu tentang adanya aku disini yang selalu menantimu walau aku tahu kau tak pasti membalas hasratku. Kantuk ternyata merobohkan haru itu, yang mengantarku untuk langsung berangkat menuju rumah Farid. Aku bermimpi saat dimana aku berkunjung kerumahnya memperkenalkanku dengan orang tuanya begitupun sebaliknya. Saling berbagi canda tawa, duduk bersama menyaksikan sunset kerinduan. Beliau yang akan melangsungkan Tes Akademik keesokan paginya, maka aku berangkat malam ini dengan bingkisan cinderamata yang masih aku simpan sewaktu dari kegiatan kemah digorontalo.
Farid menertawakanku sewaktu bertandang kerumahnya. Seorang Salama yang biasanya membuat cewek tergila-gila kini malah mengila-gilai cewek yang sedikitpun dia belum tahu asal usulnya. Hingga pagi pun tiba aku bergegas bangkit ketika ada telepon dari pembina untuk mendampingi adik-adik sewaktu ikut tehnical meeting salah satu lomba pukul 08.00. Ini amanah yang harus aku laksanakan karena memang tujuanku mendampingi adik-adik, berat hati akhirnya aku memutuskan hanya menitipkan kado untuk Rara. Ucapan terima kasih yang aku ukirkan didalamnya karena telah hadir dan mengisi hari-hariku yang indah akan ingatanku tentangnya. Farid yang cukup antusias pun mengiyakan untuk membantuku dengan diawali beberapa menit bermohon-mohon kepadanya, mungkin karena wajah keseriusanku membuatnya mampu memberanikan diri melaksanakan sesuatu yang tidak pernah dilakukan sebelumnya yaitu memberi kado untuk seorang cewek, Rara. Terima kasih sahabatku Farid, sampaikan kepadanya Aku sangat menyayanginya. Aku sungguh jatuh cinta padanya.
Mata bengkak terlingkarkan sapuan kehitaman tanda kurang tidur. Kondisi itu yang aku bawa ke Lokasi lomba, adik-adik yang sudah menungguku segera membawaku keruangan pertemuan. Hingga pertemuan usai tak satupun yang singgah dipikiranku, karena yang ada hanya Rara yang tidak sempat aku temui. Apalagi dalam keadaanku yang cukup dekil dan bau karena kanker yang menjalar tidak memungkinkan bertemu dengannya. Hanya titipan itu yang akan mewakili untaian bisikan lirih hatiku yang terus menanti dalam ketidakpastian.
Aku begitu heran dengan sikapku sendiri dalam kegiatan ini, yang biasanya selalu menjaga stylish dihadapan orang banyak kini bermasa bodoh. Mungkin karena tak adanya bekal yang aku punya tanpa sabun mandi, tanpa pasta gigi, pokoknya serba salah karena juga besar wujud rasa kegengsianku minjam sana sini. Oh Tuhan, aku tak mengeluh kok dengan keadaan ini karena aku tahu semua karang hidup ini akan menempaku menjadi lebih matang.
Hari ketiga dalam lokasi perkemahan tak membuatku terpuruk dengan situasiku, mulai mengakrabkan dengan adik-adik di SMADA Bone. Beda halnya dengan MTsN Watampone yang memang sudah begitu akrab bahkan panggilan Ayah kian melekat untukku. Bermula perkemahan di Amali anak MTsN mulai banyak memanggilku dengan sebutan Ayah karena memang aku banyak menghabiskan waktu dengannya hingga kini.
Tanyanya ibunya mana ? Keseringan mereka menyelinapkan canda dalam kebersamaan kami dengan penuh kegembiraan. Jawabku hanya sebuah penantian yang tak pasti. Aku yang terbilang tidak mau tunduk dengan keseriusan terkadang hanya tertawa lebar dengan menunjuk salah seorang diantara mereka.
Betapa tidak senyum itu, kerlingan mata itu, membuat setiap lelaki yang memandang bakalan kelepek-kelepek jadinya. Tahu nggak sih aku sayang sama kamu. Kenapa sampai detik respon itu belum juga menjalar dan mengalir dari relung hatimu.
Pagi yang cerah gemerincing embun menetes dibahuku saat aku mulai melangkah kaki menuju lapang padang savana indah. Kicau burung merpati terdengar bah lagu merdu nan syahdu dalam pagiku diawal bulan Juli. Seraya sejenak melepas penat dalam pikiran dan hati kecil ini yang terus teringat akan keindahan sosok wanita cantik itu. Terus menggali dan bersembunyi di dalam relung hatiku menguak tabir brangkas hati ini dalam keindahan dan kedamaian. Layaknya racun yang terus merangkak kecelah-celah otakku membuat dirinya terus terbayang meski kesakitan terkadang bergejolak dalam batin akan semua perlakuannya terhadapku. Memang benar kata orang bugis dalam deretan lagunya kebanyakan mengungkapkan “peddi nalawa pappoji”, seberkas gambaran kisah cinta titisan nenek moyang dari tana ugi to Bone.
Hari ini, aku akan mulai menyegarkan kembali pikiran yang terbilang penuh akan aktivitas. Selain itu, seraya menenangkan hati dan pikiran menanti bulan suci Ramadhan yang sudah terbilang beberapa hari lagi. Tak jarang aku merenung dengan semua sinyal yang engkau telah berikan. Perjumpaan pertama aku memang masih begitu asing dimatamu, kerlingan mata indah itu seraya memberi sinyal tentang diriku yang begitu hitam pekat dan dekil maka dengan perjumpaan saat itu aku memulai merawat dan menjaga tubuh ini sehingga volume paparan sinar matahari mulai dikurangi dan jadwal kesibukan mulai dipress. Semua itu aku lakukan sekedar ingin sedikit mendapat perhatianmu ketika berjumpa lagi entah kapan dan dimana.
Ketika perjumpaan kedua di Tonra masih ingat nggak ?? Tak sedikitpun kau menoreh kepadaku mungkin karena diriku yang masih kurang indah dimatamu. Ya aku masih begitu kurus kerempeng, OK akupun berpikir ini tantangan untukku kelak aku akan berjumpa denganmu saat dimana aku tidak seperti ini lagi.
Akupun berpulang dengan tekad keras bukti kesungguhanku kepadamu. Keseharian yang terus kujalani membuatku sedikit jenuh karena tidak adanya kabar tentangmu. Terlarut dalam kesibukan seraya sosokmu sejenak beristirahat dalam pikiran ini. Hidupku begitu indah karena pelangi kehidupan masih berpihak kepadaku mewarnai lika-liku keseharianku diatas permadani kerinduan.
Kali ketiga kujumpa dalam sebuah bumi perkemahan, awalnya kusudah merenggangkan pikiran ini tentangmu karena kecil harapan untuk memilikimu. Namun, ketegangan kembali muncul seketika disaat sinyal tentangmu hadir dihamparan tanah lapang menggetarkan seluruh relung jiwaku. Pancaran wajah itu, menyilaukan pandangan angin rindu yang kian menemaniku dan membisikku tentang keberadaanmu dari kejauhan sana. Sungguh berat langkah kaki ini ketika menuju kearahmu. Sambutan senyum hangat dari bibirmu serasa memelukku dalam kehangatannya. Saat itu juga kumulai kembali merapatkan brangkas hati ini yang kian longgar, kerut dahi terbersit diujung pandanganmu itu terlihat masih tersimpan kejanggalan terhadapku. Ya, mungkin tentang penampilanku yang begitu standar, katro, ndesoo. Akupun tersenyum kecut seraya berusaha introspeksi diri tentang sebersit keminusanku.
Lega rasanya selepas penat teringat akan dia yang menjadi sumber cinta yang terselubung dalam kerinduan tertanam dalam hati. Yang sedikitpun aku tak pernah tahu entah kapan akan terkucurkan kemuka bumi. Dirimu yang begitu stylish menjadikanku bertolak ukur untuk minimal menginginkan setara denganmu ketika bertemu dipersimpangan jalan atau entah dimana saja. Teramat lucu ya, hanya berawal dari sebuah nama kini tumbuh menjadi rasa yang luar biasa. Kian mengembara tak kenal lelah untuk tahu semua tentangmu hingga tak menyadari bahwa dirimu membawa perubahan yang begitu berharga dalam langkahku. Aku mulai lebih tampil agak beda yang lebih mendewasakanku, semua ini aku lakukan bukan semata karenamu karena aku tahu dirimu belum meresponku. Aku takut kelak akan jatuh terhempas kekecewaan yang mendalam membuat kesesalan akan perubahanku. Aku seperti ini karena dunia, mungkin sudah saatnya aku belajar tentang kejamnya dunia diluar sana yang akan mengeleminasi mereka yang bermasa bodoh akan hidup.
Tiada tara rintikan kebahagiaan membasahi tubuh ini kelak perjumpaan keempat tiba. Masih ingatkah dirimu ? saat aku mulai sombong akan diriku sekarang ini. Mulai mampu membusungkan dada rata ini. Angin rindu lebih cekatan menjemputmu diujung permadani kerinduanku, getaran bumi begitu jelas terasa seketika kau langkahkan kaki itu. Oh Tuhan, aku orang yang tak mudah jatuh cinta tapi kenapa engkau menganugerahkan sebuah cinta yang begitu berat untukku mencapainya. Namun, aku tidak ingin larut dengan semua keluh kesahku karena akan semakin membuatku lemah tak berdaya. Kuhampiri dengan penuh percaya diri, keraguan dihati yang semula memanjakanku kini kian hilang seketika tanpa menyisahkan jejak tatkala kerinduan merongrong tubuh ini menuju ke hadapan Rara. Terjadi untuk kesekian kalinya Rara hanya sekejap menoreh kepadaku sekedar melempar senyuman dan sibuk dengan para sahabatnya.
Ingin kuberteriak,
“Raraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...........!!!!!!!”
“I’m coming for you, but you never translate my heart. Why..?”
Akhirnya hanya berimbas pada tangisan angin rindu memelukku atas beban kesakitan yang kian tertumpuk dipundakku. Kini salama sudah bukanlah yang dulu, air mata itu sudah kering dan nggak ada yang bisa ditumpahkan lagi, jiwa yang lemah itu kini tengah menjelma menjadi kekuatan bagiku.
Salahkah aku ??
Kini aku sudah tidak terlalu hitam pekat dan dekil lagi.
Kini tubuh yang hina ini tidak lagi kerempeng seperti katamu.
Pandanglah aku ini penampilanku yang baru untuk sekedar terlihat setara denganmu. Apa yang salah ?
Mungkinkah karena diriku yang terlalu ketuaan dimatamu dengan fashionku dan posturku yang sekarang agak tembem. Ok ok ok ok kalau itu salah dimatamu, aku akan berusaha untuk menurun berat badanku hingga kau puas akan diriku. Aku tidak pernah mengeluh kok cuman jelasin letak salahku dimana ? Tapi toh sampai detik ini hanya diam tanpa kata yang kau kirimkan dalam surat kalengmu itu.
Berulangkali kuyakinkan cinta ini kepadamu Ra. Namun entah mengapa kau terus mengacuhkan dan menghancurkan sebongkah harapanku kepadamu. Dan andai kau tahu cara yang telah kutempuh demi mendapatkan utuhnya hatimu, hingga kupertaruhkan sang waktu yang melayaniku siang dan malam tak kenal lelah untuk bercerita tentang keindahanmu.
Semenjak saat itu, dirimu layaknya debu yang diterbangkan angin. Hilang dan tak sedikitpun menengokku yang tersungkur dan terjatuh dibelakangmu. Terseduh-seduh dalam pelukan angin rindu, mendekam di balik jeruji kegalauan terus mengurung kebebasan hati ini. Rara, aku tahu kamu orang yang super sibuk dengan semua kegiatanmu itu. Tolong berbaliklah kepadaku yang kian membayangimu dibawah paparan sinar matadunia yang menyilaukan setiap makhluk bernyawa. Tapi aku yakinkan dirimu Rara, aku kan melindungi keindahanmu itu darinya karena aku tidak inginkan dirimu luntur dari semua jiwa yang aku impikan untuk aku miliki.
Untaian maaf sebesar gunung kuhaturkan kepadamu, aku yang menyanyangimu tak mampu menjabat tangan itu saat hari bahagiamu diusia 18 tahun, tepatnya 23 Juni 2012. Betapa tidak sabtu pagi aku telah mendatangi kediamanmu di polsek Lamuru tapi ternyata Raranya ada di Makassar yang aku tidak tahu karena diammu itu yang maknanya belum mampu aku tafsirkan. Bingkisan angin rindu yang aku titip untukmu sudah cukup mengobati kekecewaanku hari itu yang kian merasuk ke celah-celah sel tubuh ini yang haus akan hempasan kerinduan kepadamu wahai Rara. Hembusan napas lega kini yang hanya bisa aku kantongi berpulang dari kediamanmu itu, akupun tak mau memaparkan wajah kegalauan ini yang masih punya kegiatan pelatihan palang merah di SMAN 1 Patimpeng dan MA Nusa Kahu.
Malam minggu ini nggak jauh beda dengan malam-malam sebelumnya, diriku yang senantiasa dilanda rintikan kecewa yang luar biasa menyita luka di hatiku yang tak pernah punya waktu untuk sembuh.
“Hoooeee...!! Magasiki tuh kak, kok melamun sendiri entar kesambet loh. Punya masalah ya ?” Tegur salah seorang adik PMR yang terbilang membuatku jengkel karena udah dibuat kaget.
“Hemmm. Nggak kok cuman kecapean aja dik” Jawabku cuek.
Aku hendak menuju tempat pembaringan saat hp sedang berdering yang aku tidak pedulikan karena nggak ada mood ngebalas sms. Dengan terpaksa pesan singkat pun aku buka dan terpampang nama Ratna Dwi Junarti. Kericuhan dalam hati kini bersorak bahagia karena telah mendapat balasan pesan darinya.
“Kak kita yang bawa kado kerumah ?” Tanyanya penuh keheranan.
“Hah ? Kado ?” Jawabku jengkel. Kenapa juga engkau baru datang saat kusudah terjatuh terlalu dalam dan nggak bisa bangkit secepat membalikkan telapak tangan.
“Alla, kakak toh yang bawa kado kerumah dan nitipin di kantor. Terima kasih nah kak. Ih kak aku merasa berat loh nggak sempat bilang terima kasih secara langsung” Sambungnya.
“Iye. Tidak masalah dinda. Malah aku yang minta maaf karena nggak sempat menjabat tangan itu” Haturku dan tiba-tiba menjadi riang gembira.
Senyumku bersama angin rindu terhempas ke angkasa luas. Betapa hatiku dirundung kebahagiaan yang mendamaikanku. Inikah cinta yang dianugerahkan kepadaku atau hanyalah kibasan nafsu syaitan ? Hatiku terus bergejolak penuh konflik yang memilukan ketika banyak dari mereka yang menganggapku gila dan cintaku masih kekanakan dan cinta monyet katanya. Namun tetap saja hatiku terus mengencangkan sabuk cinta yang menjaga brangkas hati ini tetap terjaga dan tertancap gagah dan kokoh didalam sana. Walaupun hanya sekilas teringat tentangnya, tapi amarah itu kian meleleh layaknya es kutub selatan antartika terbakar kobaran cinta yang membara dan lambat laun kian menjalarkan akarnya sehingga semakin kuat yang memang telah ada sejak dulu, kini, dan nanti bahkan insyaallah sampai jiwa raga saling melambaikan tangan menuju sang khaliq.
Kembali teringat di malam tahun baru 2012 saat aku menjadi sang kajao La Tenritappu atau selaku pembawa acara bersama 3 orang senior yang terbilang usia begitu jauh sehingga kurang klop gitu aktingnya. Lucunya karena aku susah ngebentak-bentak kok malah disuruh akting dan apalagi sama senior yang sedikitpun tidak ada kerelaan untuk menghilangkan sikap seganku padanya. Kucluk, ya itulah nama samaran seniorku itu, memang sih wajahnya culun dan konyol sehingga bawaannya kepingin ketawa terus. Bebanku yang tertumpuk dipundak saat itu terasa sedikit mereka turunkan, namun 2 beban pikiran yang terus teringat malam itu yaitu aku batalkan ikut tahun baru di puncak gunung bawakaraeng dan keceriaan Kak Mardi di puncak gunung Lamuru sana bersama para siswanya. Tentu saja Rara bersama mereka, karena saat itu kemungkinan besar kegiatan terakhirnya sebelum menghadapi UAN/UAS.
Aku iri dengan semua orang di sekitar Rara yang bisa saling berbagi canda tawa dan seru-seruan. Malam tahun baru itu kuhanya mampu meledakkan semua beban dalam sebuah duo vokal berkolaborasi bersama vokalis La Tenritappu Institut dalam sebuah lagu bugis berjudul “Sajang Rennu”.
“Awi.. Teri peddi atikku, uitamu tudang botting. Teppasengmu tekkareba nalere wae matakku naulleku tapakkua. Kegani maka utiwi sajang rennu atikku, eloqku sedding ro mate natea lao nyawaku,” Lantunan indah suaranya menggema memekakkan gendang telinga para tamu undangan.
“Awi.. Aga kasi ulleku eloqna indo amboqku. Marilaleng kasi peddiku turusi maneng eloqna, iyaqna tiwi peddiqna. Kobaja sangadie engka jeraq baru kuburuq tenri bungai, iyaqnatu ri lalenna.” Balasku yang sok tidak mau kalah padahal suaranya fals. He he he.
“Awi.. Teri peddi atikku, uitamu tudang botting. Teppasengmu tekkareba magi mulesseri janci mutarona sajang rennu. Kegani maka utiwi sajang rennu atikku, nataro kasi peddiqku naulleku tapakkua.” Lanjutnya yang membuatku semakin terlarut dalam irama lagu.
Iringan tepuk tangan mengantarkan aku menutup kegiatan malam itu dengan penuh kebanggaan. Kagum plus tanda tanya besar pun terlintas dibenak para senior terhadap penampilanku dipenghujung acara, karena aku yang terbilang baru dalam organisasi ini dan merupakan kali pertama tampil dipanggung pentas tiba-tiba berlaga layaknya artis profesional. Aku yang terdiam dan hanya tersenyum bangga disaat ucapan selamat berdatangan dari segala arah atas kesuksesan acara malam itu. Selaku sang kajao cadangan aku masih merasa berat karena banyak kekakuan yang tampak ketika diatas panggung yang tak jarang membuat para senior menggelengkan kepalanya namun penampilanku dalam duo vokal yang tidak pernah aku sangka begitu aku hayati mendalam seraya aku diposisi yang sebenarnya.
Betapa tidak, selama 2 bulan aku dilatih untuk menyanyikan lagu ini namun mereka hanya selalu berucap terserah aku saja yang penting ada. Aku sih fine-fine aja karena memang dari awal aku menginginkan orang lain tapi apa daya inilah amanah maka kujalani meski agak risih karena tidak pernah dialami sebelumnya.
Tahu nggak apa yang terlintas saat menyanyikan lagu itu ??
Rara. Ya Rara. Siapa lagi kalau bukan dia, aku menghayati lagu layaknya benar-benar terjadi dalam hidupku atau sebaliknya. Ketika cinta harus dikorbankan demi orang tua dan tidak bisa dipungkiri ini sering terjadi dalam kehidupan cinta manusia yang harus berakhir ditangan pilot (pilihan orang tua). Sedikitpun aku tidak menginginkan itu karena aku dan semua orang tahu bahwa hidup itu hanya sekali dan bagiku pasangan hidup juga satu untuk selamanya sehingga harus teliti. Dan semua kegagalan cinta yang aku alami biarlah menjadi pernak-pernik kehidupan yang akan menghiasi padang pembahagiaanku kelak insyaallah bersama dengan wanita yang mendamaikanku, Rara.
Berbicara tentang pilot nih, Rara tuh mendaftarkan dirinya disekolah penerbangan ATKP Maros. Kebayang aja dirinya juga bakalan tergait oleh seorang pilot yang tak jauh dari profesinya di jurusan Lalu Lintas Udara maklumlah Rara itu baik, cerdas, dan rame orangnya. Aku tuh orangnya terbilang udah termakan kebiasaan mengandai-andai kali ya sampai-sampai mengandai terlalu jauh seperti itu, selalunya terus mengandai-andai yang sebagian orang pikir itu hal yang tidak baik. Rara memang belum dinyatakan lulus dalam sebuah universitas atau sekolah tinggi lainnya namun aku yakin bahwa dia kelak menjadi kebanggaan bagi semua orang. Amin. Namun bagiku sepeti apapun Rara, dia akan tetap jadi kebanggaanku kini dan nanti.
Ingatanku terbuyarkan terhentak kantuk dalam perjalan pulang dari petualangan melintasi bone barat - bone selatan ketika memberi pelatihan palang merah dalam rangka kegiatan lomba di SMA 10 Makassar yang akan menunggu laga mereka. Inilah yang membuatku turut bertahan dalam palang merah, semangat muda yang sedikit demi sedikit terkobarkan untuk berkibarnya jiwa kemanusiaan disetiap hati mereka.
Palang merah merupakan organisasi yang paling aku cintai karena aku terlahir darinya. Aku yang sekarang tidak mungkin mampu berdiri tegak menghadapi kerasnya batu karang kehidupan dan derasnya ombak yang terus menerpa tubuh rapuh ini tanpa pondasi kuat yang aku dapatkan dalam organisasi. Kata mereka tentangku bahwa diriku yang dulunya berawal dari pemalu dan pendiam kini mulai sedikit demi sedikit berbunyi layaknya jangkrik belanda. Ya itu ada benarnya tapi tetap aja sifat asliku tidak bisa terhapuskan, hanya pada orang yang aku kenali atau para sahabat aku sering berbagi canda tawa dan saling menjahili kala waktu senggang. Tapi untuk mereka yang baru kenal atau hanya sesekali bertemu hanya akan mendapatiku bertopeng jutek dengan jubah kediaman. Kebanyakan mereka yang baru kali pertama mengenalku berkesan menganggapku kejam, sangar, dan pemarah karena tampak dari raut wajah ini yang terbilang sangat Jutek dan memang boros kelihatannya yang muka tidak sesuai dengan umur. Seperti apapun kata mereka tapi inilah aku dan kehidupan yang aku jalani membuat pengaruh besar serta kekangan beban hidup juga yang tergambarkan diraut wajah ini. Tak banyak yang tahu tentangku tapi cukup tatap mata ini untuk merasakan dahsyatnya gelombang kehidupan yang telah dan akan kulewati.
Baik buruknya kesan utama memang selalu tertancap dipikiran setiap manusia sehingga aku memberi kesan yang jutek karena memang kurang lebih sifatku seperti itu dan aku malas terlalu akrab apalagi dalam perkemahan. Terlalu akrab bisa menimbulkan kekerabatan yang kuat, takut akhirnya muncul sikap kepemilikan satu sama lain yang berujung pada kepedihan saat hari perpisahan tiba. Cukuplah kami saling mengenal dan berinteraksi seadanya serta saling melempar senyuman bukti keramahan dalam palang merah.
Tak jarang aku ditanyai tentang kegiatan kemahku kesana kemari, dari sekolah yang satu ke sekolah yang lain tentunya banyak kenalan juga utamanya cewek-cewek cantik. Jawabku ya tapi tidak kalau kenalan, karena dalam waktu berkemah aku hanya sesekali berinteraksi dengan panitia ataupun peserta karena sifat pemaluku yang masih begitu mendekam saat ingin berucap dan diriku yang terkadang minder. Aku yang mulai ikut sejak kelas 1 SMA selalunya mendapatkan anggapan playboy karena aktif kesana kemari ke sekolah orang tapi aku mengerti itulah manusia kebanyakan berkesimpulan tanpa tahu asal muasalnya terlebih dahulu.
Waktu pelaksanaan lomba PMR di SMA 10 Makassar tinggal beberapa hari lagi. Aku yang mendampingi 4 kontingen (MTsN Wtp, SMA 2 Wtp, SMA 1 Patimpeng, dan MA Nusa Kahu) dari Bone mulai menyiapkan semua perlengkapan dan berencana berangkat terlebih dahulu. Kegiatan yang berlangsung tanggal 27 Juni sd. 1 Juli 2012 harus aku ikuti berhubung telah diamanahkan sekaligus tanggung jawabku selalu alumni MTsN Watampone dan SMADA Bone. Tapi akupun tidak bisa melewatkan kemahku dalam PRASTIDA (Pramuka Saka Bakti Husada) selaku tim kesehatan bersama Anggota SBH Cabang Bone dan Ranting Ulaweng di Taccipi (23 sd. 27 Juni) serta Ranting Amali di Taretta (24 sd. 29 Juni).
Setiba dari bone selatan aku langsung berkemas hendak berangkat ke lokasi perkemahan 17-an pramuka dan kebetulan aku mendapatkan tugas di perkemahan Amali. Motor yang belum cukup dingin kembali aku tancapkan berharap pembukaan kegiatan bisa aku hadiri. Dalam perjalanan aku mendapatkan telepon dari sahabatku (Farid) yang kebetulan juga mendaftar di ATKP Maros hendak ditemani ke Maros karena tanggal 28 harus mengikuti Tes Akademik disana dan akupun mengiyakan karena memang aku hendak berangkat tanggal 26.
Tak jauh kuberpacu dengan motor ini beserta mata bengkak akibat tidur yang tak terjaga akhirnya telepon berdering lagi dan ternyata sahabatku keluaran dari panti asuhan. Dia mengajakku ke Makassar hari itu juga untuk diantarkan ke BLKI (Balai Latihan Kerja Industri) Makassar berharap ingin mengasah keahliannya disana namun aku menolak karena masih ada kegiatan yang akan aku datangi dan memutuskan akan mengantarnya jika mau kalau aku percepat yaitu tanggal 25 begitupun dengan Farid sehingga bisa berangkat bersama.
Hal ini masih terbilang mudah karena sudah keseringan berjumpa dengan tabrakan jadwal dari berbagai organisasi yang aku jalani. Dan selalunya ada yang harus dikorbankan demi kelancaran kegiatan sesuai dengan tingkat kepentingan. Membagi waktu memang wajib untuk aku dan semua mereka yang penuh dengan kesibukan lakukan agar semua orang yang terdapat dalam lingkaran kehidupannya mendapat perhatian dan anggapan yang berarti kita akan selalu ada untuk berbagi kebahagiaan bersama mereka utamanya keluarga.
Alhamdulillah perjalanan yang cukup memakan waktu akhirnya aku sampai ke lokasi perkemahan di Taretta Amali. Aku pandangi sekeliling lapangan yang beberapa waktu lalu aku bertemu dengan Rara yang aku sayangi dalam sebuah perkemahan palang merah. Riang gembira kesana kemari angin rindu terlintas dihadapanku senantiasa membangkitkan ingatanku tentang Rara. Tatapanku yang penuh kehampaan seketika bayangan Rara yang datang menghampiriku dikawal oleh angin rindu membuat bibirku tersenyum akan kedamaian yang aku rasakan disaat Rara kian hadir walau hanya sekedar dalam ingatan.
Rara Oh Rara. Aku tidak mengerti semua yang aku alami selalunya tak jauh dari dirimu yang kian selalu membangkitkan rasa cintaku padamu. Ataukah semua ini merupakan sebuah kebetulan semata yang Tuhan percikkan kepadaku untuk sedikit merasakan bahagia dan menikmati keindahan sosokmu yang begitu luar biasa dimataku. Tapi kenapa harus sesering ini kebetulan yang terjadi dalam setiap apa yang aku jalani dan kenapa juga hanya aku yang merasakan ini, lantas bagaiman denganmu ?
Hari itu aku jalani dengan hanya bertanya-tanya kenapa dan kenapa mesti aku yang mengalami semua ini yang dirundung cinta kepada seseorang yang sedikitpun tak punya rasa untukku. Akupun mengirimkan pesan singkat kepadanya berharap sedikit mendapat jawaban darinya tentang banyaknya tanda tanya dihatiku.
“Masih ingatkah kamu dengan Taretta ?. Dalam SMSku.
Tempat dimana aku dipertemukan denganmu untuk kali ketiga. Saat aku mulai menumbuhkan sayang kepadamu dan kali pertama menyentuh tangan indahmu itu. Tapi sayang beribu sayang sedikitpun aku tidak mendapatkan respon darimu hingga detik ini juga. Yang terbersit dibenakku bahwa aku masih bersyukur dengan semua yang terbentang dihadapanku karena aku dan kamu masih berada diatas bumi dan dibawah langit yang sama. Dan semoga semua itu kelak bertahan hingga hatiku dan hatimu kian satu dan berada dijalur kehidupan yang sama. Amin
Malam pun tiba, aku memutuskan kembali dari lokasi perkemahan untuk mengemas barang-barangku berhubung keesokan harinya sudah kepingin berangkat ke Makassar. Sungguh berat aku meninggalkan teman-teman yang bertugas di lapangan namun apa daya aku harus pergi ke kegiatan lain dan demi memenuhi janji sudah aku putuskan. Karena ada kepentingan mendadak Farid berangkat terlebih dahulu sehingga aku berangkat ke Makassar hanya bersama kedua orang temanku yangdari keluaran Panti Asuhan.
Carrier 80 Liter kian memeluk erat dan melekat dipunggungku, kini kami berangkat dengan harapan aku bisa tinggal hingga tanggal 1 di lokasi lomba PMR di SMA 10 Makassar. Bermodalkan uang Rp. 80.000,- aku beranikan diri terjun ke Makassar karena aku juga punya pertemuan tenaga penyuluh kesehatan se-sulawesi selatan akhir bulan juni sekaligus terima honorarium sehingga sangat berharap dari pertemuan ini.
Keberangkatanku tak terkendala sedikitpun karena lindungan Allah SWT serta iringin angin rindu membelai lembut perjalananku yang membuat semangat menggegu-gebu terus mencengkeram tubuh ini. Berat tasku tak begitu terasa aku selempang karena lantunan musik pun turut membakar semangatku, berharap ke Makassar bisa bertemu dengan Rara yang alamatnya aku belum ketahui. Farid yang telah sampai ke Maros mendahului kami menelpon untuk singgah dirumahnya di Batangase yang merupakan setitik cerah untuk kami karena tengah mendapat tawaran tempat menginap pula yang sebelumnya tidak kami pikirkan.
Tak begitu lama akhirnya sampai juga ke Maros. Aku dan kedua orang temanku telah dinanti oleh Farid tepat depan gerbang ATKP Maros, yang menunjukkan tempat dia akan melaksanakan tes beberapa hari lagi. Senyumku meresponnya yang dia tak pernah tahu bahwa besar rasa iriku padanya yang kelak akan bertemu langsung dengan Rara. Kami pun bergegas istirahat, shalat dan makan siang berharap pukul 14.00 bisa berangkat kembali menuju Makassar ke Lokasi BLKI yang katanya di belakang Taman Makam Pahlawan.
Hanya berhitung menit kami telah tiba depan BLKI yang lucunya karena ternyata pendaftaran sudah lewat bahkan pengumuman ujian sudah ada tertempel di papan informasi. Hembusan napas kekecewaan tergambar diwajahnya ketika menancapkan pandangannya terhadapku. Aku yang merasa tergelitik dengan suasana dan raut wajah mereka, tiba-tiba tertawa lebar karena jauh-jauh dari Bone hanya untuk mendapatkan kenyataan yang memilukan seperti ini. Iseng-iseng menelpon salah satu nomor HP yang terpajang di Baliho depan BLKI seketika mendapat secercah harapan karena jurusan Las Bubuk yang mereka inginkan ternyata masih membutuhkan tenaga kurang lebih 5 orang dan mereka pun mengisi 2 diantaranya. Namun sialnya tak satupun berkas mereka bawa tanpa ijazah, kk, ataupun tanda identitas lainnya.
Mesjid pun kini menjadi tempat kami beristirahat sampai setelah shalat magrib sekaligus memutar pikiran karena tinggal berkas yang belum ada. Dengan berbagai konflik pikiranpun terjadi tapi akhirnya di rumah masing-masing menyanggupi untuk mengirimkan berkasnya keesokan hari membuat malam itu terasa begitu berpihak pada kami dan wujud kebahagiaan itu seketika meloncat riang gembira atas gerbang kesuksesan telah tergambarkan dipelupuk mata kedua orang sahabatku, Mastang dan Rizal.
Waktu menunjukkan 19.30 saat selesai melaksanakan shalat isya berjama’ah. Angin rindu kian mengacungkan jempolnya untuk kebersamaan kami, rasa lapar pun tak menjadi perhatian lagi seiring kebahagiaan yang meliputi kami saat itu meski sejujurnya aku sangat kelelahan dan lapar namun apa daya harus irit ditengah keadaan kantongku yang semakin menipis. Kami pun tidak ingin kebahagiaan malam itu berjalan singkat maka diputuskan untuk melanjutkan perjalanan menyaksikan indahnya keramaian Malam di Kota Makassar.
Berawal dari bertamu ketempat kerja salah seorang keluaran Panti Asuhan juga di Pettarani, pisang goreng Nugget. Kemudian ke Tanjung Bunga melewati anggunnya gedung-gedung yang berbaris menyambut kedatangan kami dari kampung. Dan setelah mondar-mandir kesana kemari melewati banyaknya tanda larangan akhirnya sampai juga ke Pantai Losari yang katanya mereka baru kali pertama menyaksikannya secara langsung. Akupun mengindahkan ungkapan mereka karena memang dulu aku memiliki kebanggaan yang sama ketika bisa menginjakkan kaki di kota daeng nan indah permai.
Diriku tergoda dengan panggilan angin rindu menuju tepi laut nan sepoi malam itu menikmati indahnya ciptaan Allah SWT yang tiada duanya mengingatkanku kepada keindahan yang Allah juga anugerahkan untuk sosok Rara. Dalam diamku aku kembali memperjelas ingatanku dan memperhatikan Wallpaper HP yang terpampang jelas wajah cantik itu membuat suasana hati semakin bahagia dan damai. Akupun mengirim pesan singkat kepadanya berharap Rara masih belum terlelap dalam tidurnya dan menemaniku dimalam yang begitu indah ini, seketika diatas getaran gelombang air laut aku memejamkan mata dan meresapi kehangatan rangkulan angin rindu yang senantiasa membisikkan nama Rara yang semakin membuatku rindu kepadanya.
Kantuk mulai membuyarkan konsentrasiku, waktu menunjukkan 01.25 dini hari saat kutinggalkan malam itu tanpa balasan pesan dari Rara yang mungkin sudah terlelap dalam tidurnya. Ra, selamat beristirahat ya aku disini akan tetap menanti dirimu walau tak pasti kau mengharapkanku hadir dihidupmu. Have a nice dream, I miss you.
Tanpa banyak komentar kami berlarian diudara berharap sampai kerumah Farid dengan segera. Motor yang aku kendarai pun turut berpacu dengan sisa tenaga yang dimiliki, tetap setia membawaku meski kelelahan yang luar biasa tengah melanda. Malam yang begitu luar biasa melelahkanku terus mendekam dibilik angin rindu dengan sebuah perasaan yang tak ada duanya.
Pagi yang indah dengan suara gemuruh pesawat yang melintas diatas rumah Farid membuat terbangun dan kami bergegas berangkat ke Mesjid untuk berbenah diri. Maklumlah rumah yang telah lama ditinggalkan penghuninya tak menyisakan air untuk keperluan mandi, masak, dll. Ginilah ternyata kehidupan jauh dari orang tua dan kampung sanak saudara yang segala sesuatunya tidak berada pada koridor kehidupan yang dipikirkan.
Dengan Carrier yang masih setia mendekap dan menemaniku kini kembali mencengkeram erat dipundak ini menuju lokasi tujuan kedua yaitu SMAN 10 Makassar di Jln. Tamangapa Raya No. 10. Lokasi lomba Palang Merah Remaja Se-Sulawesi Selatan. Aku yang mendampingi 4 sekolah dari Bone terlebih dahulu ke Lokasi untuk mengambil tempat kemah yang telah di kapling. Pusing hendak kemana membuatku pulang balik kesana kemari untuk menanyakan keberadaan letak Smapoel. Lucunya aku kehilangan jejak, tak tahu entah dimana dan terlihat sepi. Aku kagetnya minta ampun, pulsa habis tak tersisa dan tak ada yang bisa aku hubungi untuk memberi sejenak harapan untukku.
Memang susah kalau orang baru, mana lagi bensin motorku udah sekarat. Bermodalkan keberanian bertanya meski banyak mendapatkan tawa dari orang lain tapi akhirnya titik terang sudah menyambutku disaat jln. Tamangapa Raya udah didepan mata. Allah Maha segalanya dengan apa yang aku alami, tak henti-hentinya menuntunku dalam jalan yang salah dan akhirnya Pertamina juga udah ketemu. Perasaan tak percaya dan penuh rasa berat menyaksikan dompetku hanya bersisakan uang Rp.16.000 sedangkan kegiatan di Smapoel belum dimulai. Hari ini masih tanggal 26 Juni aku menghabiskan Rp. 10.000 lagi uangku membeli bahan bakar.
Pikirku tak dangkal karena aku berharap akan datang adik-adik dari Bone yang mungkin bisa meminjamkan sedikit uangnya untukku, apalagi akan ada pertemuan akhir bulan untukku menerima Honor selaku Tenaga Penyuluh Kesehatan Tingkat Prov. Sulsel. Kelegaan dalam hati mulai mengantarku kembali berlaju menuju Lokasi. Hingga malam pun tiba, Carrier yang mulai tersentuh dinginnya angin rindu tak kunjung mengecilkan kobaran semangat yang berharap beberapa hari lagi akan bertemu dengan Rara dalam rangka Tes Akademiknya di ATKP Maros. Semua ketakutan hilang yang awalnya bermunculan karena segala bekal yang aku bawa kini mulai sekarat disaat kegiatan di Makassar baru akan dimulai.
Carrier yang tersandar lemas bercumbu dengan motorku diparkiran Smapoel yang menemaniku menunggu kontingen SMAN 2 Bone. Bayangan perjuangan seharian penuh belum ada apa-apanya dan mengingatkanku betapa beratnya hidup ini yang setia dengan sebuah penantian yang tak pasti. Sosok Rara yang tak sedikitpun memberikan umpan balik atas sinyal cinta yang aku berikan. Mata dan hatiku kian bertengkar hebat saat dirimu hadir walau hanya dalam bayangan semata. Mata terus menghardik hatiku ketika Rara lebih dekat dihatiku ketimbang mata yang jarang menyaksikan keindahan sosok Rara dalam dunia yang nyata. Sinaran Lampu Bus Megah menyilaukan mataku bertuliskan Identitas dari Bone, bergegas kugambarkan senyum hangat menyambut mereka yang datang dari jauh seraya melupakan rintihan perut yang seharian tak pernah mengisi bahan bakar.
Tanpa pikir panjang kusapa satu persatu dan membantu mengosongkan Bus. Setelah kapling selesai terbagi, kamipun mendirikan tenda untuk peristirahatan malam itu. Detik-detik berdirinya tenda dengan kokoh, aku berharap sedikit merebahkan tubuh akan kelelahanku namun apalah daya kontingen MTsN Watampone pun telah menurunkan personilnya yang tak bisa aku biarkan bekerja tanpaku. Alasannya karena aku terlahir dari organisasi PMR MTsN Watampone.
Malam yang cukup panjang dengan semangat teman-teman dari Bone sedikit menghilangkan kegalauanku malam ini. Aku tak tahu harus mendahulukan mana dalam pikiranku, tapi yang jelas saat ini aku sungguh kelelahan dan membutuhkan sedikit makanan untuk mengantar kepembaringanku. Rara bolehkah sejenak aku mengistirahatkan pikiranku akan dirimu ? Tapi jangan jauh-jauh tetaplah menjagaku karena aku tak tahu apakah hari esok disaat aku membuka mata ini aku masih sebagai sosok pengangum atau sebagai seonggok mayat.
Angin rindu pun meneteskan air matanya untukku malam itu, malam disaat aku hanya membiarkan tubuhku semakin rapuh dengan kebodohanku yang hanya bisa diam dalam situasi yang membuatku lemah dan semakin terpuruk. Aku terdiam karena takut merepotkan teman-teman, aku sadari disini aku hanya sebagai Bina Damping untuk kalian. Tak lebih dari itu, tak pantas membuat repot kalian yang mempunyai jadwal lomba masing-masing.
Dengan sisa tenaga aku menyapu air mata Angin Rindu, dan membangkitkannya dengan keyakinan bahwa diriku akan baik-baik saja. Cukup dia membisikkan dalam setiap celah-celah mimpiku bahwa Rara masih menjagaku dalam ingatan ini.
Lelah masih memanjakanku dalam pembaringan yang tersinari oleh Matahari pagi. Ya Allah, maafkan aku melewatkan satu lagi kewajibanku tapi kenapa juga engkau masih memberiku napas dan hidup ini. Aku sering lalai ya Allah, kini aku bagai sebuah Angin Lampa (ALAM) yang terombang ambing entah kemana. Hanya kepadamu aku bergantung dan berpegang teguh. Terima kasih ya Allah atas semua karunia dan kesempatan ini. Angin Rindu oh Angin Rindu, kamu dimana ? aku sudah terbangun dari kelelahanku. Apakah kau membawa Rara lari yang tak ada disaat pikiranku mulai terbuka ?
Riuh-riuhan peserta lomba sejenak meramaikan hatiku yang sedang dilanda kegundahan. Apa yang harus aku lakukan besok ketika hendak bertemu dengan sosok Rara yang Asli. Dengan sisa tenaga akhirnya makanan pun terhidangkan diiringi kekangan hawa panas di dalam tenda kami.
Inilah aku yang selalu tak pernah bisa tenang saat berkegiatan. Mondar mandir untuk menyaksikan semua yang ada berharap bisa menjadi pelajaran berharga. Takutnya nanti tidak punya kesempatan lagi untuk menyaksikan semua yang Allah tengah hamparkan dihadapan kita. Akulah orang yang paling takut mati, takut mati tanpa berguna terlebih dahulu untuk keluarga dan orang lain, takut mati dalam keadaan sekarat Iman dan miskin Ilmu. Karena aku tahu amalku tak mungkin dikerjakan oleh orang lain maka selalu kumanfaatkan waktuku untuk semua itu dengan sedikit menuruti kemauan katiku akan hasrat cintanya kepada sosok wanita idaman.
Hari yang cukup padat mengantarkan kami kembali bersemangat, ditambah lagi kedatangan kontingen dari SMAN 1 Patimpeng dan MA Nusa Kahu yang menambah kekuatan dan kobaran semangat Wija to Bone dalam berkreasi dan berkarya dalam ajang lomba kepalangmerahan.
Tanpa ada unsur memihak sekolah dari 4 kontingen kabupaten Bone aku berusaha membagi waktu agar mereka semua bisa merasakan setetes manfaat akan kehadiranku ditengah-tengah mereka walau hanya sedetik. Tak lupa turut bersamaku angin rindu yang menjagaku dari banyaknya intaian cinta yang dangkal adanya. Aku yang kebetulan dipercayakan bernaun dan bertandang dikemah SMADA Bone turut menjaga rasa persaudaraan yang tinggi dengan tidak sedikitpun membebankan diriku kepada mereka. Satu kesalahanku yang paling fatal karena selalu diam sehingga mereka pun pusing akan apa yang aku inginkan karena mereka masih begitu asing dimataku, tapi aku sih enjoy aja yang penting bisa berbagi dan ada bersama mereka itu lebih dari cukup.
Satu hal yang membuatku begitu kecewa hari itu, disaat kekeringan kantongku sudah menjadi-jadi datanglah salah seorang pembina memberiku uang jajan katanya. Kegembiraan hatiku bukan main, dan tiba disaat kedatangan kontingen dari SMAN 1 Patimpeng aku pun bergegas membantu sebagai wujud sambutanku dan keramahanku selaku teman, kakak dan sahabatnya. Mengawali dengan meminta adik-adik dari SMADA Bone untuk menyajikan apa adanya untuk menyambut mereka, maka aku mempersilahkan untuk beristirahat sejenak kedalam tenda. 5 Menit berlalu dan tak sedikitpun wujud solidaritas dari adik-adik SMADA Bone membuatku malu setengah hidup, bergegaslah aku mencari jajanan untuk menutupi rasa malu dihadapan mereka. Mengorbankan semua uang yang diberikan pembina karena jumlah mereka yang cukup banyak, tanpa pikir panjang aku ludeskan semua berharap mereka senang dan merasa bahwa mereka bagian dari kami disini. Semangatku untuk kedatangan mereka dengan gendongan jajanan itu, ternyata tak disambut oleh mereka. Mereka malah pergi bepergian keluar dari tenda mungkin wujud kejengkelannya atau apalah terhadap perlakuan adik-adik SMADA. Tak satupun jajanan itu mereka sentuh, aku yang tercengang dengan kejadian ini hanya bisa menelan pil pahit.
Tawa kecut aku gambarkan ditubuh yang rapuh ini. Rara ???#@#%$* Apakah kamu melihat perlakuan mereka kepadaku ? saat ini aku butuh dirimu untuk sedetikpun menenangkan suasana hatiku yang tidak tahu harus berbuat apa. Yang ada dalam pikiranku hanyalah diam dan diam. Dan itulah yang senantiasa kupersembahkan kepada adik-adik dikala bertemu atau berpapasan dengannya. Salahkah aku ? Jadi aku harus bagaimana ? Hanya dengan jiwa solidaritas tinggi akan amanah yang aku emban kupersembahkan bingkisan tenaga untuk mereka. Tanpa sedikitpun membedakan satu sama lain. Hal ini sepercik aku ceritakan kepada Kak Anas (Seniorku di SBH) untuk mengakrabkan diriku waktu itu yang datang mengunjungi kami.
Sore yang begitu terik, kerongkongan yang amat kering layaknya cacing kepanasan merongrongku mencari air namun galon air pun kering rupanya. Aku masih sayang diriku yang masih dalam penantian maka kubelanjakan lagi sisa uangku demi membasahi sedikit organ-organku. Penyesalan pun muncul dengan menghardik kesalahan kepada diriku yang mementingkan diri, padahal besok Rara akan melaksanakan Tes Akademiknya yang mesti aku hadiri. Semalaman aku pusing memikirkan harus meminjam uang dari siapa biar punya modal berangkat menuju jalur Cinta yang telah digambarkan oleh Angin Rindu.
Diriku yang masih betah dengan diamku terhadap mereka, tak henti-hentinya menampakkan kegengsian. Aku tak bisa tertidur malam itu, kumenyendiri dibelakang lokasi perkemahan untuk berpikir positif bahwa aku harus menyampingkan gengsiku demi keinginanku menemui Rara di ATKP Maros. Angin Rindu hanya bertopang dagu dan menggerakkan bahunya seraya tidak tahu menahu harus bagaimana. Dari balik kegelapan malam aku menyaksikan sebuah sosok menghampiriku. Ternyata Kak Anas yang hendak pamit untuk pulang kerumah kostnya. Diujung genggaman tangannya dia membuatku menggelengkan kepala meneteskan air mata haru. Betapa tidak, orang yang begitu terbatas hidupnya hidup dikota orang masih peduli denganku yang terbilang bukan siapa-siapa dimatanya.
Sekali lagi sebuah harapan yang tak pernah kunjung putus menghampiriku untuk bertemu denganmu Rara. Tunggu aku ya Ra, aku akan kembali meyakinkanmu tentang adanya aku disini yang selalu menantimu walau aku tahu kau tak pasti membalas hasratku. Kantuk ternyata merobohkan haru itu, yang mengantarku untuk langsung berangkat menuju rumah Farid. Aku bermimpi saat dimana aku berkunjung kerumahnya memperkenalkanku dengan orang tuanya begitupun sebaliknya. Saling berbagi canda tawa, duduk bersama menyaksikan sunset kerinduan. Beliau yang akan melangsungkan Tes Akademik keesokan paginya, maka aku berangkat malam ini dengan bingkisan cinderamata yang masih aku simpan sewaktu dari kegiatan kemah digorontalo.
Farid menertawakanku sewaktu bertandang kerumahnya. Seorang Salama yang biasanya membuat cewek tergila-gila kini malah mengila-gilai cewek yang sedikitpun dia belum tahu asal usulnya. Hingga pagi pun tiba aku bergegas bangkit ketika ada telepon dari pembina untuk mendampingi adik-adik sewaktu ikut tehnical meeting salah satu lomba pukul 08.00. Ini amanah yang harus aku laksanakan karena memang tujuanku mendampingi adik-adik, berat hati akhirnya aku memutuskan hanya menitipkan kado untuk Rara. Ucapan terima kasih yang aku ukirkan didalamnya karena telah hadir dan mengisi hari-hariku yang indah akan ingatanku tentangnya. Farid yang cukup antusias pun mengiyakan untuk membantuku dengan diawali beberapa menit bermohon-mohon kepadanya, mungkin karena wajah keseriusanku membuatnya mampu memberanikan diri melaksanakan sesuatu yang tidak pernah dilakukan sebelumnya yaitu memberi kado untuk seorang cewek, Rara. Terima kasih sahabatku Farid, sampaikan kepadanya Aku sangat menyayanginya. Aku sungguh jatuh cinta padanya.
Mata bengkak terlingkarkan sapuan kehitaman tanda kurang tidur. Kondisi itu yang aku bawa ke Lokasi lomba, adik-adik yang sudah menungguku segera membawaku keruangan pertemuan. Hingga pertemuan usai tak satupun yang singgah dipikiranku, karena yang ada hanya Rara yang tidak sempat aku temui. Apalagi dalam keadaanku yang cukup dekil dan bau karena kanker yang menjalar tidak memungkinkan bertemu dengannya. Hanya titipan itu yang akan mewakili untaian bisikan lirih hatiku yang terus menanti dalam ketidakpastian.
Aku begitu heran dengan sikapku sendiri dalam kegiatan ini, yang biasanya selalu menjaga stylish dihadapan orang banyak kini bermasa bodoh. Mungkin karena tak adanya bekal yang aku punya tanpa sabun mandi, tanpa pasta gigi, pokoknya serba salah karena juga besar wujud rasa kegengsianku minjam sana sini. Oh Tuhan, aku tak mengeluh kok dengan keadaan ini karena aku tahu semua karang hidup ini akan menempaku menjadi lebih matang.
Hari ketiga dalam lokasi perkemahan tak membuatku terpuruk dengan situasiku, mulai mengakrabkan dengan adik-adik di SMADA Bone. Beda halnya dengan MTsN Watampone yang memang sudah begitu akrab bahkan panggilan Ayah kian melekat untukku. Bermula perkemahan di Amali anak MTsN mulai banyak memanggilku dengan sebutan Ayah karena memang aku banyak menghabiskan waktu dengannya hingga kini.
Tanyanya ibunya mana ? Keseringan mereka menyelinapkan canda dalam kebersamaan kami dengan penuh kegembiraan. Jawabku hanya sebuah penantian yang tak pasti. Aku yang terbilang tidak mau tunduk dengan keseriusan terkadang hanya tertawa lebar dengan menunjuk salah seorang diantara mereka.






3 komentar:
weis, mimisan saya membacanya sobat! kata-katanya sampai saya harus buka kamus buat ngertinya. saya tunggu part 3 nya. hehehe
oy, ntar saya salamin juga sama raraa.
SULHAM SYAHID
HE HE HE... thank you very much udah mampir sahabat..... eitzzzzs.. gk usah d.salamin sama rara ntar dia marah ksian,,,,.. lagian Z bakalan jadi pengagum seumur hidup aja kaly....^_^
Hahahaha. :)
oy, kamu sekarang dimana? lama banget ya, tidak pernah ketemu.
hmm, ane pengujung setiamu sob. uodate terus ya.
Posting Komentar